
"Besok tidak kemana-mana kan?' tanya Gio saat Tiara sedang membereskan barang-barangnya.
Tiara menggelengkan kepalanya tanpa menjawab, membuat Gio kesal. Sudah hampir satu minggu Tiara seperti ini terus.
Semenjak insiden jatuhnya rantang makanan, Gio tidak lagi meminta Tiara untuk menyediakan makan siang. Cukup bawakan dia sarapan saja. Terserah mau dia masak atau membelinya di luar, toh dia akan senang hati memakannya selama itu layak untuk dimakan.
"Besok datang ke apartemen. Cucianku sudah banyak!" Titah Gio. Kali ini Tiara mengangguk pelan.
"Aku pamit dulu, Pak!" ucapTiara lirih tak bersemangat. Dia berjalan dengan gontai ke arah pintu diiringi tatapan heran Gio yang menatapnya dari kursinya.
Gio merasa pusing dengan sikap Tiara yang seperti itu. Ada apa gerangan yang membuat Tiara murung tak bersemangat.
"Sial!! Aku jadi gak semangat juga kalau dia seperti itu terus! Apa yang harus aku lakukan?" Gio melipat tangan kirinya di depan perut sementara tangan kanan nya menjepit dagunya. Berusaha berfikir dengan keras.
Akh... padahal ia tidak pernah melakukan hal ini pada wanita, satu orang sih, kekasihnya yang sudah mencampakkannya dulu.
"Apa yang harus aku lakukan... Apa yang harus aku lakukan...? Ahaa...!!!" Gio menjentikkan jarinya saat dia terfikirkan sesuatu. Dia tersenyum dengan lebarnya.
"Mungkin ini bisa membuat dia ceria lagi!" batin Gio.
...***...
Tiara sudah bersiap dengan pakaian santainya, tak lupa ia juga menyandang tas kecil berisi dompet dan juga hp. Dua benda ini penting, tak boleh tertingal.
"Kemana, Ra?" Ibu bertanya pada putrinya. Setiap hari minggu Tiara selalu saja keluar rumah dari pagi hingga menjelang sore. Padahal seharusnya waktu libur ini dia gunakan untuk istirahat.
"Ada perlu, Bu. Ara pamit ya." Tiara mencium tangan ibunya.
"Kamu itu sudah punya pacar ya?" tanya Ibu, menatap putrinya dengan tatapan penuh selidik.
"Eh..?" Tiara bingung saat ibu tiba-tiba menembaknya dengan pertanyaan semacam itu.
"Enggak kok!" jawab Tiara.
"Enggak, tapi tiap minggu keluar terus. Kemana?" tanya ibu lagi.
Tidak mungkin ia akan mejawab pergi untuk mengemban tugas sosial. Menyapu dan mengepel. Mencuci baju, menyetrika, masak dan sebagainya. Oh ... bukan tugas sosial, tapi tugas untuk perorangan!
"Ara ada perlu, Bu. sama .. teman... Iya teman!" ucap Tiara. nah loh, bohong lagi...
Entah sudah berapa karung kebohongan yang Tiara ucapkan pada ibu, atau berapa kilo banyaknya. Seandainya saja bisa di ukur atau di takar, pasti sudah banyak. Dasar anak durhaka!
"Ya sudah, Bu. Ara pamit ya. Jangan lupa ibu makan siang dan obatnya juga!" Pergi dengan cepat menghindari pertanyaan ibu yang pastinya akan bertubi-tubi.
Ibu menatap kepergian putrinya. Dia sudah besar, mungkin saja masih malu mengakui kalau sedang dekat dengan laki-laki.
Tiba-tiba saja ada secuil rasa sedih yang hinggap di dalam hati ibu. Jika putrinya menikah nanti, dia pasti akan ikut dengan suaminya, dan dia akan tinggal sendirian di rumah yang penuh kenangan ini.
"Kamu dimana Afnan?" gumam ibu meremas serbet yang baru saja ia pakai untuk mengelap piring yang basah.
Tiara baru saja turun dari taksi. Dia sudah sampai di apartemen Gio. Dengan langkah lebarnya dia berjalan ke arah lift.
Sekuriti disana sudah sangat hapal dengan Tiara yang hampir seminggu dua kali datang kesana.
Tiara menekan tombol angka yang ada di samping pintu. Dia tidak mengerti dengan angka disana. Kenapa bisa persis dengan angka di tanggal lahirnya? Ah tidak mungkin juga. Mungkin saja angka acak, atau jika memang tanggal lahir pasti orang yang sangat di sayangi atau orang yang sangat berharga untuk Gio.
Ini hanya kebetulan. Hanya kebetulan!
Ah... hatiku... Tiara mengelus dadanya. Rasanya tak nyaman. Tapi dia juga tidak boleh besar kepala, atau mengharap yang tidak mungkin!
Pintu ia buka, seketika aroma menyeruak menyesakkan hidung dan pernafasannya.
'uhukk.. uhuk..." Tiara terbatuk, lantas menutup mulut dan hidungnya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain ia lambaikan mengusir asap dan udara yang terasa pahit di tenggorokannya.
"Jangaaan!" Tiara berteriak.
Terlambat. Bukannya api padam, tapi api semakin membesar membumbung tinggi hingga ke atap.
Cresssss.... Kriinng....
Air dari kran di langit-langit atap terbuka dan menyirami seluruh ruangan, tercurah seperti hujan. Suara sirine kebakaran terdengar dari luar sana. Gio menatap Tiara dan wajan yang sudah gosong bergantian.
Baju Tiara dan Gio sama-sama basah oleh air yang masih tercurah dari atas. Tiara mendengus kesal. Sedangkan Gio memasang wajah tak berdosanya, dengan cengiran khas.
"Bapak itu apa-apaan sih? Mau bakar apartemen ya?" tanya Tiara kesal. Gio menggaruk belakang kepalanya. rencana untuk membuat Tiara terkesan gagal total.
"Kenapa malah melamun? Itu cepat padamkan apinya!" teriak Tiara menunjuk tabung pemadam api yang berada di dekat meja pantry. Tiara mengusap wajahnya yang basah.
Gio tersadar dan segera mengambil alat pemadam kebakaran yang Tiara tunjuk. Dengan cepat dia menarik tuas dan seketika keluarlah asap putih yang kemudian membuat api padam.
Tok... Tok.. Tok...
"Pak Gio!!" suara panggilan dan teriakan dari luar kamar Gio terdengar saat Tiara baru saja memhendakbuka mulut untuk mengomelinya.
Gio berjalan ke arah pintu dan membukanya. Terlihat beberapa orang keamanan berdiri di depan unit Gio.
"Pak Gio kami mendapat laporan kalau unit Pak Gio, terjadi kebakaran?" Tanya petugas keamanan.
"Maafkan kami Pak." Tiara menjawab cepat dari belakang punggung Gio.
"Ini hanya kecelakan kecil saja. Pak Gio tak sengaja membakar dapur, tapi semua sudah bisa di atasi!" ucap Tiara lagi.
Sekurity menatap Gio dan Tiara yang kebasahan, lalu beralih menatap ke dalam unit Gio. Lantai dan sofa sudah basah karena air. Keadan di dalam sana terlihat kacau. Air kran baru saja mati dan tak lagi mencurahkan airnya.
Setelah yakin tak ada kejadian yang harus dikhawatirkan petugas keamanan itu undur diri. Sebelumya dia menasehati Gio tentang keamanan dan kenyamanan sesama penghuni.
"Bapak itu mau ngapain sih? Sudah tahu gak bisa masak ngapain juga main di dapur?" tanya Tiara geram, setengah berteriak karena kesal. Siapa lagi yang akan membereskan kekacauan ini nantinya. Pasti dirinya! Siapa lagi?
"Aku cuma mau belajar masak. itu saja!" ucap Gio sambil memalingkan wajah ke arah lain, menghindari tatapan Tiara yang tajam padanya.
Tiara memijit pangkal hidungnya yang berdenyut. Kalau mau belajar dan tak membakar dapur sih tak masalah, lalu bagaimana ceritanya sampai bisa terbakar seperti ini!
"Ya ampun...! Belajar masak sih boleh saja, tapi jangan bakar dapur juga kali!" cerca Tiara.
Yaa... mana aku tahu kalau dapur akan terbakar seperti ini? Yang aku tahu kan, aku cuma masak!" Ucap Gio dengan mengerucutkan bibirnya bak anak balita.
Tak ingin berdebat dan membuat kepalanya pusing. Tiara melepaskan tasnya dan menggantungkannya di tiang gantungan. Dia lantas berjalan ke pantry dan mulai membereskan kekacauan yang Gio lakukan.
Yaaaah kejutan ku gagal deh!! batin Gio. Tadinya dia ingin membuat masakan berbahan baging, tapi dia lupa karena mendapatkan telfon penting dari klien hingga masakan itu gosong dan akhirnya terjadi insiden kebakaran.
Ya ampun... sampah wadah dan bahan makanan tercecer dimana-mana, di atas meja dan di lantai juga.
Tiara terdiam melihat itu semua lalu melirik ke arah Gio yang memalingkan wajahnya menghindari tatapan kesal Tiara.
"Mau tetap diam disana atau bantu aku beres-beres?" tanya Tiara dengan nada ketus.
"Iya!" jawab Gio lalu mendekat ke arah TIara. Dia melepas ikat rambutnya dan menggelung rambutnya di atas kepala. Semua yang di lakukan Tiara membuat Gio terpana, leher jenjang Tiara sangat menggoda iman. Indah!
Gio membantu merapikan wadah kotor dan menyimpannya di wastafel. Dia merasa kedinginan, bajunya basah karena insiden tadi, dia lantas membukanya tepat di hadapan Tiara.
Tiara terkejut. Dia terpaku melihat Gio yang dengan santainya membuka baju di depannya. Perut kotak dan otot tangannya seketika menghipnotis Tiara. Dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari sana. Roti sobek yang sangat menggoda untuk di sentuh... Eh ?!!
Apa yang aku fikirkan? Aduuh roti... Eh