DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 179



Nanda masih tertidur, wajahnya tidak sepucat tadi saat aku menggendongnya ke kasur. Aku menunggunya bangun, sudut bibirnya yang luka sudah ku oles dengan salep.


Rasa bersalah jelas terasa di hatiku. Bertahun-tahun aku mengenalnya, dia persis seperti Anyelir. Kuat dan mandiri, bedanya Anye gadis yang bar-bar sedangkan Nanda adalah gadis yang kalem.


"Maaf, Nan. Maaf!" entah sudah berapa kali aku mengatakan maaf padanya. Tapi meski berjuta-juta sekalipun, apakah Nanda akan memaafkan kesalahanku?


"Eughh..." Nanda melenguh, dia menggerakkan tangannya mengusap kepalanya. Menatapku. Lalu dengan segera bangkit dan mundur hingga punggungnya terbentur ke kepala ranjang.


"Nan!" Aku mendekat ke arahnya, refleks mengangkat tanganku untuk menyentuh dahinya, lalu berhenti saat dia mengangkat tangannya ke udara. Menghalau tanganku.


"Maafkan aku, Nan. Aku dalam pengaruh obat semalam!" mencoba untuk menjelaskan. Tapi Nanda malah bangkit dari atas ranjang dan mengambil rok span hitamnya yang sudah aku lipat di atas ranjang, memakainya dan kemudian berdiri. Selimut yang membungkus tubuhnya terjatuh begitu saja di lantai. Kemeja miliknya rusak, ada bekas sobek di area lubang kancingnya.


Tanpa banyak bicara dia melangkah mengambil tas dan sepatunya.


"Kamu mau kemana?" aku mendekat, tapi dia dengan cepat menjauh. "Makan dulu, nanti aku akan antarkan kamu pulang!"


"Tidak perlu!" ucapnya dingin. Lalu menepis tanganku yang menghalangi jalannya.


"Nan! Nanda!!" teriakku. Dia tidak mendengarkan, malah berusaha berjalan secepat mungkin meski langkahnya terlihat sedikit tertatih. Ku lirik obat yang berada di atas nakas, lalu melirik noda merah di kasur.


Ini tidak benar! Aku pria yang berengsek, jangan sampai aku lebih berengsek lagi dengan membiarkannya pulang sendirian! Meskipun dia menolak, aku tidak peduli!


"Nanda!" aku berteriak menyusulnya, dia berjalan semakin cepat. Menghindariku.


"Please. Bisa kita bicara?" ku tangkap tangannya. Dia berhenti dan menatapku tajam.


"Tidak perlu ada yang di bicarakan! Dasar kamu, brengsek!!" berteriak dan mendorong dada ku dengan kedua tangannya. Air matanya kembali mengalir. Sorot matanya penuh dengan aura kemarahan.


"Iya Nanda, aku memang brengsek!!Terserah kamu mau bilang apa. Nyatanya aku memang sudah jadi pria yang brengsek di mata kamu. Please, biarkan aku tanggung kesalahan aku. Biarkan aku tanggung jawab sama kamu!" Aku emosi dan balik berteriak padanya. Frustasi, karena ternyata Nanda gadis yang keras kepala!


"Tanggung jawab yang seperti apa? Tetap tidak bisa mengembalikan aku pada keadaan semula!" teriaknya. Lalu kembali meninggalkan aku. Aku menyusulnya tapi dia berlari keluar gerbang dan masuk ke dalam taksi yang baru saja dia hentikan.


Sial! Bagaimana bisa kebetulan ada taksi yang lewat, seperti adegan di sinetron saja!


Kembali berlari ke dalam, menuju ke tempat dimana mobilku berada. Aku harus cari Nanda. Aku harus menyusul dia ke rumahnya.


Tak sulit menemukan dimana rumah Nanda, aku pernah beberapa kali kesini waktu dulu saat menjadi pengasuh Anye. Rumah terlihat sepi. Mungkin karena ayahnya sedang bekerja.


Bel rumahnya aku tekan beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Ku lihat dari kaca rumahnya di dalam sana sepi. Mungkinkah Nanda tidak ada disini? Kemana semua orang? Ibu tirinya juga tidak ada!


"Mas!!" teriak seseorang dari luar pagar. Aku menoleh, tetangga sebelah rumah Nanda.


"Percuma kalau mas cari orangnya, gak bakalan ada!" serunya dari sana.


"Mereka kemana, bu?" tanyaku mendekat ke arahnya. Dia memindaiku dari atas sampai ke bawah.


"Mas ini siapanya Nanda? Pacarnya?" tanyanya kepo.


"Bukan! Saya kakaknya Anyelir!"


"Oh, Anyelir yang galak itu ya?" bahkan orang lain juga tahu kalau Anye galak. Dasar, dia wanita yang tidak bisa menjaga sikap!


"Kemana mereka?"


"Siapa?" bingung.


"Nanda!"


"Eh iya, jadi lupa gara-gara terpesona lihat mas nya!" menepuk keningnya. "Emang mas gak tahu kalau rumah ini disita? Tuh ada papannya!" tunjuknya pada papan kayu di depan pagar rumah. Aku ikut melirik ke arah sana. Kenapa aku tidak melihatnya tadi?


"Disita kenapa?" aku benar-benar tidak tahu, dan Anye juga tidak pernah bercerita padaku.


"Itu mas, ibu tirinya si Nanda tuh, terlibat hutang sama rentenir. Gak tahu jumlahnya berapa, sampai harus gadaikan rumah. Padahal ya, mas. Rumah ini tuh, rumah yang di bangun sama ayahnya Nanda, hadiah buat almarhumah ibunya Nanda dulu! Dan sekarang gak tau tuh dimana keberadaan ibu tirinya, dan anak laki-lakinya juga gak tahu ibunya dimana! Dia ngilang kayak yang di telan bumi!" ceritanya tanpa diminta olehku.


"Sejak kapan rumah ini disita?" tanyaku.


"Baru ada dua mingguan, mas!"


"Ibu tahu siapa yang kasih pinjaman itu?" tanyaku, dia menggelengkan kepalanya.


"Ibu tahu dimana Nanda dan ayahnya sekarang?"


"Gak tahu mas, mereka sudah pergi gitu aja. Gak pamitan sama sekali, tapi waktu itu ada yang lihat kalau mereka keluar waktu malam-malam bawa koper. Katanya, Nanda juga ada luka di keningnya, nangis jalan sama ayahnya ke depan. Waktu di tanya, dia bilang cuma mau nengok sodaranya! Tapi besok paginya udah ada aja tuh papan itu. Waktu saya tanya sama orang yang pasang katanya ya... begitu, disita!" dia menarik nafasnya panjang setengah terengah setelah bercerita panjang kali lebar.


Bekas luka yang itu kah? Memang ada bekas luka di keningnya, tepat di atas alis kanannya. Berani-beraninya mereka membuat Nanda terluka!


Tanpa sadar aku mengeratkan kepalan di tanganku.


"Ya sudah, bu. Trimakasih atas infonya!" Dia mengangguk lalu kembali dengan pekerjaannya menyirami tanaman.


Apa ini juga alasan dia bekerja paruh waktu di kafe?


Ku ambil hpku dan mendial nomornya, hanya suara Tutt.. Tutt yang terdengar. Bagus! Dia pasti sangat marah sekarang! Dimana kamu, Nanda!


Ku cari nama lain disana dan mendialnya.


"Tolong lacak dimana orang ini berada." ku tutup panggilanku lalu mengirimkan pesan padanya berisikan nomor Nanda.


Tak sampai lima menit aku mendapat balasan pesan, Nanda ada di suatu tempat. Segera aku mengendarai mobilku dan menuju ke tempatnya. Lumayan jauh dari rumahnya, hampir lima belas menit menggunakan mobil, dan lagi aku harus berjalan kaki masuk ke dalam gang sempit untuk bisa sampai disana. Gelap. Bau. Kotor!


Bangunan kontrakan kumuh di depanku. Pintunya berjejer memanjang sampai ke depan, sana, kanan dan kiri. Di depannya banyak terdapat barang-barang, ember-ember besar tepatnya. Dan juga jemuran baju di atasnya. Berbagai macam baju termasuk underwear. Begitu juga di depan pintu lainnya. Tergantung lingkaran dengan berisikan baju-baju bayi.


Beberapa anak kecil sedang bermain-main dengan sesamanya, memainkan karet yang di jalin sedemikian rupa hingga memanjang, memainkannya dengan cara di putar oleh dua orang di masing-masing ujungnya sedangkan di tengah seorang gadis cilik melompatinya.


Di sisi lain ada anak-anak balita yang sedang memainkan air di dalam ember, hingga di bawahnya menjadi becek, mereka tertawa kegirangan sambil melompat hingga air itu terciprat ke arah lain, sedangkan di teras tak jauh dari sana, mungkin ibu balita itu, mereka sedang mengobrol sambil sesekali melirik ke arah anak-anaknya.


"Maaf, bu. Permisi!" seketika mereka terdiam saat aku mendekat ke arahnya. Memindai dari atas ke bawah, beberapa orang yang lain saling berbisik di belakang. Samar terdengar salah satunya menyebutku bule.


"Apa ada penghuni yang namanya Nanda disini?" tanyaku.


"Nanda?" sedikit berfikir, lalu menoleh pada yang lainnya.


"Kayaknya yang baru itu deh! Yang di ujung sana dekat kamar mandi!" bisik seorang yang lain.


"Yang cuma tinggal sama bapaknya bukan, mas? Bapaknya yang jualan nasi uduk sama gorengan itu? Yang malemnya juga jualan martabak manis bukan?" tanya yang lain padaku.


"Iya."


"Oh itu mas. Kamar nomor delapan belas. Ujung sana noh, mas! Yang pintunya dua kamar sebelum kamar mandi!" tunjuknya ke arah kejauhan sana.


"Mas nya mau saya antar?" seorang yang lain lagi menawarkan diri.


Aku tersenyum, dia juga tersenyum malu-malu, pipinya merah.


"Tidak usah bu, biar saya sendiri yang kesana. Trimakasih atas infonya!" aku hendak melangkah, tapi kemudian berhenti saat dia bertanya lagi.


"Masnya, siapanya Nanda?"


"Saya calon suaminya!"


"Oh, kirain..." dia tidak meneruskan kata-katanya, terlihat kecewa sedangkan yang lain tertawa dengan nada mengejek, mendorong bahunya.


"Ada yang lain lagi?" tanyaku.


"Gak ad, mas. Silahkan kalau mau ketemu calonnya. Tapi inget ya mas, disini jangan macam-macam! Nanti kalau di grebek hansip, bisa langsung di nikahkan loh!" peringatnya.


Bagus juga kalau seperti itu, Nanda tidak bisa lagi mengelak dengan ku lagi kan?!


"Bagus juga sih kalau memang seperti itu. Lebih cepat di nikahkan, lebih baik bukan?" ucapku lalu kemudian meninggalkan mereka yang melongo. Samar aku mendengar ada yang berkata.


"Gaya kayak bule, dandanan bagus, tapi dompet kosong tuh, ingin nikah gratis lewat hansip!" cibir seorang ibu muda.


Enak saja aku ingin nikah gratis. Harus kah aku perlihatkan kepada mereka berapa jumlah uang cash yang aku bawa dalam dompetku?


Aahhh... Sudahlah!