
"Ayo kita bergabung dengan yang lain. Aku akan kenalkan pada teman-temanku!" Romi menadahkan telapak tangannya pada Tiara untuk disambut.
"Terimakasih, Pak!" Senyum Romi lebar saat tangan halus itu menggapai tangannya. Dan semakin lebar saat menatap matanya. Kesal dan hanya terdiam. mengeratkan gigi-giginya.
"Ayo! Kenapa hanya diam? Anda bilang takut aku tersandung dan ingin membantuku berjalan ke depan sana, kan?" tanya Cantik seraya menarik tangan Romi yang tadi disambutnya.
Romi berdecak kesal, tapi dia menurut juga dengan perkataan gadis yang sudah bertransformasi menjadi kupu-kupu ini. Tak menyangka seorang Cantik yang terlihat culun dengan kacamata besar, ternyata memang-lah cantik saat tak mengenakan kacamata dan dengan sedikit permainan make up di wajahnya.
Tiara mengikuti langkah dua orang di depannya. Ingin tertawa sebenarnya. Cantik gadis yang pemaksa masih terus berjalan, sedangkan Romi yang ditariknya pasrah mengikuti langkah kaki Cantik.
Mereka berhenti di dekat sekumpulan pria dan wanita, diantaranya manager dari setiap divisi ada disana sedang mengobrol bersama.
"Hai Pak Romi. Anda sudah.... datang!" Maria dari divisi umum merendahkan nadanya yang semula riang setelah melihat siapa yang datang bersama dengan Romi.
"Sedari tadi, tapi aku menunggu dua nona cantik ini sampai!" ucap Romi. Maria menatap ke arah tangan Romi yang menggenggam tangan Cantik. Dia tak mengenali gadis yang bersama Romi. Jika dengan Tiara dia sih tahu, pernah beberapa kali melihat Tiara dan Romi dan juga gadis berkacamata duduk bertiga di kantin kantor, atau sedang menawarkan tumpangan saat pulang.
"Oh ya. Kenalkan ini semua teman-temanku..." Romi menyebutkan satu per satu nama pria dan wanita di depannya.. Cantik dan Tiara bergantian menyalami mereka.
Obrolan yang membosankan, karena mereka hanya berbicara seputar pekerjaan di bidangnya masing-masing. Cantik dan Tiara berdiri di samping Romi dengan pembahasannya sendiri.
"Pak Romi dan semua. Kami mohon pamit untuk menemui teman-teman kami!" Tiara mengucapkan pamit dengan senyum tak enak di wajahnya. Sedari tadi mereka berdua seperti tak dianggap oleh yang lain.
Romi dan beberapa orang lainnya menoleh bersamaan.
"Oh, oke. Nanti kalau kalian mau pulang telpon aku, ya. Aku akan antarkan kalian pulang!" ucap Romi.
"Tidak usah, Pak. Kami bisa pesan taksi online. Bapak jangan khawatir!" ucap Cantik, lalu keduanya berlalu dari sana untuk pergi. Beberapa teman Romi memecahkan tawanya. Seorang Romi Satya ditolak tawarannya!
Tiara dan juga Cantik mendekat ke arah dimana teman satu divisi mereka berada. Ini lebih baik, berada di tempat seharusnya dan juga dengan pembahasan yang seharusnya tidak melulu dengan pekerjaan yang membosankan! Tapi cukup menyebalkan jika sudah terkait dengan pasangan.
"Hei kalian juga harus mencari pasangan, supaya jika lain kali ada pesta semacam ini kalian ada yang menemani!" Danu salah satu teman mereka tertawa seraya menunjuk pada Cantik dan Tiara yang tak membawa pasangannya.
"Huhh... mentang-mentang kekasihmu masih tetangga! Dan kau Wid, mau-maunya kau pacaran sama dia!" cerca Cantik pada Widia seraya menunjuk ke arah Danu!
"Ya aku terpaksa! Setidaknya ada ojek gratis yang bisa antar dan jemput aku pulang pergi bekerja!" ucap Widia sedikit berbisik namun masih terdengar oleh yang lainnya hingga meledakkan tawa. Danu mencebik kesal, dia menjepit hidung kekasihnya dengan gemas.
Danu dan Widia adalah teman satu divisi mereka. Teman satu kelas di masa SMA yang kemudian dipertemukan kembali saat bekerja di perusahaan ini.
Pesta berjalan dengan cukup baik dan meriah, sedikit kecewa untuk para karyawan yang hadir disana karena bos besar tak bisa hadir. Beliau sedang ada urusan di luar negeri, dan putranya juga sedang ada urusan yang mendesak dan tak bisa ditinggalkan hingga tak bisa hadir.
"Ara aku mau ke toilet. Kau tak apa aku tinggal sendiri, kan? " tanya Cantik yang sudah tak tahan.
"Tidak apa-apa. Lagipula disini ada Widia dan Danu!" tutur Tiara.
Tiara kembali berbincang dengan Danu, Widia, dan juga yang lainnya.
"Ah, ya ampun! Lega sekali!" Cantik baru saja selesai dengan urusannya, dia menaikkan ********** ke tempat semestinya, membenarkannya hingga terasa nyaman, lalu mendorong pintu toilet dan melangkah keluar.
Di depan wastafel, Cantik mematut dirinya. Tangannya tak berhenti bergerak saling mengusap di bawah guyuran air kran.
Cantik mendekatkan wajahnya ke cermin, takut jika ada sesuatu yang membuat wajahnya aneh. Tapi tidak, tak ada yang aneh, semua masih ada di tempatnya. Make up-nya masih rapi, iya lah.... Make up dari brand ternama, tak usah khawatir akan luntur atau pudar! Meski Cantik hanya seorang pengawal rahasia untuk Tiara, tapi Cantik tetaplah seorang gadis yang rindu akan make-up.
"Akh..!!" Cantik terkejut saat seseorang mendorong bahunya hingga hampir terjatuh, kalau saja Cantik tak menopang dirinya pada tepian wastafel dia pasti sudah terjerembab ke lantai.
Cantik menatap dua wanita yang ada di depannya. Satu orang sedang melipat kedua tangan di dada, sedangkan satu yang ada di belakangnya berdiri dengan dagu terangkat memperlihatkan keangkuhan yang ada dalam dirinya.
"Maaf... Anda..."
Tanpa terduga seorang wanita yang tadi dia kenal dengan nama Maria mendorong Cantik hingga lagi-lagi hampir terjatuh. Ekspresi di wajahnya terlihat datar dan menyebalkan, terlihat seperti singa betina yang sedang mengintai mangsa.
"Apa masalah Anda?" tanya Cantik yang kini menegakkan dirinya. Wajahnya yang kalem berubah merah karena marah. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba wanita dengan body seksi dan rambut pendek sebahu ini datang dan mendoronganya dua kali!
"Aku? Aku tidak punya masalah!" ucapnya sambil melipat satu tangan di perutnya sedangkan satu tangan yang lain dia mainkan di depan wajahnya. Ibu jarinya memainkan empat jari yang lain. Mata Maria menatap Cantik dengan tajam.
"Aku hanya ingin memperingatkan mu! Jangan coba dekati Romi. Kau orang asing yang baru kenal dengan Romi, jangan halangi langkahku untuk bisa dekat dengan dia!" ucap Maria dengan dinginnya.
Cantik berdecak kesal. Ternyata wanita ini pengagum Romi. Pantas saja saat tadi mereka baru datang dia langsung terlihat tak suka apalagi saat melihat tangannya dan tangan Romi masih saling bertautan.
Dasar wanita gila! Dia suka dengan Romi kenapa aku yang harus jadi korban?
"Aku tidak pernah menghalangi langkah mu! Tapi kau memang sedikit jauh tertinggal di belakangku? Buktinya kau tadi lihat juga kan?" Goda Cantik dengan senyuman nakal. Maria kesal dibuatnya, ingat saat tangan Romi memegang tangan Cantik.
"Kau tidak pantas dengan dia! Hanya aku yang pantas, kau tahu?!"
Cantik tertawa terkekeh. "Memangnya kau pantas? Kalau kau merasa pantas tentu Romi akan menjemputmu datang kemari bukan? Lalu bagaimana di ada bersamaku? Oh....!!" Cantik menutup mulutnya dengan satu telapak tangan. Dia membuat ekspresi wajah terkejut. "... apa jangan-jangan kau belum menyatakan cintamu padanya? Ckckck. kasihan sekali kau ini! sana kau pergilah cepat nyatakan cintamu pada Romi. Dan buktikan kalau kau memang bisa menjadi kekasihnya."
Maria tak terima dengan ejekan Cantik. "Kau berani-beraninya kau mengejekku!" tunjuk Maria dengan lancang ke arah wajah Cantim dengan kesal.
Cantik mendekat satu langkah. Dia menyingkirkan tangan putih yang menunjuk pada wajahnya. sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyetarakan tingginya dengan Maria yang beberapa senti di bawahnya. "Kau tahu. Kenal lama atau baru, nyatanya Romi lebih bisa dekat dengan ku! Dan kau juga tadi dengar kan apa yang dia bilang? Oh aku akan terima tawaran dia saja untuk mengantar ku pulang!" semakin suka Cantik melihat wajah marah Maria.
"Dasar kau wanita jal*ng! jangan berani-beraninya kau pergi dengan dia?" jerit Maria tak tahan.
Maria mengangkat satu tangannya ke atas tinggi-tinggi.
Plak!!