DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 199



Tiara baru saja pulang dari bekerja, dia mendengar suara seseorang di dalam rumah. Suara seorang pria sedang berbicara dengan ibunya. Serasa mengenali suara itu, Tiara masih berpikir siapa gerangan pemilik suara berat itu. Ibu tidak memberi kabar jika ada tamu yang datang berkunjung.


Tiara melangkahkan kakinya. Masih mendengar suara itu sedang tertawa renyah bersama dengan ibu. Rasanya dadanya berdebar tak karuan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat siapa yang kini duduk di depan ibu. Menatapnya dengan pandangan lembut, serta senyum lebar di bibirnya.


Dada Tiara berdetak dengan cepat. Matanya membulat sempurna. Bahkan sulit untuk berkedip. Tak menyangka siapa yang kini ada di hadapannya. Beberapa bulan sudah dia tak bertemu dengan pria ini, dia terlihat sangat berbeda.


Pria itu bangkit, berjalan mendekat ke arah Tiara, ibu tersenyum menatap Tiara yang kini hanya diam mematung.


"Hai adikku! Lama kita tidak bertemu. Aku kangen sekali denganmu!" Ridwan melebarkan kedua tangannya saat sudah berada di depan Tiara.


"Cepat peluk aku, atau ibu akan bersedih!" bisik Ridwan saat Tiara tak kunjung menyambut pelukannya. Ridwan melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Tiara, memeluknya dengan hangat, menepuk bahu adiknya beberapa kali.


"Kenapa kau datang kemari! Kau kan sudah janji padaku saat terakhir kali kau tidak akan datang menemui ibu!" Tiara balas berbisik, dia menepuk punggung kakaknya sebagai balasan pelukan yang sama sekali tak menyenangkan ini. Tiara melirik ibu dari balik bahu kakaknya. Ibu tengah tersenyum lebar, pastilah senang karena anak lelakinya akhirnya pulang.


"Aku kangen dengan ibu. Dan aku berkunjung untuk melihat keadaan ibu. Apa kau tidak senang aku pulang?" kembali berbisik di telinga Tiara.


"Tidak sama sekali. Percuma kau pulang, aku tahu apa yang kau inginkan!" Ridwan menarik dirinya dari pelukan sang adik seraya tertawa


"Iya, kau memang selalu perhatian padaku. Aku selama ini baik-baik saja. Trimakasih, adikku yang cantik!" Ridwan sepertinya sengaja berbicara dengan keras, membuat ibu bahagia.


"Bu tidak menyangka ya, Tiara sudah sebesar ini." seru Ridwan menatap Tiara dari atas hingga ke bawah.


"Aku senang melihat Tiara tumbuh menjadi gadis yang cantik!" Ridwan mengacak rambut Tiara, yang kemudian di tepis oleh gadis itu dengan kasar. Siapa dia? Sudah lama meninggalkan, beraninya datang kembali dan sok bersikap akrab seperti itu!


"Iya. Adikmu memang sudah tumbuh besar dan sangat cantik seperti ini." timpal ibu. Ridwan kembali duduk di tempatnya di depan ibu, meninggalkan Tiara yang masih berdiri mematung menahan rasa kesal.


"Ara, kemarilah. Duduk bersama dengan kakakmu!" ajak ibu menepuk tempat kosong di sampingnya. Tiara terdiam tidak membantah, tapi dia juga melangkahkan kakinya ke arah ibu yang masih tersenyum dengan lebar.


"Lihat kakakmu akhirnya dia pulang, Nak!" ibu berkata dengan penuh bahagia. Ridwan tersenyum dari seberang tempat Tiara duduk. Membuat Tiara sebal dan ingin melemparkan meja yang ada di depannya pada sang kakak.


"Setelah sekian tahun lamanya... Dia pulang untuk apa?" sarkas Tiara sinis.


"Ara kenapa kamu bicara seperti itu, Nak. Kakakmu pulang kau harusnya bahagia!" tukas ibu dengan nada garang. Oh ... bahkan ibu tak tahu apa yang selama ini pria ini lakukan.


Dan apa ibu bilang? Bahagia? Ibu tidak tahu saja kenapa pria ini pulang, pasti soal uang!


"Aku yakin dia pulang bukan karena rindu kita, tapi karena alasan lain!" ucap Tiara ketus.


"Ara! Apa yang kamu katakan? Kakakmu pulang untuk menjenguk kita, kau seharusnya senang!" ibu mulai berang dengan ketidaksukaan Tiara pada kakaknya.


"Sudah lah tidak apa-apa, Bu. Aku juga yang salah karena meninggalkan kalian!" Ujar Ridwan sendu.


"Kau tahu apa kesalahan mu? Dan kau masih berani untuk pulang?" Tiara menggelengkan kepalanya. Jika dia pulang karena benar-benar menyesal Tiara pun tak akan memperlakukan kakaknya seperti ini. Tapi dia tahu jika kakaknya tak akan mudah berubah.


"Tiara..."


Tiara bangkit berdiri. Dia merasa muak mendengar dan melihat kakaknya ini. Apa yang dia inginkan sampai datang membawanya kemari?


"Ara mau mandi dulu, Bu. Mau istirahat, capek!" ucap Tiara memotong panggilan ibunya dengan ketus, lalu tanpa mendengar panggilan ibu lagi Tiara pergi ke arah kamarnya dengan perasaan dongkol.


Tiara menutup pintu kamarnya, dia bersandar pada daun pintu.


"Maafkan aku, Bu. Jika saja aku tidak pernah meninggalkan kalian. Ara pasti tidak akan membenciku dan memperlakukan aku seperti itu." terdengar suara Ridwan yang menyesal. Entah dia sungguh-sungguh atau hanya berpura-pura. Tiara tidak akan semudah itu percaya dan memaafkan kakaknya setelah apa yang dia lakukan selama ini.


Rasa di dada Tiara sangat sesak, matanya panas, siap meluncurkan cairan bening yang sudah siap untuk meluncur tanpa bisa dicegah lagi. Perlahan tubuhnya merosot ke bawah, bersandar sambil nemeluk kedua lututnya.


Rasa sakit hati saat di tinggalkan begitu saja, dan rasa sakit hati saat melihat ibu menangis dan memohon pada rentenir untuk dibebaskan membuat luka lama yang telah ia kubur susah payah kini terkuak lagi.


"Apa lagi yang dia mau?" gumam Tiara. Dia biarkan air mata yang mengalir di matanya meluncur dengan bebas ke lantai.


...*...


Malam tiba. Tiara malas keluar kamarnya apalagi saat mendengar suara tawa renyah sang kakak yang sedang bergurau dengan ibu dari arah dapur. Pastilah sang kakak sedang membantu ibu memasak. Ridwan lebih jago memasak daripada dirinya.


Tiara mencoba tak peduli, dia memilih untuk menatap layar hpnya. Tangannya serasa gatal sampai dia tak sadar telah melakukan pencarian pada laman internet dan mencari nama Gio Arian Aditama disana.


Tiara menggerakkan dua jarinya, melakukan zoom hingga terlihat jelas sosok Gio yang tinggi, kekar, dengan ketampanan luar biasa. Terlihat sangat mempesona bersama dengan orang yang Tiara kenal sebagai Heru.


"Kapan kita akan bertemu lagi? Nyatanya aku tidak bisa menganggap mu hanya mimpi." lirih Tiara. Mungkin jika bertemu dengan Gio, meski tak akan menyelesaikan semua permasalahannya, tapi bersama dengan pria itu, rasa di hatinya pasti akan jauh lebih baik.


Tok. Tok.


"Ara!" suara ibu memanggil setelah terdengar ketukan beberapa kali.


"Ayo kita makan malam, sayang. Kakakmu sudah memasakkan makanan kesukaan kamu!" teriak ibu dari luar.


"Iya, Bu!" seru Tiara lalu dengan malas bangkit dari rebahannya, meninggalkan hp yang masih menyala dengan wajah Gio yang memenuhi layar.


Tiara menbuka pintu, terlihat ibu dengan senyum hangat yang tak pernah lepas dari bibirnya.


"Kita makan, yuk. Kak Ridwan masak sup kepala ikan buat kamu."


Tiara hanya mengangguk. Dia malas bertemu sebenarnya, tapi jika dia menolak untuk bergabung, apalagi pria itu sudah membuatkannya masakan, ibu pasti akan sangat kecewa jika Tiara tidak keluar untuk makan malam.


"Halo, adik. Masakan sudah siap." Ridwan dengan celemek di depan tubuhnya, tersenyum ke arah Tiara yang kini mendekat ke meja makan. Dua tangannya memegangi piring dan meletakkannya di atas meja, bersanding dengan nasi dan beberapa masakan lain yang dia buat. Ridwan dengan cepat berjalan memutari meja makan dan menarik kursi.


"Silahkan duduk, Tuan Putri!"


Persis seperti masa lalu. Ridwan selalu melakukan hal yang spesial untuk Tiara. Tiara duduk di kursi yang telah di sediakan Ridwan. Ridwan kembali ke arah kompor yang masih menyala, menggerakkan tangannya mengaduk sesuatu disana dengan wangi harum semerbak membuat perut Tiara menjadi lapar.


Semua masakan sudah siap. Ibu, Ridwan, dan Tiara, makan malam bersama. Ibu dan Ridwan saling berbincang ringan, sedangkan Tiara hanya menjawab seperlunya. Dia muak pada kakaknya, tapi juga senang dengan senyum ibu yang kini terlihat sangat lebar, wajahnya berbinar penuh rasa bahagia. Andai kakaknya tak melakukan kesalahan dulu, pasti senyum dan cahaya di wajahnya itu yang akan bisa dia lihat setiap hari.


Makan malam telah selesai. Ibu telah beranjak ke kamar untuk beristirahat. Tiara sedang membersihkan piring kotor, sedangkan Ridwan membereskan meja makan dan menyimpan sisa sayur untuk dihangatkan besok pagi ke dalam lemari.


"Apa tujuan mu pulang?" tanya Tiara dengan nada dingin, tak sekalipun dia menoleh kepada kakaknya yang sedang menyimpan makanan. Tiara melanjutkan mencuci piring dengan sabun hingga tangannya berbusa.


"Sudah ku bilang aku kangen ibu, dan juga kau!" Ridwan menutup pintu lemari, semua telah selesai dia pindahkan. Membalikkan dirinya dan berdiri bersandar pada tepian meja kompor.


"Kangen ibu, atau kangen meminta uang padaku?" tanya Tiara dengan ketus. Sudah beberapa bulan Ridwan tidak meminta uang padanya, bukan tidak mungkin kepulangannya kali ini untuk meminta uang dengan jumlah banyak seperti biasa.


"Aku sudah pindah dari perusahaan yang dulu. Gajiku sekarang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari bersama ibu. Tidak bisakah kau, sebagai anak lekaki satu-satunya yang tak bisa memberikan tanggung jawab kepada kami, tidak mengusik kehidupan kami dan membuat kami semakin kesusahan? Kau anak laki-laki sulung. Setidaknya kalau kau tidak mau bertanggung jawab atas hidup kami, kau bisa menghidupi diri sendiri tanpa menyusahkan ku maupun ibu!" Masa bodoh dengan kesopanan, Tiara enggan menyebut Ridwan dengan sebutan 'kakak'!


"Aku datang kesini bukan untuk meminta uang padamu. Tapi pada pacarmu! Dia sudah lama tidak memberikan uang padaku, dan sekarang uang itu sudah habis. Aku ingin minta uang lagi beberapa ratus juta untuk biaya istriku melahirkan!" ucap Ridwan dengan santainya, dia mengeluarkan rokok dari saku bajunya dan memantik api, asap tipis mengepul dari sela-sela bibirnya.


Tiara menghentikan gerakan tangannya, air kran mengucur dengan deras ke tangannya. Tiara menoleh pada Ridwan, terkejut mendengar Ridwan menyebut 'pacar'. Gio kah?


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Ridwan dengan bingung, dia menjepit rokok dengan dua jarinya dan menghembuskan asap rokok itu ke udara.


"Jangan bilang kau tidak tahu, kalau pacarmu memberikan cek kosong dan memintaku untuk tidak menemuimu!" ucap Ridwan memberikan jawaban atas kediaman Tiara.


"Gio memberikan uang padamu?" Tiara menghentikan laju air dari kran, tak peduli dengan piring yang masih harus dia bilas.


"Nah benar itu nama dia, aku baru ingat bawahannya menyebut nama itu! Kenapa aku bodoh sekali sampai lupa dengan nama calon adik iparku!" Ridwan memukul kepalanya sendiri.


Tiara masih menatap Ridwan tak percaya. Kenapa Gio melakukan hal ini? Tidak tahukah pria itu kalau kakaknya ini akan terus meminta uang darinya. Kenapa pria itu lancang sekali, tanpa memberitahunya melakukan hal semacam itu di belakangnya. Apa dia mau jadi pahlawan di belakang layar?


"Kau benar tidak tahu?" tanya Ridwan menatap Tiara yang terlihat marah.


"Oh ... aku tidak percaya. Dia itu ternyata pria idaman! Benar sekali... Kau harus tetap bersama dengan dia. Jangan sampai dia lepas dari genggaman. Seumur hidup kau belum tentu akan mendapatkan pria baik seperti itu lagi. Selain tampan dia juga tambang emas... Eh meskipun kau tidak menganggapnya seperti itu, tapi dia bisa membuat hidup mu dan juga ibu tidak dalam kekurangan dan kesusahan seperti aku!" Ridwan tertawa dia berjalan mendekat ke arah Tiara, menepuk pundak Tiara dua kali.


"Jangan lupa. Hubungi dia dan bilang kalau kakak iparnya ini dengan senang hati akan menerima bantuannya dengan tangan terbuka." lalu setelah itu dia berjalan meninggalkan Tiara.


"Tapi sayangnya, aku sudah tidak lagi bersama dengan dia!" ucapan Tiara membuat langkah kaki Ridwan berjenti tak jauh dari ambang pintu.


"Maafkan aku membuatmu kecewa, Kakak! Tapi sayangnya aku sudah lama putus hubungan dengan dia. Dan sekarang, kau lebih baik mencari pekerjaanmu sendiri. Jangan rerlalu bergantung padaku apalagi orang lain yang tak ada hubungannya dengan kita. Sudah cukup kau terhina di mata adikmu, jangan kau hinakan dirimu di mata orang lain!" ucap Tiara dengan dingin dan sinis.


Ridwan menoleh mendengar ucapan Tiara barusan. Berbalik badan dan mendekat ke arah Tiara. Mencengkeram pundak adiknya hingga Tiara memekik kesakitan, kedua tangan Tiara mencoba menahan tubuhnya yang condong ke belakang dengan memegang tepian wastafel, punggungnya terasa sakit mengenai kran air.


"Kau itu bodoh atau apa?" seru Ridwan tak percaya, dia masih menahan nada suaranya agar tak membuat gaduh dan ibu terbangun karenanya. Wajahnya terlihat marah, entah karena ucapan Tiara barusan atau karena hubungan Tiara yang telah berakhir dengan Gio.


"Kau melepaskan orang yang baik seperti dia?" tanya Ridwan tak percaya.


Tiara tertawa mendecih, merasa sebal dengan ucapan kakaknya ini. Mendorong dada Ridwan hingga pria itu mundur satu langkah dan melepaskan cengkeraman pada pundaknya.


"Ya. Dan aku bersyukur telah lepas dari dia." Tiara mengelus pundaknya pelan, menghalau rasa sakit yang dibuat Ridwan barusan.


"Dia orang baik, tidak pantas untuk dipermainkan apalagi dimanfaatkan oleh pria brengsek sepertimu!" ucap Tiara sarkas. Dia menatap kakaknya dengan tajam. Sangat keterlaluan sekali pria ini menjatuhkan harga dirinya sendiri. Siapa lagi yang akan malu atas kelakuannya itu?


"Kenapa kau jahat sekali? Kenapa kau berubah menjadi pria yang tidak aku kenal?" tanya Tiara. Dadanya serasa sesak. Naik turun dengan penuh emosi. Masih menatap wajah kakaknya yang kini dipenuhi jambang, meski sialnya terlihat semakin tampan.


Ridwan hanya diam.


"Kau keterlaluan, Kakak! Aku benci kau yang sekarang!


Tiara tak tahan, rasanya air matanya akan menetes sebentar lagi. Dia mendorong kakaknya hingga kembali mundur satu langkah karena ulahnya. Tiara pergi dengan langkah cepat menuju kamarnya.


"Aku benci kau. Kenapa kau tidak mati saja! Kenapa kau harus kembali jika ingin membuat ibu terluka lagi?!" Tiara menempelkan keningnya pada daun pintu. Memukul pintu itu dengan kepalan tangannya. Jika dia yang harus disakiti oleh sikap kakaknya, tak mengapa. Tapi jangan dengan ibu!