
Ayah terus saja bicara soal kapan aku dan Sam akan bertunangan. Ya ampun aku saja belum resmi bercerai dengan Devan. Apa ayah lupa?
"Ayah?!" aku mengetuk pintu ruang kerja ayah. Di tanganku ada nampan berisikan teh jahe hangat dengan kue jahe. Ayah paling suka saat cuaca dingin begini.
"Ada apa?" tanya ayah saat aku sudah meletakkan nampan itu di dekatnya.
"Aku tidak mau basa basi!" ucapku kemudian duduk. Dari pada nyesek duluan ya kan, muter sana muter sini mending to the point saja.
"Aku ingin menolak usulan ayah untuk aku menikah dengan Samuel! Ayah mengalihkan tatapannya padaku, dia melipatkan kedua tangannya di atas meja. Dadaku berdetak cepat. Rasanya aku tidak sanggup kalau ayah akan marah.
"Kenapa?" tanya ayah nada suaranya dingin.
"Karena perasaan kami hanya sebatas cinta kakak dan adik! Lagipula aku dan Devan juga belum bercerai!"
"Ayah bisa mempermudahnya kalau kamu mau. Itu masalah gampang. Kalau tidak dengan Sam, apa kamu punya calon lain? Robert dan beberapa pria lainnya pernah mengatakan ketertarikannya sama kamu pada ayah."
Aku menggeleng. "Apa kamu ingin balikan dengan Devan?" ayah mengubah duduknya. Kali ini bersandar di kursi dan menarik tangannya, terlipat di depan dada.
"Nyatanya aku gak bisa lupakan dia." berkata jujur lebih baik meski akan di tentang oleh ayah.
"Kenapa?"
"Tidak tahu. Perasaanku tidak bisa di bohongi. Aku masih ingin dengan Devan. Kalau ayah mau tahu aku masih memata-matai Devan. Dan dia sudah menyesal. Maafkan aku ayah!" aku menunduk tidak berani menatap ayah.
"Lalu Samuel? Kamu mencampakkan dia?" tanya ayah.
"Iya. Nyatanya Sam juga tidak bisa lupakan Rosseline!" Kami terdiam. Ku dengar helaan nafas ayah yang berat.
"Baiklah. Kamu memang sudah besar. Jika kamu yakin dengan dia maka sana, kembali pada laki-laki itu." ayah berkata ketus. Tidak pernah aku mendengar ayah seperti itu. Apa aku sudah buat ayah kecewa?
"Maaf ayah. Sama seperti ayah yang hanya menikah sekali dengan ibu. Perasaan cinta ayah yang besar pada ibu. Aku juga sama. Nyatanya setelah lima tahun ini aku gak bisa lupakan dia. Dia ayah Daniel. Suamiku. Meski aku juga salah sudah pergi dari dia."
Ayah mendecih. Benar. Ayah tidak suka! Ayah kecewa! Aku salah! aku salah!
Aku semakin menundukkan kepalaku, meremas ujung bajuku. Tapi yang aku dengar adalah tawa ayah. Aku mengangkat kepalaku menatap ayah. Ayah sedang tertawa lebar.
"Kamu memang anak ayah." Ayah menyusut sudut matanya.
"Yakin dia sudah menyesal?" tanya ayah. Aku mengangguk.
"Ayah jangan pura-pura tidak tahu! Aku tahu ayah diam-diam masih punya orang untuk memantau mereka!" decihku tidak suka. "Bahkan ayah mempermainkan usaha mereka. Ayah fikir aku tidak tahu!"
"Maaf-maaf. Ayah hanya sedikit bermain-main mencari hiburan. Tidak salah kan?" ayah masih tertawa tapi kali ini tidak sekeras tadi.
Aku berdiri dan memutari meja. Memeluk ayah dari belakang.
"Maaf ayah. Aku bukan anak yang berbakti. Untuk urusan perasaan aku mohon ayah jangan ikut campur." pintaku.
"Dengar nak!" Ayah mengusap lenganku dengan jari-jarinyan lembut. "Perasaan orang tua, jika anaknya bahagia, maka orang tua juga ikut bahagia. Tapi kalau anaknya sedih, kami tidak yakin akan hanya berdiam diri." ucap ayah lagi.
"Aku tahu. Ayah memang yang terbaik. Ayah cukup dukung saja apa yang akan aku lakukan. Aku juga ingin kembali pada dia, tapi sebelum itu aku juga sudah bermain-main dengan ibunya!" ayah mengernyitkan dahinya.
"Maksud kamu?"
"Apa ayah pura-pura tidak tahu lagi?" aku mulai kesal. Lagi ayah tertawa. Tuh kan. Meski aku tidak pernah bilang pada ayah, tapi ayah tahu setiap yang aku lakukan.
"Iya-iya, ayah tahu. Kalau kamu butuh bantuan bilang sama ayah!" aku mengangguk senang, mencium pipi ayah.
"Trimakasih ayah. Selamat malam. Cepat tidur." ayah mengangguk. Aku bergegas keluar dari ruangan ayah.
Aku tenang sekarang. Ayah sudah mengerti dengan keputusanku untuk kembali dengan Devan. Apa aku keterlaluan membiarkan ayah bermain-main sendirian? Ya aku memang keterlaluan karena aku bahkan mempermainkan ibunya. Ya ampun, aku begitu pendendam! Hehe...
"Senang sekali kelihatannya!" Suara Sam terdengar dari belakang. Aku menoleh dan tersenyum saat melihat dia dengan rambut acak-acakan.
"Ayah setuju!" Sam ikut senang saat mendengarnya. Dia sudah tahu apa maksudku.
"Jadi, kapan kamu akan pergi?" Aku mendelik, nada suaranya bermakna sesuatu.
"Ngusir atau nanya?"
"Dua-duanya!" jawab Sam dengan entengnya." Dasar!
"Aku mau ikut, ingin lihat bagaimana reaksinya kalau melihat hantu seperti ku di siang bolong!" dia tertawa geli.
"Mana ada hantu di siang bolong?"
"Ada. Ini!" tunjuk nya pada diri sendiri. "Kapan kamu mau berangkat, aku akan siapkan semuanya!"
"Secepatnya!" kataku sambil melangkah meninggalkan Sam.