
Tiara menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi yang baru saja dia tutup. Dadanya berdebar cukup keras saat mengingat dia dan Gio saling berpelukan di atas ranjang tadi. Mata Gio yang begitu bening. Senyumannya yang sangat menawan, dan wajahnya... bertambah seribu kali lipat tampannya dari saat dia terakhir bertemu.
"Akh... tidak. Bukan saling berpelukan, dia yang memelukku!" Tiara mengacak rambutnya dengan kasar. Dia kemudian memegangi dadanya yang masih berdetak dengan tidak beraturan. Pikirannya dengan lancang memikirkan kembali masa lalu mereka yang sangat manis.
"Tidak! Jangan sampai Gio menjadi anak durhaka karena aku!" ucap Tiara dengan gumaman pelan. Tiara meremas dadanya yang sakit. Ini kedua kalinya dia jatuh cinta, tapi dengan Gio lah cintanya terbalas. Jatuh cinta itu menyenangkan, indah, dan serasa bahagia di setiap waktu, tapi dengan kisah cintanya yang dengan pertentangan Nyonya Anyelir... Tiara tidak ingin Gio menjadi anak durhaka yang melawan orangtuanya karena cintanya pada dirinya.
Fuh... Tiara mengehembuskan nafasnya dengan pelan, berharap rasa sesak yang dia rasakan di dalam dadanya keluar seiring dengan hembusan nafasnya.
Tiara melepaskan pakaiannya satu persatu dan meninggalkannya di lantai kamar mandi, masuk ke dalam ruang kaca, menyalakan shower. Seketika air hangat mulai mengucur membasahi tubuh Tiara.
Sepuluh menit Tiara mandi. Tiara keluar dari kamar mandi. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tiara menatap ke arah tempat tidur. Mendesah dengan pelan. Hatinya terasa sakit. Gio sudah tidak ada disna. Dia telah mengusir Gio tadi, tapi kenapa rasanya sangat sakit seperti ini? Tidak ada kata-kata perpisahan dari mulut Gio...
Salah! Aku lah yang meninggalkan dia masuk ke dalam kamar mandi tadi. batin Tiara kecewa. Dia kira dengan perginya Gio dari sini Tiara akan merasa senang, tapi kenapa malah semakin sakit?
Tiara berjalan ke arah lemarinya, dia membukanya mencari piyama. Satu piyama ia tarik dari dalam lipatan baju lalu menyimpannya di bagian paling atas. Tiara membuka handuk yang melilit di tubuhnya, jatuh hingga ke lantai. Tidak peduli dengan tubuhnya yang kini tanpa sehelai benangpun. Tiara lalu menggunakan piyama sebatas lutut itu tanpa memakai apapun di dalam bajunya.
Setiap malam adalah waktu ternyaman bagi tubuhnya untuk rileks, tak ada CD yang melilit di pingganganya, tak ada b*a yang memeluk erat tubuhnya. Lega sekali rasanya setelah seharian memakai kedua benda seperit itu.
"Akh!!" Tiara memekik terkejut saat setelah selesai mengancingkan baju piyamanya. Dua tangan besar yang sangat dia kenal sedikit berbulu melingkari tubuhnya dari belakang, terasa sangat hangat. Tiara tahu betul tangan siapa itu. Tak ingin mengulangi perlakuan yang sama seperti tadi.
Kali ini Tiara hanya diam mematung. Dadanya bergemuruh dengan cepat. Dag-dig-dug tak karuan. Tiara sampai mengutuki dirinya sendiri. Tapi ada rasa senang saat tahu ternyata Gio masih ada di dalam kamarnya.
"Apa yang kau lakukan? Kau belum pulang?" tanya Tiara. Gio semakin mengeratkan pelukan tangannya. Dagunya ia simpan di pundak Tiara. Menghela nafas yang terdengar berat di samping telinga Tiara.
"Aku tak akan pulang. Rasa rinduku masih sangat besar padamu, Ra!" ucap Gio. Tiara hanya diam. Meredam detak jantungnya yang kian berdetak dengan cepat, takut jika Gio bisa mendengarnya.
"Kau tahu kan masuk ke dalam kamar seorang gadis itu hal yang salah?" Tanya Tiara.
"Hem... Aku tahu." jawab Gio singkat. Tiara dan Gio sama-sama diam. Menikmati momen yang ada saat ini. Hangat nafas dan juga hangat tubuh Gio membuat Tiara serasa ingin pingsan. Serasa bermimpi, tapi ini bukan mimpi saat Tiara menggigit bibirnya dengan sedikit keras, sakit. Dan ini memang bukan mimpi!
Tiara semakin mengeratkan giginya pada bibir bawahnya. Kali ini bukan dia masih tak percaya, tapi karena Gio menanyakan hal yang sangat sulit untuk dia jawab.
Iya, aku sangat senang bertemu denganmu! Aku sangat rindu padamu G!
Ingin Tiara meneriakkan kata-kata itu, tapi dia menahannya dengan sekuat tenaga. Bagaimana kalau nantinya Gio malah tak ingin meninggalkannya? Bagaimana kalau nantinya Gio menentang orangtuanya karena gadis tak punya sepertinya? Selain di cap sebagai anak durhaka, bukankah Gio seperti anak yang tahu balas berterima kasih atas segala hal yang mereka berikan?
Tiara meraih pergelangan tangan Gio, mencoba melepaskan pelukan pria itu dari tubuhnya. Namun, Gio malah semakin erat memeluk Tiara tak ingin melepas gadis itu kali ini.
"G, aku mohon!" ucap Tiara. Lepaskan aku. Kau pergilah. Pulanglah! Tidak baik kalau kau ada disini!" Tiara mengingatkan. Gio malah memeluk Tiara lebih erat lagi. Gio senang dengan panggilan Tiara padanya. 'G', berarti Tiara memang masih mengakuinya.
"Aku tanya sekali lagi, apakah kau tidak rindu denganku?" tanya Gio. Tiara masih membisu. Namun, dalam hati dia sangat membenarkan apa yang Gio katakan. Tiara sangat rindu dengan Gio dan ingin sekali balas memeluknya.
Gio melepaskan Tiara saat gadis itu masih saja diam, membuat Tiara merasa kecewa karena kehilangan pelukan Gio yang hangat.
Gio membalikkan tubuh Tiara, mencengkeram erat bahu Tiara, menatap gadis itu dengan tatapan penuh kelembutan.
"Ara. Aku tanya sekali lagi. Apa kamu tidak rindu denganku? Apa kamu selama ini hanya anggap aku ini hanya mimpimu saja?" Tanya Gio tak percaya. Dia sungguh ingin mendengar sesuatu yang terucap dari bibir Tiara. Namun, Tiara malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tidak!" ucap Tiara lirih, masih menatap ke arah lain. Perih hati Gio mendengar apa yang diucapkan Tiara.
"Kau sungguh tidak rindu denganku selama ini?"
Tiara menurunkan tangan Gio dari bahunya dengan perlahan. Gio merasa lemass mendengar penuturan gadisnya ini.
"Maaf, Pak Gio. Kau adalah mimpi terindah yang pernah hadir dalam tidurku!"
Sakit! Hati Gio sakit mendengar ini.