DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. Part 22



Sebuah mobil hitam mendekat, pria itu masuk ke dalam mobil. Lalu kemudian berpacu dengan cepat berharap bisa menyusul gadis itu.


Di dalam mobil yang berbeda, Renata menetralkan deru nafasnya yang masih sesak. Ia tidak pernah berlari secepat dan sejauh ini, terakhir saat dirinya mengikuti perlombaan lari semasa SMP dulu.


"Selamat berjumpa lagi, Nona Manis!" ucap pria yang menolongnya tadi. Ah bukan menolongnya, nyatanya Renata keluar dari kandang kucing untuk masuk ke kandang singa!


Renata melengos sebal.


"Telfon temanmu. Jangan libatkan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan urusan kita!" ucapnya ketus masih dengan mengatur nafasnya.


"Wow... galak sekali! Baiklah. Karena kamu sudah menjadi gadis baik, aku akan menuruti apa katamu!" Dia mengeluarkan benda pipih dari saku bajunya, lalu menelfon seseorang sebentar.


"Sudah! See? Kalau kamu menurut, tentu semua akan menjadi mudah bukan?" tanya pria itu tenang.


"Kenapa kamu terus saja mengangguku? Sudah aku bilang cari saja paman dan bibiku. Bukankah dengan tanda tangan mereka semua akan jadi milik kalian?!" geramnya kesal.


"Sudah aku bilang, kan. Mereka pergi dengan membawa uang kami. Kalau saja mereka tidak menghilang, tentu kamu tidak akan sesusah ini!"


Pria berusia hampir tiga puluh tahun itu menyandarkan dirinya ke sandaran kursi, dia menatap Renata yang memalingkan wajahnya keluar dari jendela mobil.


...***...


Axel baru saja sampai di kantornya. Dia menatap kertas yang baru saja Gio berikan padanya.


"Kami sudah mendapatkan jejak dimana paman dan bibi Renata. Orang ku sedang menyusul mereka. Axel, aku harap kamu tidak terkejut kalau ada kemungkinan jantung itu milik kakak Renata. Golongan darah mereka sama!"


Axel terdiam. Tidak tahu harus berbuat apa. Nyatanya apa yang Gio katakan sama sekali tidak membuatnya terkejut. Reaksi Renata saat melihat lukisannya tadi sudah membuatnya kuat untuk menerima kenyataan, entah ini kenyataan terburuk atau tidak. Tapi perasaan Axel memang sedang buruk hari ini.


"Aku tahu. Renata mengenali lukisan itu!" ucap Axel membuat Gio menatapnya.


"Lukisan yang mana?" tanya Gio.


"Lukisan anak laki-laki yang selalu aku impikan. Dan juga ... Renata adalah gadis kecil pemilik kalung giok itu!" ucap Axel.


Gio terperangah, tidak menyangka dengan takdir yang Axel dapatkan.


Apakah Axel seorang cenayang? Atau mungkin yang dinamakan memori sel itu nyata? Padahal dokter saja masih belum tahu apakah jantung memang punya memori atau tidak. Riset kesehatan menyatakan memori hanya ada di otak. Lalu pada beberapa kasus langka seperti Axel apa namanya?


Dari sekian banyaknya riset orang yang menerima donor jantung. Memang ada beberapa yang berubah, sifatnya maupun kesukaannya. Dan mungkin Axel salah satunya!


Gio tahu betul, Axel tidak suka menggambar. Gambaran tangannya bahkan seperti anak tk yang acak-acakan. Tapi setelah operasi pendonoran jantung itu, dia jadi jago menggambar dan melukis.


"Aku tidak menyangka ternyata Renata gadis cilik di lukisan itu?" Gio tertawa miris. Terjawab sudah rasa penasarannya akan kedua lukisan itu. Ternyata mereka saling berhubungan dan tak ia sangka gadis itu adalah Renata.


Pencarian keluarga Yohan selama lebih dari sepuluh tahun dan ternyata adiknya ada di depan mata selama ini! Tentu saja tidak akan ketemu, karena mereka memalsukan identitas nama anak itu. Karena nama yang sesungguhnya Tommy Arjun Santosa, bukan Yohan Wilaga!


Keluarga Santosa adalah keluarga yang cukup terpandang di masa lalu, sampai berita kematian kedua suami istri Santosa itu terdengar karena kecelakaan mobil, meninggalkan satu putra dan seorang putri yang berusia enam tahun yang kemudian diasuh oleh paman dan bibinya.


Sebuah lagu terdengar dari hp Axel.


"Dia lari?!!" teriak Axel sesaat setelah mendapatkan laporan dari bawahannya. Wajahnya mendadak merah karena amarah.


"Bagaimana dia bisa lari?! Kalian menjaga satu gadis kecil saja tidak bisa. Dasar tidak berguna!!" teriak Axel keras.


Dadanya naik turun, emosi. Takut jika terjadi apa-apa dengan Renata.


"Cari dia!! Kalian harus bawa dia pulang ke rumah malam ini juga!!" Axel berteriak lagi. Suaranya lantang di dalam ruangan miliknya, hingga Gio merasakan sakit pada bagian telinganya.


Gio menatap Axel. Pria itu tidak pernah segusar ini. Dia tidak pernah sekhawatir ini selama masa dua puluh empat tahun hidupnya.


"Ren, kenapa kamu lari? Apakah kamu tidak mau aku membantu kamu" Gumam Axel.


Axel terus berfikir, apa yang membuat Renata lari? Jelas-jelas Renata ketakutan saat kemarin malam.


"Gio. Bantu aku cari Renata! Lacak dimana lokasinya berada!" seru Axel seraya mengacak rambutnya frustasi. Saat ini hanya Gio yang bisa membantunya. Seperti biasa, pria itu akan punya banyak cara saat dirinya merasa buntu


Lagi-lagi Gio yang harus bertindak.


"Bisa kau hubungi Renata? Aku ingin tahu titik koordinatnya!" ucap Gio. lalu bersiap di depan layar komputer di depannya.