
"Kenapa diam saja. Ayo suapi aku?" Gio melebarkan senyumnya saat melihat Tiara cemberut.
Ah sepertinya ini obat yang mujarab! Gio tersenyum dengan smirknya.
"Bapak bisa makan sendiri! Yang sakit itu perut, tangan Bapak masih bisa digunakan!" ucap Tiara sambil menyerahkan mangkuk itu pada Gio. Dia berlalu pergi.
"Eh. Mau kemana?" Gio tak terima Tiara menolak perintahnya.
"Mau beresin dapur! Pancinya belum aku cuci!" dusta Tiara. Dia kemudian pergi dari ruangan itu.
Tiara menyandarkan dirinya di belakang pintu yang barusan ia tutup rapat. Hatinya berdesir melihat Gio yang bersikap seperti itu. Apa dia sedang berusaha manja kepadanya?
Akh Tidak! Memangnya aku siapanya dia Ingin manja-manja denganku? Dia hanya ingin mengerjaiku!
Tiara menepis semua fikiran tentang Gio. Dia memilih pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
Tak lama kemudian, Gio keluar dari kamarnya. Dia berjalan dengan perlahan, perut nya masih terasa sakit.
"Sudah enakan?" tanya Tiara.
"Hem!" Tiara memutar bola mata malas. Sepertinya dia harus melakban mulut bos nya saja. Lebih baik tidak bicara sama sekali daripada hanya menyahut ham-hem.
"Kalau begitu saya pulang ya. Sudah malam. Ibu takut nunggu." pamit Tiara. Dia mengambil tas yang berada di atas meja pantry.
"Oh iya, lupa! Ongkos taksi!" Tiara menadahkan tangannya pada Gio. Lalu dia cemberut saat Gio malah memberikannya mangkok kosong bekas bubur tadi.
"Aku minta ongkos taksi. Bukan mangkok kotor!" kesal Tiara.
"Cuci dulu mangkoknya. Aku akan ambil dompet." ucap Gio.
Tiara melebarkan senyumnya lalu mendekat ke arah wastafel, sementara Gio kembali ke kamar untuk mengambil dompet.
"Ini!" Gio menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribuan pada Tiara.
"Apa ini? Eh, Pak. Saya ini datang kesini pake taksi bukan angkot! Ongkos angkot kesini juga segitu masih kurang!" cerca Tiara. Masih kurang empat puluh tiga ribu lagi. Meski ia punya uang di dompetnya dia tidak mau rugi dengan mengeluarkan ongkos sekali lagi.
"Saya tidak punya uang cash. Kalau begitu ini saja!" Gio menyerahkan kartu lain pada Tiara.
"Itu kartu khusus untuk biaya transportasi kamu." tambah Gio.
Tiara melebarkan senyumnya, dia memikirkan berapa isi di dalamnya. Bolehkah aku pakai untuk weekend nanti? sekilas pemikiran itu terpintas di otak cantiknya yang mulai nakal.
"Hei-Hei. Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" tunjuk Gio di depan wajah Tiara yang terlihat mencurigakan. Tiara langsung mengubah raut wajahnya. Datar.
"Tidak ada! Memangnya kenapa kalau aku senyum-senyum. Aku bahagia sekarang karena aku tidak akan khawatir tidak bisa pulang pergi ke kantor karena tidak punya ongkos." Dia mengingat saat dirinya terpaksa meminta uang pada ibu.
"Eh. Ini boleh aku pakai ke kantor, atau cuma untuk datang kesini?" tanya Tiara pada Gio.
"Terserah!" ucap Gio.
Tiara kembali melebarkan senyumnya. Berarti boleh untuk...
Cih! Dia sudah menebaknya!
"Ya sudah. Aku pulang sekarang!" pamit Tiara.
Gio melihat jam di dinding, sudah hampir jam sepuluh malam.
"Aku yang akan antar!" ucap Gio.
"Bapak kan sedang sakit. Mana bisa bapak antar? sudah bapak diam saja istirahat, aku akan pulang pakai taksi!" ucap Tiara khawatir.
"Kamu itu wanita. Tidak pantas pulang malam-malam sendiri."
"Aku akan pulang pakai taksi."
"Tetap saja tidak aman. Apa kamu tidak takut kalau sopir taksi macam-macam sama kamu. Kamu itu wanita apa bisa membela diri?" ucap Gio.
"Ih bapak jangan nakutin-nakutin dong!"
"Saya tidak menakut-nakuti kamu. Ingat tidak berita bulan lalu?" tanya Gio. Tiara menggelengkan kepalanya. Dia tidak pernah lihat berita, baik itu tv atau koran.
"Bapak jangan ngaco, ah!"
"Siapa yang ngaco? Peduli saya kasih bukti? Sudah tunggu disini saya ambil jaket dan kunci!" Gio.pergi dari sana menuju kamarnya sambil tersenyum tipis.
Tiara terdiam, dia jadi parno sendiri. Ngeri lah siapa yang gak ngeri kalau di takut-takuti seperti itu.
Tiara dan Gio bari saja naik ke dalam mobil. Tiara melirik Gio. Dia merasa lega sepertinya pria itu sudah baikan. Buktinya bisa mengantarnya pulang.
"Bapak beneran gak sakit lagi tuh perut?" tanya Tiara.
"Sedikit!" jawab Gio, dia mulai melajukan mobilnya.
"Makanya kalau waktunya makan tuh makan. Jagan sok-sok'an kuat gak mau makan. Perut sakit siapa juga yang rasa? Siapa juga yang repot? Aku kan?!" tunjuk Tiara pada dirinya sendiri. Sudah dua kali dia harus datang ke apartemen hanya untuk mengurus Gio yang sakit karena penyakit lambungnya.
"Kalau begitu mulai besok kamu akan masak buat saya! Bawakan saya sarapan, bekal makan siang, dan setiap sore kamu akan masak di apartemen saya." Ucap Gio yang membuat Tiara menganga mulutnya.
Gila!!! Orang ini mau buat aku kurus!
"Bagaimana?" tanya Gio sambil menyeringai ke arah Tiara.
Tiara mengusap wajahnya kasar.
"Kalau bapak ingin seperti itu, cari saja istri yang bisa masak dan beres-beres di apartemen bapak! Kenapa selalu merepotkan aku sih?!" cerca Tiara kesal. Dia harus bangun jam berapa memasak untuk bosnya ini? Dia saja kadang makan lauk sarapan sisa dari jualan ibu yang sengaja tidak di bungkus untuk di jual.
"Kalau kamu yang jadi istriku saja, bagaimana?"
Tiara menatap Gio dengan terkejut.
Apa ini lamaran?