DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 161



Ya mereka memang orang tua yang baik, sedangkan aku... aku masih saja suka bersikap egois dan tidak memperhatikan tingkah dan ucapanku. Aku memang belum sepenuhnya bisa dewasa meski kini sudah punya dua anak!


Selesai dengan memberi makan Axel, ku berikan dia pada Lynn untuk di tidurkan. Lynn sangat membantu banyak dalam mengasuh Axel.


Aku, Devan dan ayah makan dengan sate yang di bakar tadi, masih hangat. Nikmat sekali. Kami menikmati makan malam ini. Sedangkan Daniel, dia lebih memilih menikmati marsmalownya daripada sate. Ah sudahlah! Anak ini... like father, like son! Begitu lah mereka kalau sudah ada maunya. Tidak bisa di larang!


Selesai makan malam, Daniel mengikuti kami ke kamar Axel. Akhir-akhir ini kami memang sering tidur bersama. Aku masih khawatir, takut jika Axel kejang lagi seperti beberapa waktu yang lalu.


Daniel naik ke atas kasur, dia berbaring di dekat Axel. Menciuminya dengan gemas. Axel menggeliat dalam tidurnya. Tangannya bergerak menggenggam jemari Daniel. Aku dan Devan juga ikut berbaring di samping mereka. Aku di dekat Axel, dan Devan di dekat Daniel.


Devan tidur dengan posisi miring, dia mengusap punggung Daniel pelan. Daniel berbaring tertelungkup dengan nyaman, perlahan matanya menutup. Tidak tahukah dia kalau itu bisa menjadi kebiasaannya sebelum tidur? Itu akan jadi kebiasaan yang buruk!


"Dev." panggilku berbisik. Devan menatapku.


"Jangan di biasain usap punggung Daniel. Nanti kalau dia kebiasaan sampai besar gimana?" ucapku.


"Gak masalah, selama dia nyaman biar aku yang akan urus Daniel setiap dia mau tidur." lirihnya. Sebal! Bukan itu jawaban yang aku mau. Devan selalu saja memanjakan Daniel. Awas saja kalau sampai dia besar jadi anak yang manja!


"Tapi aku gak suka. Gimana nanti kalau kamu pulang malam sedangkan Daniel minta di usap punggungnya dan aku sedang sibuk mengurus Axel?" tanyaku kesal.


"Kita bisa sewa baby sitter buat mereka!" ucapnya santai.


"Aku gak mau!" ucapku.


"Kenapa?"


"Mungkin karena sejak kecil Daniel di asuh baby sitter dia jadi tidak terlalu dekat sama aku. Tapi semenjak aku hamil dan tidak mengurusi kantor Daniel semakin dekat sama aku. Bahkan dia juga mau tidur sama-sama seperti sekarang ini!" ucapku lagi. Devan mengangguk.


"Aku juga mau!" ucapnya. Mau apa dia?


"Mau apa?" tanyaku.


"Mau tidur sama-sama dengan kamu!" ucapnya. Heh? Maksudnya?


Aku menatapnya, dia tersenyum jahil nan menggoda. Ooh aku tahu apa yang dia maksud.


"Kita sudah lama kan gak melakukan itu? Boleh kah?" tanyanya.


"Ingat kondisi kamu. Apa sudah kuat?" tanyaku khawatir. Aku sih senang-senang saja. Toh aku juga sudah lama memendam rasa ingin, hehe. Tapi mengingat kondisi Devan rasanya tidak mungkin kan kalau aku meminta dia melakukan kewajibannya.


"Aku sudah tanya sama dokter, dia bilang sudah tidak apa-apa, asal jangan keterlaluan aja!" ucapnya. Aku mencubit lengannya sedikit keras. Dia mengaduh namun dengan suara pelan, takut jika Daniel atau Axel terbangun.


"Kamu ini, malu-maluin sampai tanya hal itu segala sama dokter!" rasanya malu sekali. Bagaimana kalau besok aku bertemu dengan dokter, pastilah malu kan!


"Memangnya kenapa kalau aku tanya? Daripada tidak tanya sama sekali, nanti kalau ada yang salah lagi sama tulangku bagaimana coba?" tanyanya. Meskipun itu benar, tapi malu lah tanya hal seperti itu pada orang lain, kan?


Aku terdiam. Sedikit khawatir juga dengan kondisinya.


"Benar tidak apa-apa?" tanyaku sekali lagi. Devan tersenyum dan mengangguk.


"Yakin?" tanya ku lagi. Malah aku sendiri yang tidak yakin.


Devan mengangkat tubuhnya dan melompat seperti kucing hingga dia berada di belakangku.


"Dev..." Aku tidak tahan, ku gigit bibir bawahku agar tidak mengeluarkan suara aneh.


"Hemmm?"


"Ja...nganh." lirihku. Ah.. hah... ssshh... Oh tidak! Jangan masukan kesana!


Aku meremas rambut belakangnya. Jangan seperti itu. Please.


"Dev, ada... anak-anak... disini!" lirihku. Suaraku sudah tidak bisa ku tahan, bahkan aku mendesis dalam kenikmatan.


"Memangnya kenapa?" tanya Devan. Dia tidak berhenti menciumi leher ku, bahkan kini satu tangannya sudah menarik tali CD ku.


"Jangan!" lirihku lagi.


"Ingat hukuman yang pernah aku bilang waktu itu? Sekarang saatnya kamu aku hukum!" ucapnya. Apa maksudnya? Hukuman?


Celanaku sudah di turunkan hingga ke paha. Apa maksud dia kita akan melakukannya disini? Oh sial! Jangan! Aku tidak bisa mengeluarkan suara-suara erotis di ruangan ini! Ada Daniel dan juga Axel!


"Akh!!" Aku memekik lalu menutup mulutku dengan telapak tangan. Devan keterlaluan. Bahkan dia memasukkan miliknya tanpa aba-aba membuat milikku sakit!


Tentu saja aku kesakitan, ini sudah lama sekali sejak terakhir kalinya waktu itu.


Perih.


Sakit!


Ini hampir sama seperti saat kami pertama kali melakukannya setelah perpisahan selama lima tahun. Dan sialnya aku tidak bisa berteriak sekarang!


Kenapa dia harus melakukannya disini? Keterlaluan! Dia benar-benar menyiksaku!


Aku tidak bisa bertahan, suara-suara itu keluar juga meski sedikit. Aku hanya bisa meremas seprai di depanku.


Ah...hah...hah... tolong aku ingin mendesah sekarang!


Devan terus bergerak di belakangku, terdengar nafasnya yang tak beraturan. Dia bergerak dengan konstan, sesekali menciumi leher ku dan menggigit cuping telingaku. Panas. Semakin panas. Padahal Ac sudah di nyalakan, tapi keringat terus membanjiri tubuhku.


"Ah... Dev! Sudah!" Pintaku. Aku hanya ingin pindah dari sini supaya bisa mengeluarkan suara dan ekspresi yang semestinya.


"Tapi aku belum!" ucapnya. Lalu dia membalikanku hingga aku tertelungkup. Dia berada di atasku, terus bergerak dengan lincah. Aku semakin tidak tahan menerima serangan darinya yang bertubi-tubi. Segala rasa bercampur baur di dalam diriku.


Aku melirik ke arah kedua putraku. Sedikit bernafas lega karena mereka tertidur dengan lelap.


Ah...ssshhh...


Ku remas seprai kuat-kuat, Devan menghentak lebih kuat lagi.


Entah sudah berapa lama kami melakukannya, Devan masih belum selesai, sedangkan aku... aku kalah! Tapi juga tidak bisa mengakhirinya hanya karena aku yang sudah duluan merasa puas, sedangkan Devan masih berusaha untuk mencapai pelepasannya.


Aku hanya pasrah...


Pasrah dalam kenikmatan. Hehe...