
Brakkk!
"GIO ARIAN ADITAMA!!!" teriak Tiara setelah dia membuka pintu dengan kerasnya. Dia berjalan ke depan meja Gio dengan tatapan marah.
Merasa nama lengkapnya di panggil Gio kemudian mengangkat pandangannya. Dia kesal. Tak ada seorangpun yang berani memanggil nama lengkapnya dengan nada seperti itu.
Dia berdiri dan menggebrak meja. Tatapan keduanya saling beradu memercikkan api kemarahan.
"Kamu!" tunjuk Gio pada wajah Tiara. "Berani panggil aku seperti itu!" geramnya.
"Memangnya kenapa kalau aku berani, huhh?!" tantang Tiara. Dia mengangkat kedua tagangannya dan menyimpannya di pinggang rampingnya. Matanya melotot tak mau kalah dengan pria menyebalkan itu!
"Kamu keterlaluan! Kenapa kamu jahili aku, huh?!" Tak ada lagi panggilan bapak untuk Gio. Masa bodoh! Tiara terlalu marah pada pria itu karena semalaman dia merasakan pegal luar biasa di tangannya gara-gara kejahilan pria itu
"Jahil apa?" tanya Gio. Entah dia mengerti atau tidak, tapi dia tetap tak suka seseorang memanggilnya seperti itu!
"Kopi!" teriak Tiara. "Kamu sudah buat aku bolak-balik membuat kopi padahal kamu gak suka kopi, kan?!" tanya Tiara masih dengan nada yang tinggi.
Axel sialan! Dasar rese! Pasti dia yang kasih tahu Tiara!
"Siapa yang bilang? Aku suka kopi, kok! Beberapa hari ini aku sudah belajar minum kopi! Dan aku suka! kilahnya. Tak mau mengakui.
Tiara melotot pada Gio, dia tahu jika pria keras kepala itu tentu tak mau mengakui kebohongannya!
Gadis itu pergi ke mejanya dan mengambil segelas kopi yang tadi sudah ia seduh, belum sempat ia minum sama sekali. Sudah agak dingin tentunya karena ia menyeduhnya saat ia datang tadi dan langsung ingat untuk membereskan ruangannya.
"Minum!" titah Tiara menyimpan kasar cangkir gelas itu di atas meja Gio.
Gio terdiam, tak menyangka kalau gadis itu ternyata berani juga melakukan hal ini padanya.
"Kalau Bapak gak bohong, minum ini!" tunjuk Tiara sekali lagi.
Gio geram, tak ada di dalam kamusnya dia menyerah dan mengaku kalah apalagi pada seorang gadis, bahkan Tiara sekalipun!
Dia mengambil cangkir itu dan menenggak isinya hingga hanya tersisa ampas kopinya.
"See?" tanya Gio. Dia menyimpan gelas kotor itu di atas meja. Tiara mengangguk dengan puas.
"Oke! Jika benar Bapak memang suka kopi akan aku maafkan!" ucap Tiara. Dia mengambil cangkir kotor itu dari atas meja Gio dan membalikkan badannya untuk pergi ke pantry.
Tiara tersenyum tipis. Jika benar apa yang di katakan Axel soal lambungnya maka tak akan lama lagi pria itu pasti akan tumbang!
Hehe.... Tiara tertawa tanpa suara sambil mencuci cangkir miliknya.
'Rasakan saja pembalasanku!' batinnya dalam hati. 'Lihat saja nanti kalau kamu kesakitan aku akan tertawa keras!'
Gio duduk setelah Tiara pergi dari ruangannya. Gadis itu, benar-benar... Hais ... Dia benar-benar tak ada takutnya pada makhluk dengan nama lengkap Gio Arian Aditama itu.
Daripada kesal memikirkan hal itu Gio memilih kembali fokus pada pekerjaannya. Proyek bernilai fantastis itu harus ia dapatkan dalam rapat minggu depan.
Tiara kembali ke dalam kantornya, dia duduk di kursinya dengan tenang. Hanya duduk dan tak melakukan apa-apa. Karena Gio belum memberikan tugas padanya.
Tiara mendelik kesal pada pria itu. Gio sangat tenang dengan segala kesibukannya.
"Pak, hari ini apa yang harus saya kerjakan?" tanya Tiara.
"Bantu saja cek semua pekerjaan ini. Hitung dengan benar. Kalau ada selisih laporkan padaku!" ucap Gio dingin. Dia masih kesal dengan Tiara. Di lemparnya tumpukan kertas itu di ujung mejanya. Tiara berdiri dan mengambil kertas yang Gio lemparkan tadi.
Keduanya hanya terdiam dengan kesibukan masing-masing. Tiara masih menghitung, sementara Gio masih sibuk dengan layar komputernya, tapi sesekali matanya melirik ke arah Tiara.
Gio mulai merasakan tak enak di perutnya. Ini pasti karena kopi hitam sialan itu! Apalagi dia melewatkan sarapan tadi pagi.
"Sshhh ahh..." Gio merasa tak tahan. Dia memegangi perutnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan masih ia gerakan di atas keyboard.
Dia gigit bibirnya untuk meredakan rasa sakit, tapi rasa perih di perutnya semakin menjadi-jadi.
Tiara melirik Gio saat pria itu menyandarkan dirinya pada sandaran kursi dan menutup matanya sejenak.
Bolehkah dia tertawa sekarang? Pria arogan itu sedang tidak berdaya sekarang!
Tiara kembali pada pekerjaannya. Sudut bibirnya tertarik ke samping. Dia senang dengan keadaan Gio yang seperti itu. Rasakan! Rasakan! Itu karena kamu sudah semena-mena Padaku! batinnya dalam hati.
Tapi lama kelamaan dia tak tega juga melihat Gio yang sudah tak tenang di tempatnya. Pria itu duduk dengan gelisah, beberapa kali memperbaiki posisi duduknya.
Gio berdiri hendak mengambil air hangat, siapa tahu perutnya akan merasa baikan.
Bruk.
Saking tak tahannya, pria itu kini melantai di bawah sambil memegang perutnya dengan kedua tangan. Keringat dingin keluar dari keningnya.
"Pak Gio!" pekik Tiara saat melihat pria itu tak berdaya. Mana janjinya yang akan tertawa pertama kali saat pria itu tumbang? Tiara setengah berlari ke arah Gio yang meringkuk di lantai.
"Pak Gio kenapa?" tanya Tiara. Dia menggoyang-goyang bahu Gio.
"Sa–sakit!" rintih Gio.
Tiara panik. Jika tahu akan seperti ini dia pasti hanya akan memarahi saja pria itu. Tapi otaknya memang egois terlalu jahil hingga dia tak berfikir ke depannya.
"Saya panggil bantuan!" Tiara hendak berdiri tapi Gio menahan tangannya.
"Tolong! Tolong saya!" ucap Gio memohon. "Jangan pergi!"
"Tapi saya mau panggil bantuan, Pak!" Tiara malah bingung.
"Bawa saya ke sofa saja!" lirih Gio. Tiara mengangguk dan membantu Gio berdiri. Memapah pria besar itu ke sofa. Berat! Seperti seekor semut yang membawa gajah!
Bruk.
"Aww!" Gio kembali memekik kesakitan, bergerak sedikit saja dia merasa sakit apalagi di lemparkan seperti itu oleh Tiara.
"Dimana kotak obat? Pasti ada obat untuk lambung, kan?" tanya Tiara.
Gio menunjuk ke arah dimana tasnya berada.
"Tas Bapak?" tanya Tiara. Gio mengangguk pelan. Tiara segera mendekat ke arah tas itu dan membukanya. Sedetik dia terpaku, ada foto seorang wanita cantik disana. Hatinya ciut, seperti tisu yang baru saja di remas dan di lemparkan ke lantai lalu terinjak oleh para pejalan kaki hingga koyak dan tak berbentuk.
Tiara mengabaikan foto itu dan mencari obat apapun itu. Dia memilihnya satu persatu. Ada beberapa obat disana. Tiara terdiam. Ah mungkin vitamin. Salah satunya sangat dia kenali sebagai obat maag dengan rasa mint, dia mengambilnya dan segera mendekat ke arah Gio. Tak lupa ia mengambil air hangat untuk pria itu.
Gio tengah menutupi kedua matanya dengan lengannya, sedangkan satu lengan yang lain ia labuhkan di perutnya yang sakit.
Tiara merasa kasihan juga, tak jadi lah dia akan tertawa. Nanti saja. Dia lebih suka tertawa jika lawannya seimbang, Gio sedang tak berdaya sekarang!
"Ini obatnya, Pak. Minum!" titah Tiara. Gio sedikit mengangkat kepalanya dan menerima obat itu dari tangan Tiara. Tiara membantu Gio minum langsung dari tangannya. Setelah itu Gio kembali membaringkan dirinya dan menutupi wajahmu dengan bantal sofa.
"Bapak kenapa sih? Kalau gak suka kopi dan gak kuar minum kopi kenapa juga maksain diri?" tanya Tiara.
Gio memilih diam, dia memijit pelan perutnya yang masih terasa sakit seperti dicubit.
"Pak!" panggil Tiara. Yang di panggil hanya diam. Malas menyahut.
"Pak Gio!" teriak Tiara.
Gio melempar bantal sofanya tepat ke wajah Tiara. Tiara mendengus kesal dan kembali melempar bantal itu ke arah perut Gio. Lagi-lagi pria itu meringis kesakitan.
"Sakit!" protes Gio.
"Lagian di panggil dari tadi juga diam aja!" cibir Tiara kesal. Tiara membuka satu persatu kancing jas Gio.
"Mau apa kamu?" tanya Gio mencengkeram tangan Tiara. Ada apa dengan asistennya ini, apa dia ingin berbuat mesum dengannya? Tak di sangka, ternyata gadis ini penggoda juga!
"Jangan fikir yang aneh-aneh!" Tiara menepis tangan Gio, dia kembali melepas satu kancing terakhir jas Gio dan menyibaknya. Tiara menempelkan gelas yang sudah ia isi air panas di perut Gio.
"Akh. Panas!" pekik Gio.
"Halahh panas segini saja jangan cengeng!"bentak Tiara dengan kesal. Dia menggeserkan gelas dengan isi air panas itu di luar kemeja Gio.
Gio menutup matanya, merasakan perutnya yang kini mereda rasa sakitnya. Entah itu karena obat atau karena Tiara yang mencoba membuatnya nyaman, Gio merasa lebih baik sekarang!
"Sudah enakan belum?" tanya Tiara.
"Masih sakit!" ucap Gio. Dia tersenyum tipis saat Tiara meneruskan mengompres perutnya.
Tiara kesal, ini sudah sepuluh menit dan dia sudah mengganti air panasnya tiga kali. Tapi Gio belum juga baikan?
"Pak ke rumah sakit saja ya?" pinta Tiara.
"Tidak mau!" ucap Gio yang membuat Tiara bingung.
"Kamu harus tanggung jawab. Obati saya!" titah Gio.
"Loh kok saya yang tanggung jawab?" Tanya Tiara bingung.
"Iya lah! Kan kamu yang suruh saya minim kopi!"
"Tapi kan Bapak sendiri yang bilang sudah belajar minum kopi dan suka kopi. Siapa yang suruh berbohong, dapat karmanya kan?!" decih Tiara.
Gio hanya mendelik sebal. Dia memilih untuk memejamkan matanya kembali seraya menikmati perlakuan Tiara.
Beberapa menit kemudian.
"Yee .... Si Bapak malah tidur!" ucap Tiara melihat bosnya yang malah keenakan tidur ditengah elusan gelas hangat. Dia merasa kesal, panjang lebar tadi dia bicara pastinya pria itu tidak mendengarkan karena sudah masuk ke dalam dunia mimpi.
"Heh dasar *****! NemPel langsung moLor!" kesalnya sambil menepuk perut Gio pelan.
Tiara kembali ke mejanya saja. Daripada dia menunggu orang yang sedang tidur!
Gadis itu kembali mengecek pekerjaannya, dia menghitung dan menandai kertas itu.
Selesai dengan pekerjaannya, Tiara terdiam. Entah apa lagi yang harus ia lakukan. Gio sebagai mentornya malah mendengkur pelan di atas sofa.
Tiara berjalan ke arah dimana Gio berada. Nafas pria itu terdengar halus. Haruskah dia membangunkan Gio dan meminta pekerjaan? Rasanya tak tega juga. Dia yang salah sudah menantang Gio untuk menenggak kopinya.
Tiara mendekat ke arah Gio. Kedua tangannya bertumpu pada sandaran kursi. Dia memperhatikan Gio dengan lamat. Wajah pria itu sangat teduh saat terlelap seperti itu. Berbeda dengan saat dia membuka mata. Seakan semua orang adalah musuhnya dan dia memiliki wajah yang seram bersiap untuk menyerang.
"Denger ya Pak Gio. Kamu itu ganteng, banget malah, tapi sayang killer!" tunjuk Tiara menekan pada pipi Gio pelan.
"Coba kalau gak galak, pasti gantengnya berkali-kali lipat. Bahkan bisa jauh lebih ganteng dari CEO kita itu, tuh!" tutur Tiara, dia tersenyum senang karena Gio yang tak berdaya dan hanya diam saat dia menusuk-nusuk pipinya dengan ujung telunjuknya.
Mata Gio terbuka, dan dia mencengkeram tangan Tiara tiba-tiba, membuat gadis itu memekik terkejut. Gio menarik tangan Tiara hingga gadis itu terjatuh melewati sandaran kursi dan jatuh tepat di atas tubuh Gio.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Gio menatap Tiara yang kini ada diatas tubuhnya.
"Apa kamu mau berbuat mesum sama saya?"
Tubuh Tiara menegang. Apa maksudnya dia? Pria itu yang menarik dirinya kenapa dia di salahkan ingin berbuat mesum padanya?!
"Enak saja! Saya gak berbuat mesum! Tapi Bapak nih yang mau mesumin saya, Iya, kan?" Tiara hendak bangkit, tapi tangan besar Gio malah memeluk pinggang erat, hingga gadis itu tak bisa melepaskan dirinya.
"Kenapa tidak mengaku?"
"Tentu gak ngaku lah! Saya gak berniat mesumin Bapak juga. Buat aoa mesumin orang seperti Bapak? Udah punya istri jangan kegenitan, Pak! Inget istri di rumah!" Tiba-tiba Tiara kesal saat mengingat foto di dalam tas Gio, dia berontak dan menepis tangan Gio hingga berhasil melepaskan diri. Dia berjalan meninggalkan Gio sambil merapikan baju dan rambutnya yang lepas ikatannya karena pria itu.
Gio terdiam, bingung. Istri? Istri yang mana?
Dia mencoba untuk bangun, menatap heran pada Tiara. Perutnya sudah tidak sakit lagi. Tadi dia sempat ketiduran sebentar dan lalu terbangun saat merasakan pipinya ada yang menyentuh.
Tiara kesal, dia duduk di kursinya dan memilih memainkan game pada hpnya. Hatinya sedang panas, tak ada yang menyiramnya dengan air panas kenapa hatinya sakit?