
Cantik merasa tidak nyaman dengan pandangan pria ini kepadanya. Dia terus saja menatap Cantik hingga rasanya menjadi canggung. Dia ingin mengecil saja dan bersembunyi di bawah bantal nenek kalau bisa.
Pria itu sangat tampan, berbeda dari bayangan Cantik kemarin tentangnya jika dia mempunyai codet atau cacat di wajah. Bahkan, dia nyaris sempurna untuk dilihat. Matanya, hidungnya, bibirnya, dan alis tebal yang sangat menggemaskan menurutnya. Gio atau Axel ... ah bukan hanya mereka. Bahkan, Heru yang sedari dulu sangat dia suka pun hanya lewat saja saat dia menatap ketampanan pria ini. Ah... sungguh mahakarya yang nyaris sempurna.
"Nenek, aku harus pulang. Aku tadi bilang pada ibu jika aku tidak akan lama pergi." Pamit Cantik kepada nenek.
"Sayang sekali, kenapa harus secepat ini?" tanya nenek dengan kecewa. Nenek masih ingin bersama dengan Cantik.
"Aku tadi hanya bilang akan pergi sebentar kepada ibu. Kalau aku lama, ibu pasti akan khawatir, bukan?" Cantik mencoba memberi pengertian.
Nenek menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Meskipun berat akan ditinggal Cantik, tapi nenek juga tidak boleh melarang wanita muda itu untuk pulang.
"Kalau begitu, Vian akan antar kamu pulang ya."
"Eh tidak perlu, aku akan pulang sendiri saja." Cantik menggoyangkan kedua tangannya di depan dada. Dia akan sangat canggung sekali jika memang pra ini yang akan mengantarnya pulang.
"Vian, antarkan Cantik." Nenek berkata kepada cucunya itu.
"Nenek tidak ada yang menemani disini." Cantik tetap bersikukuh.
"Tidak apa-apa. Perawat akan temani Nenek." Nenek menggerakkan tangannya memberikan kode jika mereka harus segera pergi dan tidak perlu merisaukan keadaan dirinya.
"Ayo, aku akan antarkan kamu pulang. Nenek akan sangat cerewet jika keinginannya tidak kita penuhi," ujar Alvian lalu menarik tangan Cantik untuk pergi.
"Eh tapi ...." Vian tidak mendengarkan apa yang Cantik bilang. Pria itu terus menarik Cantik ke arah pintu. "Nenek aku pulang dulu ya," teriak Cantik kepada nenek di atas brankar. Nenek mengangguk, tangannya yang lemah melambai pada dua orang itu yang kemudian menghilang di balik pintu.
Keduanya sudah naik ke dalam mobil. Cantik terpana dengan perlakuan Vian yang tadi membukakan pintu mobil untuknya.
Rasa canggung menyelimuti keduanya saat berada di dalam mobil. Tidak ada yang bicara hingga sampai setengah perjalanan mereka.
"Terima kasih karena kau telah mengunjungi nenek di rumah sakit." Vian membuka suaranya tanpa menoleh kepada Cantik yang kini melihat ke arah luar.
"Tidak masalah, lagipula itu juga permintaan ibu."
"Jadi ... Ibumu ...."
"Dia ibu angkat ku." Cantik menerangkan, membuat Alvian menoleh sekilas.
"Maaf, aku tidak tahu," sesal Vian.
"Kenapa minta maaf?" cantik merasa bingung, dia menoleh ke arah Vian, lalu tersadar dengan ucapannya tadi.
"Ehm itu, maksudku ibu angkat, aku bekerja di rumahnya, dan aku sudah beliau angkat menjadi putrinya." Cantik menerangkan sedikit. Sepertinya Vian tidak enak karena hal itu.
"Oh, aku kira ... itu ... maafkan aku."
"Iya." Mereka pun akhirnya terdiam lagi, tidak tahu apa yang harus mereka katakan lagi.
"Oh iya. Aku mau tanya sesuatu yang sedari tadi aku pikirkan." Cantik berseru.
"Hem ... apa?" tanya Vian.
Vian tertawa kecil. "Maaf, aku memang bohong. Aku tidak mau banyak orang terus memandangiku makanya aku lebih sering memakai masker. Tadi aku lupa untuk memakainya. jadi ketahuan, ya." Vian berkata dengan malu.
Cantik berdecak sebal. "Kenapa orang kaya mempunyai kebiasaan aneh? Tidak Axel, tidak Gio, dan sekarang kau."
"Axel? Gio? Siapa mereka? Apa mereka itu mantanmu?" Vian kesal mendengar nama lain yang baru saja Cantik sebutkan.
Cantik merasa aneh dengan pertanyaan sekaligus tuduhan yang dilemparkan Vian kepadanya.
"Bukan, mereka dua bosku. Orang kaya apakah punya cara aneh tersendiri ya?" tanya Cantik.
"Eh, tidak juga. Apa menurut mu aku ini aneh?" tanya Vian.
"Ya, kalian anak orang kaya aneh semua. Maaf ya jika ini membuat kau merasa tersinggung, tapi aku sungguh merasa begitu." Cantik berkata dengan jujur.
"Ya kalau kau mau anggap aku aneh ya tidak apa-apa. aku akan terima." Vian tersenyum kecil, dia tidak tersinggung sama sekali, dia malah merasa lucu dengan ucapan cantik barusan. Aneh? haha ....
"Oh iya, satu lagi. Aku mau bertanya. Wanita yang tadi itu ... Dia dekat denganmu, kan? Dia juga terlihat suka denganmu, kenapa kau tidak mengajaknya menikah saja?" tanya Cantik kepada Vian.
"Wanita yang tadi?" Vian balik bertanya.
"Jangan berpura-pura lupa. Ada wanita yang tadi di kamar nenek, dia terlihat suka denganmu, dan dia marah saat nenek bilang kita akan menikah. Aku berpikir untuk menyudahi sandiwara ini. Selain nenek yang akan merasa di bohongi, aku juga tidak mau mencari musuh. Kau lihat kan tadi dia marah seperti apa?" Cantik berkata dengan pelan.
"Tapi aku tidak suka dengan dia ..." Vian berkata, "... dan nenek juga tidak suka dengan dia." sambungnya.
"Lalu kenapa kau tidak mencari saja pasanganmu sendiri, aku yakin kau juga tidak akan sulit mencari pasangan. Kau itu tampan dan juga kaya. Aku yakin banyak yang suka denganmu di luaran sana."
"Apa kau tidak mau menikah denganku?" tanya Vian memotong ucapan Cantik, Cantik membeku mendengar pertanyaan itu.
"Hah?" cantik menatap Vian dengan tajam.
"Apa kau tidak mau menjadi salah satu seperti mereka, yang lebih beruntung? Menikahlah dengan ku."
Cantik masih terdiam dengan ucapan aneh yang Vian katakan barusan.
"Aku tidak mau." Cantik berkata. Hatinya merasa sakit mendengar ucapan itu. Salah satu dari mereka. Kenapa dia harus menyamakan aku dengan mereka?
Cantik mengubah duduknya, dia mengalihkan pandangannya ke samping, pemandangan di uar kini lebih indah daripada lelaki di sampingnya kini.
"Kenapa?" tanya Vian kepada Cantik. Baru kali ini ada wanita yang menolaknya.
Mobil sudah sampai di depan rumah. Cantik membuka pintu mobil.
"Tunggu!" Vian menahan tangan Cantik hingga gadis itu tidak bisa turun.
"Aku sungguh-sungguh denganmu, apa kau tidak mau menikah denganku?" tanya Vian dengan pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Cantk.
"Lepaskan aku." Cantik menarik tangannya dengan kasar, lalu membuka pintu mobil dan segera turun dari sana. Cantik segera masuk ke dalam rumah.
Vian menatap Cantik dengan tidak mengerti. Wanita itu seperti marah terhadapnya. Apa dia keterlaluan dengan mengajaknya menikah?