DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
268



Cantik sampai di kamarnya. Dia langsung merebahkan diri di atas ranjang.


Pertanyaan konyol macam apa tadi? Pantaskah seorang pria melamar bahkan di saat mereka baru beberapa kali bertemu? Dan apa itu tadi? membandingkan aku seperti wanita lain?


Dasar ber*ngsek! umpat Cantik di dalam hati.


****


Kalimantan.


Tiara menatap beberapa orang yang tengah berjalan di depannya. Ini hari minggu, dia dan Gio sedang melakukan jalan santai di sebuah taman, tentu saja dengan beberapa pengawal yang mengikuti mereka dari kejauhan. Bagaimanapun juga Gio tidak ingin terjadi apa-apa dengan dirinya terutama istrinya.


Tiara menatap kepada seorang gadis yang sedang mendorong kursi roda. Seorang wanita paruh baya seumuran ibunya sedang duduk tak berdaya di sana. Keduanya tersenyum senang, terlihat bahagia.


Tiara melihat keduanya, ada rasa bahagia, tapi juga ada rasa sedih di dalam hatinya. Sungguh gadis muda itu beruntung karena dia masih bisa mengurus orangtuanya, menemani di masa tuanya. Tidak seperti dirinya yang kini harus terpisah jarak dengan ibu. Dan lagi ... dia harus menitipkan ibu kepada Cantik.


Anak macam apa aku ini? Menitipkan ibu kepada orang lain.


Rasanya Tiara ingin menangis, tapi dia tahan, dia tidak mau membuat suaminya khawatir dan merasa bersalah. Namun, Gio bisa melihat raut wajah istrinya yang muram seperti itu, tapi Gio diam saja. Dia tahu jika dia berbicara pasti akan membuat Tiara merasa sedih dan tidak enak hati. Dari kelakuan Tiara, Gio sudah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh istrinya itu.


"Setelah ini kita mau ke mana lagi?" tanya Gio mengalihkan perhatian Tiara.


Tiara menolehkan kepalanya, "Kau mau ajak aku ke mana? Aku akan ikut ke mana pun kau pergi." Tiara tersenyum menatap ke arah Gio.


"Ah ... aku sebenarnya ingin pergi ke pasar, mungkin mengenang masa lalu dengan pergi ke pasar tradisional." Gio melipat kedua tangannya ke belakang kepala, dia menyandarkan dirinya pada sandaran bangku yang mereka duduki.


"Aku ingin makan ikan bakar buatanmu. Kita bakar ikan di taman belakang rumah. Bagaimana?" tanya Gio dengan menatap lurus ke arah lain.


"Siang-siang begini?" tanya Tiara bingung. Rasanya aneh membakar ikan di tengah terik matahari yang sebentar lagi pasti akan terasa panas.


"Iya. Memangnya kenapa? Apa ini aneh?" tanya Gio. Dia baru sadar jika rasanya yang dia katakan itu memang aneh. Membakar ikan di siang hari? OMG, bodohnya dia. Hanya itu yang bisa dia pikirkan sekarang.


"Tidak apa-apa. Baiklah, kalau kau mau membakar ikan di tengah siang begini, aku akan buatkan bumbunya untukmu, tapi aku tidak mau membakarnya. Panas!" seru Tiara sambil mencubit hidung suaminya. Tiara bangkit dan menarik tangan Gio untuk berdiri.


"Ayo kita pergi sekarang. Nanti siang keburu habis ikannya." Gio mengangguk, lalu mengikuti sang istri yang kini berjalan mendahuluinya.


Sampai di rumah. Gio dan Tiara segera menyiapkan apa yang mereka butuhkan untuk membakar ikan siang ini, tentunya dibantu beberapa maid yang ada disana. Sungguh ini hari yang sangat panas dan lagi Gio sangat ingin ikan bakar.


Ah ya sudah lah, bakar ikan juga gak akan lama, pikir Tiara.


Tiara mengambil bumbu dan juga beberapa alat lain, dia lebih senang untuk menghaluskan bumbu dengan menggunakan cobek. Beberapa maid yang ada disana menawarkan diri untuk membantu, tapi Tiara menolak. Baginya perut suaminya harus lah dia yang memberinya makan.


Maid yang ada di sana saling berbisik satu sama lain. Mereka sangat kagum dengan nona muda -istri dari tuannya- dengan cekatan menghaluskan bumbu dengan cepat. Sungguh nona yang mandiri dan juga istri idaman semua lelaki. Bisa masak dan juga tidak pernah terlihat manja.


Gio menggerakkan tangannya mengusir maid yang ada disana. "Kalian kembalilah dengan tugas kalian, jangan ganggu waktuku," ujar Gio. Para maid setia itu pun menundukkan kepalanya dan kemudian pergi ke tempat lain.


"Jangan kasar, Gio." Tiara memberi peringatan.


"Aku kasar bagaimana?" tanya Gio bingung.


"Itu tadi ucapan terakhirmu. Aku dengar kasar kepada mereka."


"Apa itu terdengar kasar?" tanya Gio lagi.


"Hem ... lain kali jangan bicara seperti itu lagi, jika kau ingin dihormati maka kau juga harus menghormati yang lain juga." Gio tersenyum, dia lantas mendekat ke arah istrinya dan memeluk pinggangnya dengan erat.


"Oke maafkan aku, tidak akan ku ulangi lain kali." Gio semakin mendekat dan menempelkan ujung hidungnya yang mancung di leher Tiara membuat wanita itu geli.


"Kan kotor G. Kau ini ah. Bagaimana, sih?!" Tiara bangkit dan segera mencuci tangannya sedangkan Gio hanya tersenyum meringis dengan noda berwarna kuning yang ada di bajunya itu. Noda pertama yang Tiara buat untuknya, tentunya selain noda darah yang dia buat saat pertama kalinya merasakan syurga dunia dengan Tiara.


Tiara kembali mendekat kepada Gio sambil menggerutu. Bibirnya manyun beberapa senti, noda ini akan lumayan sulit untuk dihilangkan, apalagi dengan bahan kaos yang Gio pakai.


"Buka bajumu!" Titah Tiara pada suaminya. Gio refleks menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang dia buat malu.


"Kau mau apa? Kalau kau mau mesum, jangan disini. Aku kan malu. Bagaimana kalau ada orang yang melihat perbuatan kita. Dan lagi, bagaimana kalau ada yang mengambil video saat kita sedang ...."


Tiara merasa kesal dengan pemikiran suaminya ini. Bisa-bisanya dia berpikiran seperti ini di luar.


Dengan gemas Tiara memukul pundak Gio hingga pria itu terpekik dengan keras. Tidak sakit sama sekali, tapi dia sangat senang jika mengganggu istrinya itu, manis dan juga gemas terlihat olehnya.


"Pikiranmu itu kemana? Siapa juga yang akan melakukan mesum denganmu disini? Cukup kau saja yang jadi mesum, aku jangan! Harus ada salah seorang yang waras disini!" seru Tiara dengan kesal.


Gio berdecak dengan kesal. Dia menurunkan kedua tangannya sambil bersungut bak anak kecil.


"Jadi maksudmu aku ini tidak waras?" tanya Gio dengan kesal.


Tiara mengangguk dengan cepat dan juga mantap. Dia lalu mengambil kaos yang ada di tubuh Gio.


"Lepaskan, aku harus segera mencucinya. Kalau tidak ini akan awet dan tidak bisa digunakan lagi." Tiara membuka paksa kaos yang ada di tubuh Gio.


"Kata siapa tidak bisa di gunakan lagi, aku suka dengan apa yang kau tinggalkan di bajuku. Ini akan aku jadikan kaos favorite-ku mulai dari saat ini." Ucapan Gio membuat Tiara terdiam, baru setengah baju itu dia angkat, belum sampai meloloskan kedua tangan Gio.


"Kau ... gombal!" Seru Tiara dengan keras. Gio tersenyum, dia mengambil Tiara dan memeluk pingggangnya lalu menyandarkan kepalanya di dada sang istri.


"Aku gak gombal, semua yang aku bicarakan disini semua benar adanya. Kau hal yang terindah yang aku punya sekarang. Aku sangat bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang. Ara, Terima kasih karena kau sudah mau menemaniku selama ini."


Tiara terdiam mendengar ucapan Gio. Pria ini sekaranag lebih terbuka, tidak seperti dulu saat dia pertama kali atau sebelum menikah dengannya.


"Kau bicara apa sih? Aku ini kan istrimu, aku akan selalu menemanimu sampai kapanpun, G." ucap Tiara. Rasanya sedih dan juga bahagia saat dia mendengar hal itu.


Gio menengadahkan kepalanya, menatap wajah Tiara yang kini bersemu merah. "Aku senang punya istri sepertimu, aku harap aku bisa selalu membahagiakanmu, Ra." Gio menatap Tiara dengan lembut. Tiara terhanyut dalam ucapan suaminya itu.


"Ya kau memang harus selalu bisa membahagiakan aku," ucap Tiara dengan membuang wajahnya ke samping. Tiara paling tidak tahan jika di lihat seperti itu oleh Gio.


"Hei, nanti setelah ini kita siap-siap. Siapkan beberapa lembar pakaian. kita pulang," ucap Gio. Tiara terdiam menatap suaminya itu dengan rasa tak percaya. Padahal mereka belum waktunya untuk pulang.


"Kenapa diam? Kau tidak mau pulang? Tidak mau bertemu dengan ibu?" tanya Gio lagi.


"Ini ... Ini kan belum waktunya pulang, G." Tiara berkata.


"Aku ada pekerjaan disana beberapa hari. Kau mau ikut atau tidak?" tanya Gio lagi. Tiara mengembangkan senyumnya. Dia mengangguk dengan cepat dengan bahagia.


"Ikut. Aku ikut!" Tiara melepas tangan Gio, dia hendak berlari ke dalam rumah jika saja Gio tidak menahan tangannya.


"Lepaskan aku. Aku mau beberes baju!" seru Tiara.


"Hei, kita berangkat besok pagi. Sekarang kau buatkan aku ikan bakar dulu. Jangan ingkar dengan janjimu!" tunjuk Gio di depan wajah Tiara. Tiara menepuk dahinya dengan keras, gara-gara mendengar Gio akan mengajaknya pulang dia jadi lupa dengan apa yang sedang mereka lakukan sekarang.


"Aku lupa," ucap Tiara dengan kekehan di bibirnya. Gio menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya ini.


"Sekarang lepaskan aku dan bantu aku. Kita lakukan dengan cepat, dan aku mau membereskan baju. Setelah itu kita beli oleh-oleh buat ibu ya." Pinta Tiara. Gio mengangguk melihat istrinya yang sangat bersemangat itu.