
Aku masih berfikir kemana aku harus mencari Anyelir. Helikopter, yang berarti orang itu bukan orang sembarangan. Lalu saat Anye memeluk dia, Anye yang memeluk, berarti Anye kenal kan dengan dia.
Mengingat-ingat semua dari awal, Anye tidak punya banyak teman. Hanya Nanda, Nayara, dan Sofia...apa mungkin Edgar?
"Ke rumah keluarga Narendra!" titahku pada Seno.
"Tapi tuan, mereka bisa menuntut kita karena mengganggu kenyamanan mereka." Seno mengingatkan.
"Tidak peduli. Aku hanya ingin menemukan Anye!"
"Apa tuan yakin Anye ada disana?"
"Mungkin. Aku hanya ingin memastikan."
Melihat jam di tanganku. Ini masih jam empat pagi. Tapi aku tidak peduli. Bisa saja Edgar pulang ke sini karena telfon dari Anye.
Sampai di kediaman Narendra. Satpam menghadangku. Tentu saja karena tidak ada yang menerima tamu di jam seperti ini.
"Maaf pak, tuan dan nyonya masih istirahat. Nanti saja bapak datang lagi." satpam menghentikan ku. Aku tak peduli! Aku berteriak kencang memanggil nama Sofia. Persis seperti orang gila, aku sadar itu! Terus berteriak kencang hingga akhirnya satpam menarikku.
"Pak mohon bapak tidak membuat keributan!" satpam itu marah. Aku merangsek masuk, dia menarik tanganku.
"Lepaskan aku harus bawa istriku pulang!" teriakku.
"Istri yang mana pak? Tidak ada tamu yang datang kemari!" jelasnya. Seno menahan satpam itu, mereka sampai bergelung di tanah, aku berlari ke arah pintu menggedornya dengan kencang.
"Sofia!! Sofia!!" terus berteriak kencang.
"BUKA PINTUNYA. SOFIA!!!"
"Sof, biarkan aku bertemu dengan Anye! Please Sof! SOFIAAA!!!" leherku terasa sakit. Tanganku juga. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin ketemu dengan Anyelir.
Setelah melihat semua video itu aku merasa sangat bersalah pada Anye. Mungkin dia sakit hati dan meminta bantuan pada yang lain. Aku sudah membuat Anye tersiksa selama ini. Pastilah dia merasa tertekan. Apalagi sedari kemarin aku kasar dengan dia.
"Sof, please buka pintunya, biarkan aku bertemu dengan Anyelir!! Edgar, kembalikan Anye padaku! Edgarr!!!" mataku panas, ingat bagaimana keadaan dia dan putranya sekarang. Apa mereka baik-baik saja?
Pintu terbuka lebar. Andika dan Dea, orangtua Sofia, terlihat di balik pintu. Wajah mereka terlihat lelah dan marah. Tentu saja siapa yang tidak akan marah jika tidurnya di ganggu?
"Ada apa ini?" tanya om Andika garang. "Ada apa kamu kesini Dev?" Dia kenal denganku karena beberapa kerjasama yang terjalin diantara kami.
"Mana Sofia, om. Edgar? Aku harus bertemu dengan mereka"
"Sofia!!! Edgar!!!!" teriakku kencang. Aku berjalan masuk melewati kedua orangtua itu. Tidak sopan? Aku tidak peduli!
"Sofia!!!!" teriakku lagi.
"Devan, ada apa ini. Masih pagi sudah datang kesini dan membuat kegaduhan!" om Andika bingung melihatku.
"Dimana kalian menyembunyikan istriku? Dimana Edgar?
"Anye?" tanya tante Dea bingung.
"Siapa lagi tante? Dimana Anye?"
"Kami tidak menyembunyikan Anye Dev. Buat apa? Anye tidak ada disini. Edgar juga tidak ada, dia masih di Inggris!" ujar Tante Dea.
"Anye tidak ada, tante. Dia pergi!" om Andika dan Tante Dea terkejut.
"Apa Dev? Anye pergi?!" suara Sofia terdengar dari arah tangga. Dia setengah berlari menuruni tangga. "Anye pergi kemana? Kenapa dia pergi?" dia terlihat panik berlari ke arah kami.
"Mana Edgar? Kalian jangan berpura-pura. Dia pasti yang bawa Anye pergi! Dia sudah bilang dulu akan bawa Anye pergi, kalau kalian tidak beri tahu dimana istriku aku akan bawa ini ke kantor polisi, dengan tuduhan penculikan..."
Plaakkk!!!
Pipiku panas. Tamparan Sofia terasa jelas disana. Wajah Sofia terlihat marah.
"Berani kamu salahkan kakakku. Salahkan diri kamu sendiri Devan!!" jerit Sofia.
"Kamu tidak percaya dengan istri kamu sendiri. Dan sekarang kamu salahkan kakakku?! Dimana otak kamu?!" teriaknya, urat-urat membiru terlihat jelas di wajahnya.
"Edgar bawa Anye pergi. Kembalikan!" lirihku, memohon.
"Mau kamu aku tampar lag?!!Meskipun kakakku bisa jadi brengsek karena cinta, tapi Anye bukan tipe wanita yang bisa meninggalkan suaminya!"
"Kamu datang kesini membuat kegaduhan hanya untuk salahkan anak kami?" Om Andika angkat suara.
"Anye pergi dengan laki-laki."
"Lebih baik kita duduk. Bicarakan dengan tenang. Dev, pi. Ayo." Tante Dea menarik kami berdua ke sofa.
"Sof, buatkan kami teh hangat." Sofia mengangguk lalu pergi.
"Cerita kan semua. Meskipun Edgar suka dengan Anye, tapi kami yakin bukan Edgar yang bawa Anye pergi."
Aku menceritakan semuanya. Dan memperlihatkan rekaman saat Anye di bekap lalu memeluk orang itu.
"Memang ini semua salahku karena tidak percaya dengan Anye. Tapi siapa lagi yang bisa bawa Anye pergi? Dia di jemput dengan Helikopter."
"Hanya karena kami punya helikopter jadi kamu tuduh anak kami begitu?" tanya om Andika.
Aku mengusap wajahku kasar, tidak tahu lagi harus bagaimana. "Aku hanya curiga pada putra kalian. Dia pernah bilang akan membawa Anye pergi jika aku membuatnya sedih."
Om Andika mendecih, tertawa mengejek.
"Memang pantas jika Edgar berkata seperti itu. Wajar saja, dia sangat mencintai Anye. Tidak ada yang mau melihat orang yang di cintainya terluka. Maka kami juga akan mengatakan satu hal Dev. Jika memang Edgar membawa Anye pergi, kami akan mendukung keputusan Edgar. Meski pun dia salah tapi dia tahu caranya mencintai seorang wanita. Dia tahu cara menjaga Anye."
Sofia datang dengan tiga cangkir teh di atas nampan.
"Jadi benar Edgar membawa Anye?" tanyaku.
"Sayang nya Edgar tidak ada disini."
"Lalu dimana mereka? Please kembalikan Anye padaku. Please." aku memohon, tak peduli dengan air mataku yang mulai keluar.
"Om, tante, tolong. Aku salah, aku salah. Aku akan minta pengampunan dari istriku. Aku sangat cinta dia." aku beringsut dari dudukku ke lantai, berlutut di hadapan mereka bertiga.
"Kembalikan Anye, om. Tolong beri tahu dimana mereka." mohonku. Jika perlu aku akan mencium kaki mereka.
Om Andika menghela nafas panjang.
"Edgar di Inggris, dia tidak pulang."
"Lalu dimana istriku?"
Tante Dea mengambil hpnya dan melakukan sebuah panggilan.
"Duduklah di kursi Dev, tidak perlu melakukan itu."
"Tidak tante. Aku hanya ingin istriku pulang."
Terdengar suara seseorang entah di panggilan ke berapa.
Edgar terkejut saat mendengar Anye hilang. Dia memaki ku dengan kata-kata kasar dan bersumpah jika dia sampai menemukan Anye, dia tidak akan mengembalikannya padaku. Aku menangis. Rasa takut seketika bertambah. Jika tidak dengan Edgar, lalu Anye dengan siapa?
"Puas kamu sudah tuduh anak saya?" tanya Om Andika saat panggilan sudah di akhiri. Aku terdiam.
"Anye tidak ada disini. Lalu bagaimana kamu akan bertanggung jawab karena sudah mengganggu kami pagi ini?" om Andika melipat kedua tangannya di depan dada.
"Maaf om. Aku terbawa emosi."
"Maaf? Kamu sudah mengganggu kami di pagi hari. Menuduh anak kami. Menyakiti Anyelir. Apa yang pantas kamu lakukan sebagai ganti rugi karena hal ini?"
Aku menghela nafas berat. Sungguh sekarang ini aku bingung, takut.
"Terserah om, jika om ingin aku membatalkan kerjasama dengan perusahaan XX aku akan lakukan, aku akan serahkan kerjasama itu untuk om."
Dia mendecih sembari tertawa sinis.
"Itu hanya sebuah pekerjaan dan menghasilkan uang. Tapi nasib Anyelir? Tidak bisa di samakan dengan semua hal itu bukan?"
Ya aku salah. Aku salah!
"Menangis tidak ada gunanya Dev!" Om Andika menarik tanganku dan menyuruhku duduk.
"Aku gak tahu dimana Anye om. Bagaimana keadaan dia dan anaknya?"
"Anak kalian Dev!" potong Sofia. Aku memandang Sofia lekat. "Kalau kamu tidak percaya anak itu anakmu, lebih baik kamu tinggalkan saja Anye. Dia tidak pantas dapatkan pria seperti kamu, yang tidak percaya dengan istri sendiri. Baj*ngan!"
*
*
*