DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 236 spesial Heru



Heru sarapan sendirian di restoran yang ada di lantai bawah. Dia meninggalkan majikannya di kamar. Sudah tahu dengan kode yang Gio berikan tadi kalau keduanya tidak akan keluar hingga siang hari, mungkin akan sampai pada sore atau malam hari.


Selesai dengan sarapan, kini Heru hanya diam untuk menikmati harinya. Segelas kopi panas masih belum ia sentuh. Tangannya masih sibuk menekan huruf-huruf hingga membentuk kata dan kalimat yang ia kirim untuk Ayu.


Heru menghentikan laju jarinya saat sadar dengan kedatangan seseorang yang sangat tidak Heru harapkan, membuat senyum tipis seketika berubah datar kembali, dengan seenaknya dia duduk meski tanpa dipersilahkan oleh si pemilik tempat.


Heru menghela nafasnya lalu mencoba untuk tidak terpengaruh pada kehadiran wanita ini, kembali pada aktifitasnya berkirim pesan.


"Aku tahu kau belum bisa melupakan ku, kan?" Wanita itu berkata dengan lirih. Heru menghentikan akfltifitasnya lalu melirik ke arah wanita itu dengan tanpa mengangkat kepalanya. Hanya sekilas. Dia sadar tidak boleh menatap wanita itu lama-lama.


"Jangan terlalu pede, Anda." ucap Heru.


Naura tertawa mendecih dengan sebal. Dia mengambil kopi yang ada di hadapan Heru mendekatkannya ke mulutnya lalu meniupnya perlahan. Asap tipis yang mengepul kini mejadi hilang di atas permukaannya.


Heru hanya bisa membiarkan perilaku wanita itu tanpa mau memprotesnya.


"Kau masih tetap sama, Her! seperti dulu. Tidak pernah berubah!"


"Kau yakin aku tidak pernah berubah?" tanya Heru kali ini.


"Kau membiarkanku meminum kopimu!" ucap wanita itu dengan tidak malu.


"Hanya sekedar kopi, aku bisa memesan yang lain." Heru tidak peduli membuat Naura semakin kesal.


"Her, aku tidak peduli. Kau dulu meninggalkan aku, mundur untuk dia. Sekarang dia sudah dengan yang lain, aku bebas, kita bisa bersama lagi!" pinta Naura pada Heru. Kali ini Heru benar-benar menghentikan laju ibu jarinya dan menatap Naura dengan tatapan dingin, tapi Naura tidak takut sama sekali. Baginya semua tatapan dari pria ini adalah tatapan cinta untuknya.


"Kau pikir setelah pengkhianatanmu itu aku mau kembali denganmu?"


"Aku berkhianat atau tidak, kau akan tetap menghindariku kan? Hentikan itu, Her. Kau juga berhak bahagia dengan rasamu sendiri, dengan aku!" Naura menegaskan membuat Heru tertawa. Beberapa orang yang ada disana menatap ke arah mereka, tapi kemudian melanjutkan aktifitasnya masing-masing.


"Naura kau tahu. Kau membual terlalu banyak. Kau bermimpi terlalu tinggi. Aku sudah bilang kan dulu. Apa yang menjadi kebahagiaan Tuan Gio adalah kebahagiaan ku. Jadi saat dia bahagia dengan mu tentu saja aku juga harus ikut bahagia. Dan satu lagi, kita tidak pernah bersama saat dulu, jika kau memang berpikir seperti itu. Ingat kita tidak ada hubungan apa-apa."


"Kau wanita yang terobsesi!"


"Aku tidak terobsesi!" Naura mencoba untuk menahan suaranya sepelan mungkin. Rasa di dalam dada membuncah ingin marah, tapi ia sadar dengan tempat dimana ia berada sekarang.


"Aku tahu dan aku yakin kau suka denganku, tapi kau menahan rasamu karena kau juga tahu bahwa Gio suka denganku. Iya, kan?" Naura menatap Heru dengan tajam. Sungguh wanita ini ingin sekali memaki pada pria dihadapannya ini yang kini masih diam dan menatapnya tanpa ekspresi. Lalu kemudian pria itu tertawa lirih dengan ekspresi mengejek. Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri.


"Kau tidak seharusnya mengalah pada pria itu. Kau terus menerus mengalah sama dia. Apa kau tahu apa yang ada di dalam hati ini? Aku sakit saat kau malah menyodorkan ku pada dia." Dengan telapak tangan yang terkepal, Naura menepuk dadanya yang kini terasa sesak.


"Aku tidak menyodorkan mu pada dia. Aku hanya mundur satu langkah untuk dia. Lalu, kau juga terima saat dia mengatakan cinta, bukan? Jadi apa itu salahku?" tanya Heru masih dengan nada yang dingin.


Naura kini sudah membasah di matanya, dia biarkan lelehan hangat itu terjatuh melewati pipinya.


"Aku menerima dia karena ingin tahu reaksimu, tapi kau memang pria yang tidak punya hati!" Naura menekankan nada di setiap kalimatnya.


Heru masih diam, entah pria itu sedang memikirkan apa.


"Kau yang tidak punya hati."


"Itu karena mu, Her! Apa salah jika aku ingin bersama dengan orang yang aku cintai?"


"Tapi aku tidak!"


"Bohong! Aku tahu kau sedang berbohong. Sedari dulu kau memang suka dengan ku, sampai detik ini pun kau suka dengan ku. Tapi apa yang kau bilang barusan? Kau tidak suka dengan ku? Apa kau yakin?" tanya Naura dengan nada sedih.


"Kau tahu Her. Bagaimana aku sakit hati saat kau tidak melirikku? Dulu aku berjanji untuk membuat mu cemburu, untuk membalas sakit hati padamu. Aku menerima Gio sebagai kekasihku, aku menerima kasih sayangnya yang tulus, aku senang, tapi aku akan lebih senang jika itu kau yang perlakuan aku seperti itu. Aku tidak butuh harta, aku tidak butuh kehormatan, aku cukup dengan kau ada disisiku. Tapi dengan adanya Gio kau selalu saja menghindariku. Dan sejak saat itu aku memutuskan untuk bermain-main dengan yang lain, tujuanku hanya satu. Menyakiti perasaan Gio berarti aku juga sedang membalasmu!" Naura membiarkan satu lagi lelehan air mata turun dari mata cantiknya.


Heru terdiam mendengar pengakuan Naura, lalu tertawa kecil.


"Lalu apa yang kau dapatkan sekarang? Aku hanya ingin kau hidup dengan baik, dan Tuan Gio lebih pantas untuk kamu dibanding aku. Justru aku sangat suka dan sangat sayang padamu. Aku sadar diri dengan siapa aku ini, sedangkan kau ... kau ini bagai awan yang sulit aku raih. Oleh karena itu, aku memilih mundur. Aku tahu dia orang yang tepat untuk memanjakanmu. Bukan aku!"