DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 16



Aku merasa ngantuk sekali. Sudah tiga malam ini aku terus memikirkan semuanya yang sudah terjadi sampai aku tidak bisa tidur dan semalam aku terlelap di jam dua malam, lagi!


Sofia, Nanda, dan Nayara duduk di sebelahku mereka sedang membicarakan soal pesta ulangtahun Nando. Salah satu pria tertampan dengan urutan nomor tiga, menurut siswi di sekolah ini. Tidak termasuk aku!


"Nye!" Nanda menggoyangkan lenganku, aku yang tertelungkup di meja menoleh dengan malas.


"Ih napa sih? Dari tadi kayak bihun yang disiram air panas! Letoy banget!" cibirnya.


"Iya nih si Anye dari kemarin GJ banget." Nayara.


"Ho-oh. Kalau galau karena putus cinta sih bisa di toleransi, lah ini punya pacar aja kagak, tapi galau iya! wkwkwk." Sofia tergelak. Aku memukul lengan Sofia dengan buku yang aku gulung.


"Sakit, Anyelir!" protes Sofia melotot, tangannya setia mengelus bagian yang sakit.


"Lebay! Sakit juga enggak!" cercaku.


"Lagian elu napa juga!" Sofia lagi.


"Ngantuk. Semalam tidur jam dua!" ucapku.


"Ngapain? Telfonan sama genderuwo? Chatingan sama kolor ijo? Atau ngasuh tuyul?" Sofia lagi-lagi tergelak.


"Kampret lu dasar, Sundel Bolong!" cercaku lagi. Nanda dan Nayara tergelak, Aku dan Sofia sudah biasa seperti ini, tapi kami selalu saling merindukan jika salah satu tidak ada.


"Gak pa-pa. Gue lagi gak bisa tidur aja jadi nonton drakor deh, hehe."


"Dasar lo. Drakor aja di tontonin Gak guna!" Sofia menepuk dahiku.


"Ish, daripada elu. Nontonin foto Ariel? Bosen deh gua!" Sofia mencebik mendengarku.


"Nye elo jadi kan ikut ke acara aa' Nando?" tanya Nayara.


"Kapan?"


"YA AMPUN ANYELIR ANAKNYA BAPAK YUDHISTIRA GUNAWAN!!!" seru ketiga orang itu bersamaan dengan menepuk jidatnya masing-masing.


"Besok malam, Anye!" Nayara.


"Elu ketinggalan info deh!" Nanda.


"Gimana sih elo tuh! Please deh Nye, selaku orang jomblo nih ya, bisa gak sih elu tuh sedikit bagi rasa gitu loh sama cowok. Gue kan risih dengar elu di gosipin penyuka sesama. Jeruk makan jeruk gitu! Secara elo selama ini gak pernah kelihatan deket sama cowok lain, ya kecuali abang gue! Harusnya gue seneng kalau elu mau pacaran sama abang gue, tapi gue gak tahu kenapa ya, elu tuh kayak anti banget sama cowok. Abang gue apa yang kurang coba, ganteng iya, merintis karier juga iya, ya walaupun sedikit gokil sih..."


"Nah itu dia!" ucapku cepat memotong pembicaraan Sofia yang panjang seperti sungai Nil di Afrika.


"Anye! Gue serius!" ucap Sofia.


"Ya gue juga serius!" ucapku.


"Gue mau elo jad..."


"Selamat pagi!" Pak Hendra salah satu guru kami masuk ke dalam kelas. Seketika kelas menjadi rapi dan senyap.


"Pagi pak Hendra yang super ganteng!!!" serempak kami menjawab. Bukan tidak sopan ya, hanya saja sudah biasa!


Jam pulang sekolah, kami berempat keluar kelas secara bersamaan.


"Anye!" Noval datang menghampiri.


"Besok malam gue jemput, oke?"


"Kemana?" tanyaku.


"Ke acaranya si Nando lah!" ucap Noval. "Ya, bareng gue!"


"Eh. Anye itu mau berangkat bareng kita!" Ucap Nanda.


"Iya." timpal Nayara.


"Hehe, gue sama Ariel." Sofia menyengir kuda.


"Gak asyik lu!" cecar Nanda.


"Hehe, takut Ariel di gondol Luna!"


Percaya atau tidak, ini bukan cerita tentang selebriti, tapi real. Antara Sofia, Ariel, dan Luna! Di sekolah kami!


"Gak tau ah. Males!" ucapku lalu pergi mendahului mereka.


"Elo kenapa sih hindarin gue terus? Gue punya salah?"


"Eh elu jangan ganggu Anye deh!" Nanda menghalau Noval.


"Gue bicara sama Anye, bukan sama kalian!" ucap Noval dingin.


"Kalian pulang aja deh. Gue mau bicara dulu sama Noval!" ucapku.


"Beneran kita tinggal?" Sofia bertanya. Aku mengangguk.


"Awas lo jangan macem-macem. Nih kalau elo berani macem-macem sama Anye!" Sofia menunjukkan kepalan tangannya, diikuti dengan Nanda, dan Nayara.


"Udah sana. Gue bisa jaga diri!" ucapku. Ketiga sahabatku pergi, sesekali menoleh ke arah kami.


"Oke kita bicara!"


"Sambil makan bakso, yuk. Laper!" ajak Noval.


"Oke, super jumbo ya!" Noval mengangguk.


Aku menunggu di dekat gerbang, Noval mengambil motornya di parkiran.


"Ayo!" seru Noval. Aku naik ke atas motor besarnya.


"Nye!" panggil Noval.


"Apa?!"


"Naik motor kayak gini gak bisa loh kalau cuma duduk kayak gitu!"


"Terus? elo mau gue meluk gitu?"


"Hehe..." Noval terkekeh.


"Udah gini aja!" ucapku sambil memegang tepian jaketnya.


"Tapi..."


"Banyak omong gue turun!"


"Oke!" Noval segera melajukan motornya dengan pelan.


"Bisa gak sih kalau bawa motor cepetan gitu?" ish apa sekarang lagi trend bawa motor atau mobil pelan ya? Tapi kayaknya enggak juga!


"Iya!" ucap Noval lalu menarik gas agak cepat. Beberapa menit kemudian kami sampai di warung bakso.


Kami duduk di salah satu bangku kosong. Menunggu pesanan bakso yang tadi di pesan Noval.


"Mau ngomong apa?" tanyaku.


"Nanti dong say! Gak laper apa?"


"Ya lapar, lagian juga baksonya belum nyampe! Buruan mau ngomong apa?!"


"Anu.. Gue.."


"Silahkan mas, mbak!" seorang pria muda menghampiri kami dengan dua mangkuk bakso, jus alpukat dan es jeruk.


"trimakasih." ucap kami bersamaan. Lalu pria itu pergi ke tempatnya.


"Gue, mau... Ya ajak elo ke party nya si Nando besok."


"Tadi bilangnya elo mau ngomong sesuatu. Dan gue yakin bukan itu!"


"Makan dulu deh. Takut mood kamu rusak." ucapnya.


"Oke, bener juga! Seenggaknya kalau gue kenyang, gue punya tenaga buat semprot elo nanti!" ucapku tidak peduli dan lebih peduli dengan makanan di depanku! Yummy!


Aku menikmati makananku. Noval juga sama hanya saja dia lebih sering menatapku.


"Makan yang bener! Yang di lihat tuh makanannya bukan lihatin yang lain!" aku risih sebenarnya!


"Galak amat kamu Nye! Tapi aku suka." ucapnya, aku memutar bola mataku malas.