
Ceklek.
Pintu mobil terbuka. Gio pura-pura mengambil hpnya dari dalam saku celana, dan membuka pesan atau apapun itu. Tak ingin jika dirinya ketahuan menunggu dan ingin mengecek Tiara.
(Ngintip, Bang, Ngintip! Masih ngeles!)
"Sudah, Pak!" Gio menoleh saat mendengar suara Tiara. Dia terpaku. Gadis itu... gadis itu.. Wow... cantik!
Tiara mendekat ke arah Gio. setiap langkahnya ringan seperti tak menapak pada lantai. Wajahnya cantik dengan rambut tergerai indah hingga ke punggung. Gaun yang dia pakai sangat pas, melekat indah di tubuhnya. Sungguh berbeda dengan sehari-hari saat dia bekerja. Apalagi jepit rambut yang ada di rambutnya membuat dia terlihat manis.
"Pak Gio, ayo!" seru Tiara saat sang bos malah terdiam melongo menatap dirinya. Tiara risih juga. Apa mungkin karena gaun ini pendek?
Tiara menarik-narik bawah gaunnya yang sebenarnya tidak pendek, hanya sebatas lutut. Dia hanya tidak terbiasa dengan gaun yang seperti itu. Harusnya Gio membelikan dia celana dan kaos saja atau kemeja, buka gaun! Dia seperti anak ABG yang sedang main ke mall!
"Pak Gio. BIsa ganti saja gaun ini dengan yang lain tidak?" tanya Tiara.
Gio tersentak bangun dari lamunan, dia tersadar dari sosok gadis yang mendadak manis ini.
"Tidak perlu. Sudah pakai saja baju itu. Sudah siang. Lagipula kita cuma beli wajan aja setelah itu pulang." ucap Gio.
Tiara mengangguk patuh. Ya sudah lah kalau cuma sebentar saja.
Dua orang itu masuk ke dalam supermarket.
"Bahan makanan habis kan?" tanya Gio.
"Ummm... ada beberapa yang harus di beli sih!" ucap Tiara. Gio mengambil troli dan mendorongnya.
Tiara mengikuti dari belakang.
"Ini sih namanya bukan cuma beli wajan terus pulang, tapi belanja bulanan!" ucap Tiara kesal.
Gio yang mendengar gumaman Tiara hanya tersenyum tipis, tak peduli dengan gumaman kekesalan gadis itu.
Tiara tetap mengikuti langkah kaki Gio sambil melihat-lihat barang apa yang akan ia incar untuk mengganti barang lama di rumahnya. Bulan besok tentunya, setelah dia gajian.
Dia ingat panci ibu yang sudah penyok, wajan ibu yang sudah lengket dan barang-barang lain yang sudah sangat gatal sekali ingin ia upgrade dari area dapur. Tentunya harus tanpa sepengetahuan ibu saat dia membuangnya. Ibu pasti akan mengomel jika barang-barang itu ia buang, katanya...
"Kalau masih bisa di pakai gak perlu di ganti!" begitu ibu bilang, tapi saat ibu membersihkan wajan yang lengket dan susah dibersihkan pasti akan marah-marah. Kadang ia ingin bertaya pada yang lain. Ibu-ibu yang lain pakah sama dengan ibunya kalau sedang seperti itu?
Gio mendorong troli ke arah Tiara, hingga troli itu menggelinding. Tiara mengangkat tangannya dan menghalau troli itu supaya tidak menabrak tubuhnya.
"Daripada ngelamun. Bawa!' ucap Gio. Tiara kesal. Sebagai seorang laki-laki harusnya dia yang membawa troli kan. Tapi dia juga bos...!
Nasib bawahan.
"Ayo." seru Gio mengajakTiara ke tempat selanjutnya. Sebelum beranjak darisana Tiara sempat melirik harga wajan penggorengan yang Gio masukkan ke dalam keranjang belanjaannya.
Glekk...
Gila... Harganya saja, ongkos aku bekerja satu bulan! gumamnya dalam hati!
Insecure.
Tiara segera menyusul Gio yang sudah berbelok di ujung rak. Mereka menuju ke stand sayur, daging dan buah.
Naluri seorang perempuan, walaupun tidak yakin semua seperti itu, tapi hal yang menyenangkan bagi Tiara adalah belanja. Apalagi? benar kan? tapi anehnya baginya lebih baik belanja bahan makanan daripada membali baju.
Gio memperhatikan Tiara yang sedang memilih sayuran dan daging. Bibirnya tersenyum membuat wajahnya semakin berseri, lebih cantik. Tak ada hal yang menyenangkan baginya saat melihat hal yang seperti itu. Tapi tetap saja wajah cemberutya masih tetap menjadi juara di hati Gio.
Mereka selesai berbelanja lewat dari jam makan siang. Gio membawa Tiara ke restoran yang berada tak jauh dari supermarket.
Pelayan datang menghampiri mereka, Gio melakukan pemesanan sementara Tara sedang memainkan hpnya, mengecek notif di medsosnya.
"Eh..., Tiara?" suara seorang pria terdengar dari belakang Gio. Membuat Tiara seketika menoleh mengangkat kepalanya.
"Mas?"
.
.
.
.
Weleh-weleh. Siapa tuh?