DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 181



Gio duduk di kursinya, tiga orang yang tadi mengikutinya kini berdiri dengan wajah tertunduk dalam. Menunggu instruksi apa yang akan di berikan bos yang baru satu minggu ini bertahta kepada mereka. Jangan sampai mereka melakukan kesalahan dan akhirnya di pecat dengan cara tak terhormat seperti petinggi yang lain beberapa hari yang lalu. Ini memang perusahaan yang sedang mengalami nasib buruk di beberapa tahun belakangan ini, tapi gaji yang di tawarkan selama ini lumayan juga jika di bandingkan mereka harus menjadi pengangguran dan di tuntut uang resiko yang cukup tinggi oleh istri atau untuk sekedar memberi pada orangtua mereka.


Heru, beberapa hari yang lalu menyusul Gio atas perintah Papa Devan. Meski rasanya berat untuk meninggalkan Ayu, sang pujaan hati. Pria itu kini harus menjaga Gio. Dalam keadaan apapun juga setiap putra keluarga Aditama harus mempunyai pelindungnya sendiri.


Nasib siapa yang tahu, Devan dan Anye tak mau hal seperti beberapa tahun yang lalu terjadi. Menjadi anggota Aditama memang tak ada masalah, tapi saat orang lain tahu jika mereka juga punya marga Rudolf di belakang nama mereka, antara hormat dan juga dendam. Berjaga dan bersiap dengan segala kemungkinan itu lebih baik.


Heru maju satu langkah. Dia memberikan sebuah file pada Gio. Gio menerimanya lalu membuka file itu, membacanya dari atas hingga selesai.


Dua orang yang lain masih menunduk dalam. Keringat membasahi kening mereka berdua. Ingat akan kekejaman seorang Gio Arian Aditama. Dimana pria itu baru saja dengan tak berperasaan menendang beberapa orang lagi dari dalam perusahaan itu, orang-orang yang selama ini mereka takuti. Ya tidak heran juga sih, dia bosnya sekarang, berhak untuk melakukan apapun untuk mempertahankan miliknya. mengatur semaunya.


Pria dengan wajah datar dan dingin ini sudah membuat beberapa orang itu tak berdaya dan kehilangan arah dia usia mereka yang tak lagi muda. Bahkan dengan mudahnya pria ini membuat mereka masuk dalam blacklist. Perusahaan manapun tak akan pernah mau menerima mereka untuk bekerja di tempatnya. Pengalaman bekerja selama puluhan tahun tak akan berpengaruh jika nama mereka ada di dalam daftar itu.


Pekerjaan kasar? Oh... Siapa yang mau bekerja menjadi kuli bangunan di tengah terik matahari? Mereka yang tersisa akan bertahan disini untuk keuntungan mereka sendiri. Mencari aman lebih baik daripada harus mengikuti jejak mereka dan lalu menjadi pengangguran.


Gio menyimpan kembali berkas yang tadi dia lihat ke atas meja. Dia lalu mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam laci meja kerjanya. Mendorong sebuah amplop putih dengan satu tangan ke depan kedua pria itu. Melihat dua pria berbeda generasi itu lekat-lekat.


"Kalian tahu bukan ini apa?" Gio duduk bersandar pada sandaran kursi, menaikkan satu kainya pada kaki yang lain, menautkan kedua jari tangannya di atas pangkuan.


"Aku tak akan pernah memaksa kalian. Mau kalian ambil sekarang atau nanti, itu pilihan kalian!" berhenti bicara, masih menatap keduanya bergantian. Tak ada pergerakan apapun dari dua orang pria di hadapannya.


"Tidak ada yang mau ambil?" Gio akhirnya berkata setelah tiga menit menunggu dan tak ada yang berbicara ataupun bergerak.


"Kalian tahu kan konsekwensinya jika kalian menghianatiku? Bukan hanya kalian yang akan menanggung rsikonya jika kalian berkhianat, tapi keluarga kalian. Mau dimana kalian berada, kemana kalian pergi, meski di daerah terpencil sekalipun, aku akan tahu kebersadaan kalian,!"


Glek... salah satu di antara mereka menelan ludah dengan susah payah, terbukti dengan keluarnya orang-orang itu, usaha saudara dan juga keluarga mereka kalut malut. Setidaknya itulah gosip yang mereka dengar dari beberapa karyawan mereka.


"Kami... Kami akan setia pada Anda Tuan!" ucap pria yang lebih tua, sedangkan yang lebih muda hanya diam mengangguk patuh.