
Romi menghentikan mobilnya di tepi jalan. Cantik terlihat sedang bersandar sambil menatap ke arah luar. Dia yang biasanya cerewet kini hanya diam.
"Pindah!"
"Eh..?" Cantik tersadar. Tak ada Tiara pasti Romi bicara kepadanya.
"Kau tidak dengar? Pindah ku bilang!" ucap Romi dengan tegas.
"Iya!" Cantik hendak membuka pintu mobil.
"Mau kemana, kau?"
"Pindah ke depan lah!" ucap Cantik kesal, pria ini menyuruhnya pindah tapi masih bertanya kemana?
"Tidak usah keluar. Lewat sini saja!"
Dasar pria aneh!
"Semalam kau bilang aku harus elegan dan keluar untuk pindah ke depan, kenapa sekarang kau..."
"Kenapa kau banyak bicara? Ini mobilku, aku yang berhak memutuskan kau boleh lewat mana. Pindah!" titah Romi dengan nada garang. Cantik kesal. Dia kembali menutup pintu mobil dan melakukan yang Romi katakan. Pindah ke depan melewati ruang kosong di antara dua kursi di depan. Cantik duduk dengan kasar di samping Romi.
Pria ini lama-lama menyebalkan juga! Ini salah, itu salah! Dari kemarin memarahinya terus. Bahkan ibunya saja tidak pernah memarahinya seperti itu. Cantik memberengut sebal. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi menatap luar jendela yang lebih menyenangkan daripada pria masam dan galak di sampingnya.
"Kalau naik mobil pakai seatbelt-nya!" suara Romi terdengar sangat dekat di telinga Cantik, bahkan nafas hangatnya terasa di pipi. Tangan besar Romi melingkar di depan tubuhnya. Mengambil sabuk pengaman yang ada di samping Cantik dan menariknya, memasangkannya dengan benar.
Cantik refleks menoleh hampir saja hidungnya bersinggungan dengan pipi Romi. Hal itu membuat sesuatu di dalam dirinya menjadi aneh, menjadi berdebar meski tak tahu alasannya.
"Apa ini masih sakit?" Romi menarik dirinya mengelus luka di kening Cantik. Cantik menatap Romi, hanya terdiam merasakan sesak tak bisa bernafas. Beberapa detik dia mencoba untuk menarik nafasnya, tapi paru-parunya tetap tak terisi meski Cantik sudah berusaha menarik nafasnya dari hidung, hanya dadanya yang bergerak naik turun dengan percuma.
"Tidak!" Cantik mendorong tubuh Romi menjauh. "Ini sudah tidak apa-apa. Sudah tidak sakit." Cantik salah tingkah, tapi dia lega bisa menarik nafas dan memperbarui oksigen di dalam paru-parunya.
Apa-apaan aku ini? Batin Romi. Salah tingkah membuat serasa aneh di dada. Berdebar entah karena apa.
"Maaf!"
"Maaf!"
Keduanya bicara bersamaan meminta maaf. Lalu dengan bersama-sama pula menarik dirinya saling membelakangi. Canggung terasa ada diantara mereka.
"Maafkan aku. Aku sudah lancang!" ucap Romi mendahului.
"Aku juga minta maaf sudah mendorong Anda, Pak!" ucap Cantik.
Entah kenapa mendengar Cantik menyebutnya Pak, membuat Romi kecewa tak suka mendengar sebutan itu. Dia lebih suka saat Cantik menyebut 'kau' dengan nada kesal.
Ah... Sudahlah.
"Aku akan antar kau pulang!" ucap Romi. Cantik hanya mengangguk mengiyakan.
Cantik baru sampai di apartemen kecilnya. Tak jauh dari rumah Tiara. Dari sana dia bisa memantau dengan jelas rumah Tiara dan juga kamar Tiara. Heru sudah memilihkan tempat yang pas untuk dirinya memantau Tiara dan ibunya.
Cantik merasa lelah, tapi dia tetap memantau rumah Tiara hampir dua puluh menit lamanya. Tak ada kejadian apapun, lagipula ada beberapa orang yang ikut memantau Tiara di dekat sana. Beruntung sekali Tiara dilindungi meski dia tak pernah tahu. Gio, meski berada jauh dan hanya dianggap mimpi masih saja melindungi gadis itu dengan baik.
Cantik merebahkan dirinya sejenak. Dia menyentuh keningnya. Lumayan sakit semoga besok tidak benjol. Dia menempelkan es batu yang telah dibungkus dengan plastik ke keningnya. Lumayan membuatnya lebih baik.
Bayangan saat tadi Romi menyentuh keningnya kembali terlintas di benaknya. Sungguh manis dan lembut.
Haiss... Apa yang aku pikirkan! Cantik menggelengkan kepalanya. Dia lalu memilih bangkit untuk membersihkan dirinya. Dia memang harus menjauhkan Romi dari Tiara tapi bukan berarti juga kalau...
"Aaakkhhhh. Menjauh dari pikiranku...!!!" teriak Cantik frustasi.