
Noah memandang cermin di depannya. Bekas gigitan Renata di bahunya terlihat jelas dan meninggalkan warna kemerahan yang kontras dengan kulit putihnya.
Dia mengelus luka di bahunya, terasa perih. Tidak ia sangka penolakan Renata menjadi hal yang fatal bagi gadis itu. Bertahun-tahun ia menahan diri, tak pernah sekalipun ia melakukan hal itu pada wanita lain. Renata berbeda. Dan baru kali ini ia selalu menjaga sikapnya dengan wanita.
Renata mencoba untuk bangun dan mengambil baju milik Noah. Bajunya sudah koyak tak mungkin bisa ia pakai lagi.
Perlahan dia berjalan ke arah pintu sambil menahan sakit pada pangkal pahanya.
Pintu terbuka, ada dua penjaga di luar. Renata hendak berlari, tapi baru saja dia akan mulai, dia sudah kembali tertangkap dan lagi-lagi di hempaskan ke atas kasur. Luka pada dirinya bertambah. Selain luka fisik juga meninggalkan luka psikis pada dirinya.
"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi! Tidak adakah rasa simpati kalian padaku? Aku korban disini. Biarkan aku pergi!!" Teriak Renata. Tapi kedua orang itu hanya diam dan kembali ke tempatnya semula. Berjaga di depan pintu.
Renata menahan perih di area pribadinya. Dia mencoba berjalan perlahan ke arah jendela. Beruntung Noah tidak membawanya ke lantai atas.
Beruntung ...?
Hah .... Apa ini yang dinamakan beruntung? Semua yang ada pada dirinya sudah direnggut pria iblis itu. Kedua orangtuanya, Restu, perusahaan, dan sekarang ... kehormatan miliknya! Apa ini yang dinamakan beruntung?
Renata mengusap kedua pipinya yang basah. Dia menyibak tirai, beberapa penjaga terlihat berjaga di luar sana.
Pupus sudah harapannya untuk kabur dari sana. Ini pasti tidak akan mudah!
"Kamu tidak akan bisa kemana-mana! Para penjaga sudah aku sebar di seluruh penjuru rumah!" Noah tiba-tiba berada di belakang Renata.
Renata terkesiap, dia berbalik dan mendapati Noah yang terlihat segar setelah mandi. Tak bisa di pungkiri kalau pria itu cukup menawan jika saja dia tidak menyebalkan.
Sosoknya yang tinggi, berkulit putih, juga dengan fitur wajah bule membuatnya tampan dan di gilai banyak wanita. Tapi itu tidak berlaku untuk Renata. Cap f*ckboy sudah di sematkan di belakang nama dirinya.
"Biarkan aku pergi! Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, kan! Biarkan aku pergi!" mohon Renata.
"Tidak akan! Seumur hidup kamu harus selalu berada di sisiku!!"
Noah mencengkeram tangan Renata dan menarik gadis itu ke arahnya.
"Apa susahnya menurut padaku. Kamu akan aku jadikan ratu. Semua yang ada akan aku berikan buat kamu. Rumah, uang, perusahaan, aset berharga. Apa lagi yang kurang?!" teriak Noah. Renata memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Aku tidak mau semua itu, Noah! Aku mau kebebasanku!" teriak Renata. Jika saja Noah tidak pernah melakukan kesalahan di masa lalu mungkin Renata tidak akan sebenci ini dengan pria itu.
"Kenapa? Aku tidak cukup baik? Aku bisa berubah demi kamu!"
"Kamu tetap akan menjadi pria yang br*ngsek, Noah!"
"Kamu yang tidak pernah memberi aku kesempatan untuk berubah Renata!" teriak Noah.
"Lalu saat kamu menyiksa Restu, apa kamu memberi dia kesempatan untuk melanjutkan hidupnya?"
"Memberi dia kesempatan? Membiarkan dia hidup dan membawa kamu lari, begitu?!" teriak Noah. Kini tangannya beralih pada leher Renata. Urat-urat di wajah pria itu terlihat dengan sangat jelas. Giginya bergemeletuk. Sorot matanya penuh amarah dan juga cemburu.
Renata menahan tangan Noah yang mencekiknya. Dia merasa sesak. Lalu sedetik kemudian dia melepaskan tangan itu. Jika dia harus mati saat ini juga, itu akan lebih baik baginya. Dunianya sudah gelap sekarang. Entah apa mungkin bisa terang seperti dulu lagi atau tidak, ia tak tahu! Masa depannya sudah suram.
"Lakukan ... saja ...." ucap Renata tersengal. "Kalau aku mati ... bukankah aku sudah jadi milikmu? Kamu bisa menikmati jasadku sepuasmu!" lirih Renata dengan senyum mengerikan.
Mendengar hal itu Noah semakin menjadi-jadi amarahnya. Bukan itu yang dia inginkan. Dia ingin Renata memohon dan menghiba di depannya.
Jika Renata melakukan hal itu maka Noah akan membuat dirinya menjadi ratu. Tapi dia lupa, Renata tetaplah Renata. Si Gadis Keras Kepala yang sudah menolaknya berkali-kali!
"Akhh!!" Renata memekik kesakitan saat Noah menghempaskannya kembali ke atas ranjang.
Baju kemeja yang dipakai Renata tersibak, memperlihatkan paha putih nan mulus gadis yang sudah direnggut kesuciannya itu.
Noah kembali membuka bathrobe-nya dan melemparkannya dengan kasar ke lantai.
Untuk kedua kalinya Renata tak berdaya di bawah kuasa pria berhati iblis itu.
Noah pergi keluar dari ruangan setelah memakai pakaiannya.
"Urus dia. Beri dia makan dan pakaian! Dan panggilkan dokter!" ucap Noah pada kepala pelayan. Pria paruh baya itu mengangguk patuh lalu segera melakukan titah dari sang majikan.
Renata menangis di tempatnya. Dia hanya meringkuk tak berdaya. Tubuhnya terasa sakit dimana-mana, apalagi di area pribadinya yang kembali di koyak oleh Noah, tak hanya satu kali, tapi lebih. Dia berharap kalau bisa pingsan atau mati sekalian agar dia tidak bisa merasakan kesakitan.
Renata mengeratkan selimut pada tubuhnya saat mendengar suara derap langkah kaki kembali masuk ke dalam kamar. Dia takut jika Noah datang dan melakukan aksi bejatnya lagi.
"Nona. Maaf saya lancang. Dokter sudah datang untuk memeriksa anda!" suara lain yang lebih berat terdengar. Renata hanya melirik dengan ujung matanya. Bukan Noah!
"Pergi." lirihnya. "Biarkan saja aku mati!"
"Tuan Muda tidak akan mengizinkan hal itu! Mohon anda mengerti dengan perhatian dari Tuan Muda!"
Renata dengan susah payah duduk, dia memegang erat selimut di dadanya. Kepala pelayan menundukkan pandangannya.
"Perhatian? Perhatian macam apa yang Tuan kalian berikan padaku? Dia sudah beri aku neraka!" teriak Renata. Suaranya parau akibat terlalu lama menangis.
"Nona, mohon anda jangan emosi. Biarkan saya memeriksa keadaan nona." dokter wanita itu mendekat. Renata menepis tangan dokter yang hendak memeriksanya.
"Pergi! Jangan paksa aku."
"Tapi, Nona ...."
"Pergi!!!" Teriak Renata keras. Dia segara bangkit, tak mempedulikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Di raihnya vas bunga yang ada di atas nakas dan memecahkannya.
Prang ...
"Nona, apa yang nona lakukan?!" pekik dokter itu, dia tak menyangka kalau gadis di hadapannya nekat hendak menyayat nadinya.
"Mundur!" Renata masih memegang pecahan vas itu di tangannya.
Terdengar suara gaduh di luar sana, kepala pelayan ingin melihat apa yang terjadi, tapi situasi sekarang tidak memungkinkan dirinya untuk pergi. Nyawa Renata lebih penting.
"Nona saya mohon, anda jangan nekat! Tuan muda pasti tidak akan suka melihat anda seperti ini. Tuan Muda sangat mencintai anda!" kepala pelayan hendak mendekat. Tapi urung di lakukan karena Renata semakin mendekatkan pecahan vas itu ke kulit tangannya bahkan sudah terlihat goresan yang membuat kulitnya ternoda oleh darah.
"Cinta? Apa ini yang dinamakan cinta? Dia menyiksa dan memp*rkosaku, apa ini yang dinamakan cinta?!!" teriak Renata. Sorot matanya terdapat kesungguhan tanpa keraguan dan tanpa ketakutan.
"Saya yakin Tuan Muda bersungguh-sungguh dengan Anda. Saya menyaksikan kalau Tuan Muda sudah berubah banyak tidak seperti dirinya yang dulu!"
"Pembohong!"
"Mohon Nona fikirkan lagi tindakan Nona! Jangan berfikiran pendek!"
Renata menggeleng keras. Di fikirkan lagi, dan apa yang akan dia dapat. Penyiksaan batin? Tidak!
"Pergi aku bilang!"
Srek!!
"Nona!!"
Darah terciprat kemana-mana hingga mengotori selimut yang dikenakan Renata. Dokter memekik terkejut, baju putihnya dan wajahnya juga tak bisa menghindari cipratan darah itu.
Tubuh Renata lunglai. Kehilangan banyak darah membuat tubuhnya yang lemah, semakin lemas.
Kepala pelayan menangkap tubuh Renata yang hampir terjatuh dari kasur. Sesaat sebelum dia menutup mata, bayangan seseorang yang ia rindukan terlintas jelas di benaknya.
Axel. Maafkan aku!