
"HARUS BAGAIMANA AKU MEMOHON SUPAYA KAMU KEMBALI!!!" teriakku memukul dadanya keras.
"Aawwww!!! Hentikan, kamu bisa membunuh aku beneran!" suara memekik terdengar jelas. Kedua tanganku di tahan olehnya. Devan?!! Dia tersenyum dengan jahilnya menatap lekat ke arahku. Aku hanya terbengong tak percaya.
Kurang ajar! Pria ini... dia... beraninya dia membohongiku!
"Devan. Sialan kamu!! Kamu bohongin aku!!" teriakku menarik tanganku dan memukuli dadanya lagi. Aku merasa kesal. Sudah menangisinya seperti orang bod*h!
"Aww, maaf, maaf. Tapi ini sakit. Beneran. Aku bisa mati kalau kamu terus pukul aku." Devan berseru menahan tangan ku lagi. Kali ini dia menarikku hingga aku terjatuh di atas tubuhnya. Dia tertawa penuh kemenangan.
"Baj*ngan. Lepaskan aku!" teriakku, sambil meronta darinya. Dia memelukku dengan erat, menahan kepalaku untuk bersandar di dada bidangnya. Aku masih meronta dan memukulinya. Marah. Tapi aku juga senang kalau ternyata dia baik-baik saja! Aku senang...
"Anye, berhenti bergerak. Punggungku sakit kalau kamu terus bergerak seperti itu!" ucapnya.
"Aku gak peduli! Kamu sudah bohongi aku. Lebih baik kamu mati saja. Aku gak peduli. Aku benci kamu!!!" teriakku. "Aku benci kamu, Devan. Sangat benci!" lirihku kemudian, berhenti memukulinya. Aku terisak di dadanya. Rasanya senang sekali dia selamat.
"Maaf. Maaf." dia memelukku erat dan menciumi pucuk kepalaku. "Aku gak bermaksud buat bohongi kamu. Aku hanya ingin tahu reaksi kamu kalau aku mati!" ucapnya sambil tertawa lirih.
"Dasar kamu! Aku kira kamu beneran mati!" ku pukul dia sekali dengan pukulan pelan. Dia memekik lagi. Dasar payah! Hanya pukulan kecil saja dia berteriak sekeras itu!
"Payah, aku pukul pelan saja kenapa reaksimu berlebihan?!"
"Sepertinya ini serius! Lukaku terbuka lagi!" ucap Devan lirih. Aku segera bangun dari atas tubuhnya, dia terlihat lebih pucat dari yang tadi. Wajahnya terlihat kesakitan.
Dokter Vero menggelengkan kepalanya lalu mendekat dan membantu Devan duduk perlahan, dia membuka perban yang melilit di tubuhnya. Terlihat darah segar disana.
Dokter Vero dan perawat melakukan pertolongan pada Devan. Setelah beberapa saat dokter selesai dengan Devan. Devan membuka tangannya lebar-lebar, menarik turunkan alisnya. Aku tahu apa maksudnya.
"Tidak mau!" ucapku kesal, mengalihkan pandangan ku darinya.
"Oh, ayolah sayangku. Jangan pura-pura lagi!" ucap Devan dia meraih tanganku menariknya, lagi aku terjatuh dalam pelukannya. Hangat.
"Maaf. Maafkan aku sayang. Sumpah aku tidak ingin mempermainkan kamu. Aku cuma ingin tahu isi hati kamu buat aku. Itu saja! Dan ternyata usaha ku ini tidak sia-sia. Aku berhasil bikin kamu jatuh cinta lagi sama aku!" satu ciuman hangat mendarat di pucuk kepalaku.
"Mana ada! Aku tadi hanya asal bicara karena terbawa emosi!" Kilahku. Masa iya aku bilang karena aku memang... OMG aku tidak bisa bohong lagi. Aku memang masih cinta dia. Hatiku melonjak gembira, tapi aku berusaha menahan diriku untuk tetap terlihat biasa!
"Akui saja. Jangan berbohong lagi. Mau hidung kamu panjang seperti Pinokio?!" Dia menjepit hidungku. Aku menggeleng pelan, melesakkan kepalaku di atas dadanya. Nyaman sekali. Benar-benar nyaman. Semoga saja rasa nyaman ini bertahan untuk selamanya!
"Ekhemmm!!" Upsss. Aku lupa! Masih ada orang lain di ruangan ini!
"Nyonya Lita, lebih baik aku cari makanan untuk kita." suara Samuel menginterupsi. Dia juga menarik lengan baju dokter Vero.
"Iya, aku juga. Lebih baik aku temani suamiku untuk pergi ke kantor polisi siang ini!"
Aku menegakkan diriku.
"Ibu." ucapku malu. Benar-benar tidak tahu situasi karena kami bermesraan di depan mereka. Ah... ini memalukan! Rasanya aku ingin terjun lewat jendela untuk menghindari tatapan mereka. Tapi pasti aku akan patah tulang kalau terjun dari lantai tiga rumah sakit ini!
"Sudah-sudah. Lanjutkan saja!" Ibu Lita mengibaskan tangannya, dengan wajah penuh maksud.
"Anakku, mama sudah membantu mu. Sekarang mama tidak mau ikut campur lagi, oke!" Aku melongo mendengar perkataan ibu Lita. Mereka saling melemparkan kedipan mata. Jadi.... yang tadi, mereka memang sengaja mempermainkan aku? Mereka pura-pura?! Memang mereka Ibu dan anak! Hebat, aku ditipu mentah-mentah! Seseorang berikan mereka piala dengan akting terbaik!
"Iya. Mama. Trimakasih. Mamaku memang hebat! Paling hebat!" ucap Devan dengan bangga, mengacungkan jempolnya pada ibu Lita.
Ibu Lita berjalan pergi sebelum aku bisa berbicara. Mereka dengan cepat menghilang di balik pintu. Aku mendelik ke arah Devan. Kalau saja orang ini tidak sedang sakit, sudah aku remas-remas wajahnya! Eh tapi kan yang sakit itu punggungnya bukan wajahnya!
"Heh, kenapa senyum seperti itu?" tanya Devan. "Jangan fikir mau menindasku ya!" ucapnya dengan mimik wajah di buat takut.
"Kamu... Dasar pria tidak berperasaan. Sudah bikin aku nangis dan sedih. Dan sudah buat mataku bengkak seperti ini!" geramku. Ku cubit pipinya keras. Dia mengaduh, tapi juga tertawa dan memohon ampunanku. Tidak bisa! Aku belum puas! Pokoknya aku tidak akan lepaskan dia!!
"Ampun. Sakit!" keluhnya. Pipinya sudah merah akibat cubitanku. Aku melepaskan dia. Devan memegangi kedua pipinya sambil merengut sebal. Hei, harusnya aku yang bermimik wajah seperti itu!!
"Maaf!" bujuk Devan. Lagi-lagi dia memelukku.
"Sakit, sayang!" Huh orang ini, sudah buat aku marah, tapi aku juga tidak bisa lama-lama marah sama dia! Dasar keterlaluan!
"Aku sudah nunggu kamu semalam, ingin jadi orang yang pertama kamu lihat saat kamu sadar. Tapi kamu... Keterlaluan!!!" jeritku memukul pelan pundaknya. Devan tersenyum. Senyumnya sangat manis. Devan merebahkan kepalaku di dadanya. Terdengar bunyi detak jantungnya yang tidak karuan.
"Yang aku lihat duluan memang kamu kok!" ucapannya membuat hatiku merasa hangat. Dia mengelus kepalaku pelan. "Terimakasih karena sudah tunggu aku semalaman." ucapnya.
"Tapi aku ketiduran semalam! Kenapa tidak bangunkan aku?" tanyaku.
"Tidak apa-apa. Malah lebih bagus lihat wajah kamu saat tidur. Lebih tenang dan tidak bar-bar seperti tadi!" Devan tertawa. Sialan, pria ini, tapi sayang nya aku suka! Aku gila! Haruskah setelah ini aku pergi ke psikiater untuk memeriksakan diriku? Aku bisa jatuh cinta dengan pria seperti dia!
Aku balas memeluknya.
"Aku cuma gak mau ganggu tidur kamu. Kamu terlihat sangat lelah semalam. Kenapa kamu tidak tidur di atas brankar?"
"Tidak mau! Aku mau menjaga kamu sampai kamu bangun!" ucapku.
"Lalu kenapa tidak naik saja disini dan tidur sama aku?" alisnya naik turun dengan senyuman jahil di wajahnya. Dasar!
"Tidak mau. Kamu kan mesum!"
"Mesum sama istri sendiri tidak salah kan!" ucapnya santai.
"Dev."
"Hem?"
"Jangan pergi lagi." Lirih ku. Aku langsung menutup mulutku. Tidak aku sangka aku bisa bilang hal seperti ini.
"Apa? Kamu bilang sesuatu?" tanya Devan! Menyebalkan! Dia sedang menggodaku sekarang!
"Tidak bilang apa-apa!" jawabku memeluknya semakin erat, menggosokkan pipiku di dadanya.
"Sudah mulai jatuh cinta lagi sama aku?" tanya Devan. Ohh ya Lord, tidak bisakah dia tidak menghancurkan momen ini! Penghancur suasana!
"Siapa yang jatuh cinta? Enggak ya!" Aku melepas pelukanku dan duduk tegak di sampingnya. Wajahku terasa panas.
"Oh ya? Perasaan tadi aku dengar kamu bilang gak bisa hidup tanpa aku! Akan maafkan aku. Dan juga kamu bilang sudah jatuh cinta lagi sama aku!"
"Aku sudah bilang kan itu karena emosi ku saja!" kilahku untuk kesekian kalinya.
"Oh ya? Masa?" Devan tersenyum jahil. Dia menarikku lagi. Oh, aku seperti tambang baginya sekarang, tarik lagi, tarik lagi! Sebal!
"Sudahlah! Akui saja kenapa sih?" ucapnya lagi.
"Jahat kamu! Jangan pernah pikir buat ninggalin aku lagi ya! Aku takut Dev. Benar-benar takut kalau kamu pergi." lirih ku.
"Iya, aku janji! Maaf ya. Aku janji gak akan tinggalin kamu." ucapnya. Dia mengambil kedua pipiku dengan tangannya dan menciumi seluruh wajahku. Aku meronta, takut kalau-kalau lukanya terbuka lagi. Dia benar-benar tidak seperti pasien!
"Dev, hentikan!" dia tidak mendengarkan. Aku kehabisan oksigen karena ulahnya. Devan terus saja menggerakkan lidahnya di dalam mulutku.
"Hmmmppt, Devhh... Mmmm" Aku memukuli dadanya pelan. Mendorong tubuhnya saat aku benar-benar kewalahan. Aku mengambil nafas dalam-dalam.
"Luka kamu. Nanti terbuka lagi!" aku mengingatkan. Dia mengusap sudut bibirku yang basah.
"Tidak masalah lukaku akan terbuka beberapa kali lagi. Yang penting kamu ada disini untuk rawat aku." Haisss ini orang. Minta di jitak kali ya!
Oh tidak. Jantungku. Aku butuh dokter. Jantungku tidak sehat sekarang!
Dokteeerrrr!!!