
Aku, ayah dan juga Devan sedang berbicara di dalam ruang kerja ayah. Ku bahas masalah Daniel yang di bicarakan oleh Nora tadi siang. Meskipun mungkin ayah pasti keberatan tapi aku yakin ayah tahu apa yang terbaik untuk kami semua.
"Aku kira aku akan bawa Daniel pulang ayah!" ucapku pada akhirnya. Berat sebenarnya menyampaikan hal ini padanya. Ayah menghela nafas berat, dia menunduk, sorot matanya yang sudah menua semakin memudar.
"Ya. Kalau itu yang terbaik untuk Daniel, ayah akan tetap mendukung!" ucapnya. Ayah tidak mengatakan kalimat penolakan, tapi dari nada suaranya terdengar sangat berat. Tentu saja berat, ayah ikut memantau pertumbuhan Daniel dari bayi dan juga memberinya kasih sayang sebagaimana layaknya ayah kepada anaknya.
"Tapi aku juga bingung dengan masalah Axel. Bagaimana kelanjutan perawatannya?!" lirihku. Axel sudah mulai membaik, meski dokter bilang pada berat badan tertentu dia akan melakukan operasi lanjutannya.
"Besok kita pergi ke rumah sakit. Kita tanyakan hal itu pada dokter Hans." ucap ayah.
"Devan!" panggil ayah.
"Iya ayah?" Devan menyahut.
"Anye tidak mungkin mengurus perusahaan dan anak-anak sendirian. Bantulah dia mengurusi perusahaan. Biarkan Anye merawat Daniel dan Axel." ucap ayah.
"Tentu ayah! Aku akan bantu Anyelir. Ayah jangan khawatir." Ucap Devan, dia mengambil tanganku dan mengelusnya perlahan.
"Kalau sampai hal yang dulu terjadi lagi. Jangan harap kamu bisa lolos dari maut kali ini!" tunjuk ayah pada Devan. Sorot matanya tajam penuh ancaman. Ku lihat Devan dengan susah payah menelan salivanya.
"Tentu... Nyawaku ada pada kalian!" ucap Devan mantap. Ayah mengangguk. Meskipun ayah ingin kepastian, tapi kalau sampai sebegitunya jadi keterlaluan kan? Dasar ayah!
Hari ini kami pergi ke rumah sakit bersama ayah dan juga Devan, selain memeriksakan Axel, juga untuk memeriksa keadaan Devan.
Aku bernafas lega saat dokter mengatakan kalau Devan sudah hampir pulih sepenuhnya. Dia harus rajin berolahraga pagi untuk melatih otot-otot tubuhnya. Lalu dia berbisik padaku, 'Jangankan olahraga pagi, olahraga setiap malam pun aku siap!'. Ish dasar!
Sedangkan Axel, dokter bilang tidak masalah jika ingin membawa Axel pergi jauh. Dia juga memberikan sebuah kartu nama padaku, nama seorang dokter yang sama hebatnya dengan dia di Singapura. Syukurlah, meski sebenarnya aku juga berat untuk mengganti dokter Axel, karena aku merasa dokter Hans yang menangani Axel sejak awal, dia sudah tahu seluk beluk penyakit Axel.
Kami pulang ke rumah setelah selesai dari pemeriksaan rumah sakit. Axel sedang tidur di atas pangkuan Devan. Ku lirik dia yang sedang terlelap. Nafasnya masih terhitung cepat, dokter bilang wajar untuk penyakit Axel. Setelah beberapa kali rangkaian operasi nanti, Axel bisa sembuh meski mungkin tidak bisa sepenuhnya bisa seperti anak normal lainnya.
Dokter juga bilang, untuk jenis penyakit Axel ini hanya beberapa persen saja yang bisa bertahan hingga dewasa. Axel termasuk beruntung bisa melewati satu tahun usianya. Bisakah aku melihat dia sampai dewasa? Bahkan aku ingin dia hidup sampai punya anak cucu dengan pasangannya.
"Semua akan baik-baik saja!" Seakan mengerti apa yang aku fikirkan. Devan mengelus punggung tanganku.
"Iya Dev. Semoga. Tapi aku juga khawatir dengan keadaan ayah." ucapku.
"Kita bujuk ayah. Ajak ayah untuk tinggal bersama kita disana. Meski rumah itu kecil tapi jika di tambah dengan ayah masih muat kok!" ucap Devan ringan. Dia tersenyum, menularkan senyuman juga padaku.
Aku menyandarkan kepalaku pada bahunya.
Sampai di mansion. Hanya ada beberapa maid yang sedang mengurus mansion. Ayah masih berada di kantor. Akhir-akhir ini ayah terlalu sibuk sampai-sampai jarang sekali bisa ikut makan malam bersama kami.
Devan membawa Axel ke kamarnya, sedangkan aku pergi ke kamar Daniel. Ku ketuk pintunya perlahan.
"Niel?" panggilku. Terdengar suara anak kunci di putar dan akhirnya pintu terbuka. Daniel membuka sedikit... hanya sedikit saja pintu itu sampai aku hanya bisa melihat rambut dan sebelah matanya.
"Niel bisa kita bicara?" tanyaku penuh harap. Pintu masih belum juga di buka lebar-lebar.
"Tidak ada yang akan sakiti kamu lagi, Niel. Mama janji!" ucapku.
Perlahan pintu itu terbuka semakin lebar, tapi aku melihat Daniel sudah berlari ke atas kasurnya. Ya ampun, separah itukah ketakutan putraku?
Aku mendekat dan mengelus kepalanya, dia sedang berbaring memunggungiku.
"Hei. Mau ikut mama tidak? Mama dan papa memutuskan untuk pulang. Kita bisa tinggal berempat disana. Mama yakin tidak ada lagi yang akan berbuat jahat pada kita! Kita akan hidup aman disana. Damai dan bahagia!" ucapku panjang lebar.
"Papa sudah menyiapkan kamar untuk kamu. Ada kolam renang besar di belakang rumah. Ada pohonnya juga." Dia masih diam.
"Kamu pasti akan suka tinggal disana. Mama lihat ada beberapa anak kecil di dekat rumah papa. Dan tak jauh dari sana ada lapangan untuk bermain bola." terus membujuk.
Hening.
Aku harus bagaimana?
"Lalu Axel bagaimana?" akhirnya suaranya terdengar. Ternyata sedari tadi dia diam, apakah dia mengkhawatirkan keadaan Axel?
Aku tertawa kecil, mengusap lengannya. "Banyak dokter hebat disana. Jangan khawatir! Lagipula, kamu dan Axel adalah putra mama dan papa. Kalian anak-anak hebat dan kuat!" Daniel berbalik ke arahku.
"Kapan kita berangkat?" Syukurlah sepertinya dia setuju.
"Mama akan siapkan pesawat besok." ucapku sambil tersenyum. Daniel terdiam, dia beringsut membenamkan kepalanya di pangkuanku.
"Aku suka disini. Tapi aku tidak suka saat orang lain menyakiti orang-orang di sekitarku." ucap Daniel.
"Tidak akan lagi. Tidak akan ada lagi yang terluka." Ya. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka. Untuk Daniel dan Axel, kedua putraku.