
Mereka sudah sampai di rumah sakit. Gio segera di larikan ke UGD. Tiara menunggu di luar sementara dokter sedang mengobati Gio.
"Hiks... Hiks..." Tiara terisak. Dia sangat ketakutan sekarang ini.
Tiara duduk sambil meremas kuat celana bahannya hingga kusut. Dia juga merasa bersalah, jika saja dia tadi terus menempel di dekat Gio pastilah tidak akan ada kejadian seperti ini.
"Minum dulu, Bu." pria yang tadi mengantarnya kesini menyodorkan sebotol minuman kepada Tiara. Tiara menerima minuman itu dan menenggaknya. Dia memang sangat haus dan juga lapar.
"Saya pamit pulang dulu ya, Bu. Saya masih banyak pekerjaan di proyek." pamitnya. Tiara terpaksa mengangguk. Tidak mungkin dia akan menahan pria itu disini untuk menemaninya sedangkan dia juga harus mengawasi keadaan proyek.
Kini hanya tinggal Tiara sendirian disana menunggui dokter keluar dari dalam. Tiara menunggu dengan perasaan takut.
Pintu terbuka dokter keluar, Tiara segera menghambur mendekati dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan Pak Gio?" tanya Tiara dengan khawatir.
Dokter terdiam.
Oh tidak! Jika dokter diam, itu artinya...
"Bagaimana keadaan Pak Gio, Dokter? Apa dia bak-baik saja? Apa yang terjadi di dalam sana? Apa sakitnya parah? Apa dia sudah sadar?" Tiara memberondong dokter dengan banyak pertanyaan.
Mata Tiara memanas siap meluncurkan cairan bening yang sebentar lagi akan turun.
"Tidak mungkin!" ucap Tiara. "Pak Gio tidak mungkin... dia..." tangisnya pecah, dia segera merangsek masuk ke dalam ruang UGD.
Dokter menggelengkan kepalanya, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Padahal dia ingin memberitahukan kalau Gio tidak apa-apa. Tapi Tiara selalu memotong ucapannya terus menerus. Tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Sepertinya gadis itu korban dari sinetron!
"Pak Gio!" Tiara berteriak sambil terus berlari ke dalam sana. Meski bosnya itu orang menyebalkan tapi tetap saja dia bosnya. Dia yang membawa diriya kemari, dia juga yang harus membawanya pulang!
Tiara terus saja berjalan menuju brankar yang paling ujung. Meski tertutup tirai, tapi dia sangat hafal betul dengan sepatu hitam mengkilat milik bosnya yang kini teronggok di lantai di bawah brankar.
"Pak Gio, huuuu...." Tiara mendekat dengan perlahan. Tangannya gemetar saat dia menyibak tirai. Sedetik kemudian bibir yang melengkung ke bawah ia tarik ke atas.
Gio selamat!
Gio sedang duduk dan menatapnya heran. Suster sedang membantu membersihkan darah yang sudah mulai mengering di leher Gio.
Tiara bernafas dengan lega. Dia mengusap pipinya yang basah. Syukurlah. Bosnya ini tidak mati.
Senang, tapi juga sedih. Terharu dan merasa bersalah. Semua rasa campur aduk di dalam dirinya.
"Hiks...hiks... Pak.." Tiara mendekat ke arah Gio.
"Kamu...." Gio memiringkan kepalanya. Tatapannya terlihat seperti orang kebingungan.
Astaga... Ada apa lagi ini. Dia masih hidup lalu kenapa dengan dia? Apa dia amnesia? Lupa ingatan? batin Tiara. Ini lebih buruk! Apa benturan di kepalanya membuat dia hilang ingatan? mengingat batu bata itu trjatuh dari ketinggian tiga lantai.
"Pak Gio kenapa? Tidak ingat aku kah?" tanya Tiara takut. Gio terdiam.
"Ini aku, Pak. Tiara. Asisten bapak!" ucap Tiara menjelaskan. Gio hanya terdiam masih terlihat seperti orang linglung.
"Apa bapak tidak ingat?" tanya Tiara lagi. Gio masih terdiam. Dia menatap suster lalu kembali beralih menatap Tiara. Pandangannya serasa lain.
Tiara terisak semakin takut. bagaimana ini Gio hilang ingatan? Aku harus bagaimana?