
"Ma, ada yang ingin Dev bicarakan dengan mama."
Kami sedang sarapan bersama pagi ini, tanpa papa, karena papa masih sibuk dengan urusannya di luar kota.
"Apa Dev?" tanya mama menghentikan suapannya.
"Kami akan pindah kembali ke apartemen sore nanti." ucap Devan. Bagus Dev, lanjutkan!
"Kenapa Dev? Anye..." beralih menatapku. Ayolah ma, aku tahu ini hanya akting mama! Mama hanya ingin menyiksaku lebih lama lagi kan?! "...Apa kamu tidak betah sayang? Apa mama kurang baik sama kamu? Apa mama kurang perhatian sama kamu?" mama mencecarku dengan pertanyaan.
"Bukan ma." cicitku, Devan menatapku tajam. Aku fikir dia juga merasa tidak enak mamanya bicara seperti itu, dan mama sukses membuat aku membeku!
"Anye cuma..."
"Devan hanya ingin Anye lebih mandiri lagi ma. Anye sudah belajar banyak di rumah ini. Iya kan sayang?" tanya Devan seraya menyentuh punggung tanganku.
"Iya, trimakasih atas bimbingan mama. Aku jadi sadar kalau seharusnya aku jadi istri yang berguna untuk suamiku. Dan Anye janji setelah ini Anye akan belajar jadi istri yang baik buat Devan. Maaf selama ini Anye merepotkan mama." tersenyum senang karena Devan tidak menyudutkanku, atau melukai perasaan mama. Tapi bisa kulihat raut wajah mama tidak suka. Sorot matanya menjadi tajam menatapku.
"Ah, ya sudah kalau seperti itu. Mama bisa apa, kalau kalian sudah memutuskan? Mama tidak berhak ikut campur urusan rumah tangga kalian. Mama pasti akan kesepian kalau kamu tidak ada, Anyelir!" Sungguh bijaksana, namun sayangnya itu hanya akting belaka!
*
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya mama mencekal tanganku saat aku sedang mencuci piring bekas kami pakai tadi. Devan baru saja berangkat bekerja.
"Maksud mama? Rencana apa?" tanyaku balik.
"Kenapa Devan menurut sama kamu hem? Apa yang kamu berikan sama Devan, apa kamu kasih guna-guna sama anak saya?!!" bentak mama tepat di telingaku.
"Guna-guna? Mama masih percaya dengan hal seperti itu?" aku tersenyum menatap mama, sedangkan cekalan mama semakin kencang disana.
"Apapun yang kamu rencanakan, Anye, kamu tetap harus meninggalkan Devan pada waktunya nanti. Ingat perusahaan papamu yang sedang jadi taruhannya!" lagi-lagi mengingatkan.
"Aku tidak lupa ma, hanya mama yang mengingatkan ku tentang hal itu. Dan hanya mama yang menganggap perusahaan papa jadi taruhan. Kenapa mama tidak bisa berusaha menerima aku? Sudah jelas aku yang di cintai Devan bukan kak Melati!" Mama melepaskan cekalan tangannya namun beralih ke kedua pipiku, sakit! Mata mama melotot tidak suka, rahangnya mengeras. Benar-benar sosok antagonis.
"Sampai kapanpun kamu gak akan cocok untuk menjadi bagian dari rumah ini, mengerti!" mama menghempaskan wajahku ke samping.
"Ma, kenapa mama tidak suka aku? Apa hanya karena statusku? Mama juga wanita kan, tidak bisa kah sedikit saja mama bisa sayang sama aku. Aku akan jadi anak yang baik, aku juga akan jadi istri yang baik buat Devan."
"Cuih!!! sayang? bahkan lihatpun saya enggan!" mama melenggang pergi tanpa peduli lagi denganku yang merasa lemas. Lututku bergetar, hampir saja aku oleng kalau tidak ada yang menahanku dari belakang.
"Mbak, tidak apa-apa, kan?" tanya Nila, seorang pegawai dengan usia tak jauh dariku. Dia membawaku duduk ke kursi. Selama disini Nila yang sering membantuku. Diam-diam dia membantu pekerjaanku jika mama tidak melihat, membawakan roti ke kamarku saat aku tidak boleh makan.
"Tidak apa-apa." ucapku.
"Yang sabar ya, mbak. Saya buatkan teh hangat?" tawar Nila.
"Tidak usah, mbak Nila. Anye mau ke kamar saja. Bisa mbak tolong antar saya ke kamar?" Nila mengangguk lalu membantuku bangkit dan memapahku ke lantai atas.
"Gak nyangka, nyonya tega ngelakuin ini sama menantu yang sedang mengandung cucunya! Saya fikir nyonya itu baik, dia gak pernah marah-marah selama ini, palingan cuma ngomel kalau sama tuan, sikapnya juga manja. Tapi gak nyangka di balik itu semua dia seperti monster!" Nila mendumel kesal sambil membantu aku berbaring.
"Huss, nanti kalau kedengaran bisa di eksekusi loh mbak!" peringatku sambil terkikik.
"Ya maaf, mbak. habisnya saya kesal mbak, padahal sama-sama wanita tapi gak ngerti! Apa susahnya terima yang ada, lagipula mbak Anye juga sudah sedia mengandung cucunya! Kayak gak inget saat dia mengandung aja!"
"Sudah-sudah. Terimakasih ya mbak Nila, selama disini sudah bantuin Anye." ku pegang tangannya yang masih merapikan selimutku.
"Sama-sama mbak, semoga mbak bisa kuat dengan sikap mertua seperti itu. Mbak jadi pindah sore nanti?" tanya Nila.
"Iya, jadi."
"Syukurlah. Saya sebenarnya sedih kalau mbak pindah, gak ada temennya lagi, tapi itu lebih baik daripada disini. Rumah mewah tidak menjamin kebahagiaan orang di dalamnya." celetuk Nila dan aku membenarkan.
"Iya."
Pintu ditutup dari luar. Benar. Rumah mewah bak istana, tapi tidak ada kebahagiaan untukku disini. Mama, papa, kak Mel, aku kangen!
Hanya Nila yang cukup dekat denganku mungkin karena dia asisten yang paling muda disini. Nila baru saja bekerja saat awal aku menikah. Mungkin karena usianya yang masih muda kami satu pemikiran.
*
Sore tiba, aku duduk di tepi ranjang sedangkan Devan sedang merapikan barang-barang kami, memasukkan baju-bajuku terlebih dahulu ke dalam koper.
"Anye, kamu yakin mau pindah ke apartemen lagi?" lagi Devan bertanya hal itu.
"Iya. Kenapa? kamu gak mau? Kalau kamu gak mau biar aku saja sendiri yang ke apartemen!" kesal karena Devan seprti tidak ingin kembali kesana.
"Tapi mama sendirian disini." Devan seperti bimbang.
"Kan aku sudah bilang, kalau kamu mau disini tidak apa-apa. Biar aku sendiri yang ke apartemen. Aku bisa tinggal disana sendirian." mulai kesal. Kenapa Devan akhir-akhir ini menjadi plin-plan? Apa karena pengaruh mama?
Devan terlihat menghembuskan nafasnya kasar. Mungkin dia merasa bingung. Tapi tangannya tidak berhenti membereskan baju-baju kami.
*
*
*
Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur yang sudah hampir dua bulan ini di tinggalkan. Rasanya menyenangkan sekali. Meski sudah lama di tinggalkan tapi sprei ini terasa harum. Semua ruangan juga terlihat rapi dan bersih.
"Harum!"
Devan terkekeh melihat tingkahku yang membuat kasur berantakan. Berguling ke kanan dan ke kiri membuat bantal-bantal terjatuh ke lantai.
Devan mengambil bantal itu dan kemudian menyimpannya pada tempatnya. Berbaring miring di sampingku dengan satu tangan menopang kepalanya.
Grep.
Lengan Devan menangkap pinggangku. Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Mengusap pipinya yang sedikit kurus sekarang.
"Kamu kelihatan kurus Dev."
"Mungkin karena aku capek sering keluar kota." ujarnya lalu melabuhkan ciumannya di keningku.
"Aku janji akan urus kamu supaya kamu tidak kurus lagi. Jelek kelihatannya." Devan terkekeh kembali menciumi seluruh wajahku.
Aku rindu perlakuan manisnya. Jujur di rumah mama, kami tidak bisa bebas melakukan apapun, bahkan terkadang saat kami akan bercinta ada saja panggilan mama, entah ini lah, entah itu lah. Hingga Devan kembali ke kamar dengan keadaan lelah dan langsung tertidur.
"Dev." panggilku sambil menarik-narik kancing bajunya.
"Hem..?" Devan menjelajah leherku dengan bibirnya.
"Kamu...gak mau gitu nengokin anak kita?" lirihku sambil membuka kancing bajunya dan memainkan tonjolan di dada Devan yang mengeras. Malu? Ah tidak. Karena aku ingin! ðŸ¤
"Tentu saja mau! Sebentar lagi. Biarkan aku main-main dulu sama mommy nya sebelum nengokin anaknya!" kembali menciumi leherku, membuat aku mengeluarkan suara.
Selama dirumah mama mana berani aku berisik. Malu lah, tapi disini aku bebas untuk berteriak menyebutkan nama suamiku tanpa malu. Bahkan Devan pun sama, kami saling berteriak seperti sekarang saat Devan menghentakkan miliknya di inti tubuhku.
Peluh membasahi tubuh kami, udara dingin sudah tidak terasa malah kami merasakan panas di dalam kamar ini meski AC sudah di atur sedemikan rupa. Desahan dan erangan keluar dari mulut kami masing-masing. Saling menghentak, dan mencecap rasa. Mereguk indahnya syurga duniawi.