
Tiara terbangun saat pagi hari. Sinar matahari tepat menyinari wajahnya, terasa panas. Dia hendak mengangkat tangannya untuk menghalau cahaya matahari itu dari wajahnya, tapi tak bisa. Dia sama sekali tak bisa mengerakkan tangannya. Terikat.
"Aduh, ada apa ini?" Tiara menjadi panik sendiri saat mendapati dirinya yang tengah terikat seperti ini. Sulit sekali untuk di lepaskan. Apakah dirinya sedang di culik? Tapi penculik tak pernah menggulung korbannya dengan selimut seperti ini, hampir seperti kue lemper besar.
Dia terus bergerak-gerak, sudah mirip cacing yang terus menggeliat karena kepanasan.
Melihat ke arah jendela denga tirai abu-abu gelap. Tiara kini paham dimana dirinya. Ini apartemen Gio, tapi sejak kapan dirinya ada disini? Kenapa bisa ada disini? Dan kenapa dia diikat? Seingatnya semalam dia ke pesta reuni dengan Alea.
"Pak Gioooo Tolong lepaskan aku. Pak Giooo!!!" berteriak dengan keras. Tangannya sudah terasa pegal ingin segera merenggang ke atas.
Gio masuk ke dalam kamar saat mendengar teriakan Tiara. Dia melihat Tiara yang terus bergerak seperti ulat, pecah tawanya seketika, membuat Tiara terdiam dengan kesal.
"Hei, jangan tertawa seperti itu. Cepat bukakan ikatanku!" geram Tiara.
Gio mendekat dan duduk di bibir ranjang. Dia duduk miring ke belakang dengan kedua tangan menopang tubuhnya.
"Tidak mau. Kalau kamu aku lepaskan takut di terkam lagi!" ucap Gio. Tiara melotot mendengar apa kata Gio.
"Apa maksudnya? Memang nya aku ini harimau?" berteriak kesal.
"Memang. Apa kamu ga sadar semalam kamu seperti apa?" tanya Gio. Tiara terdiam, mencoba mengingat, tapi sama sekali tak ingat apa-apa.
"Aku gak ingat. Memangnya apa yang terjadi?" tanya Tiara ingin tahu.
"Benar tidak ingat?" Tiara menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Gio mengulurkan tangannya ke kening Tiara, sudah tidak sepanas semalam. Dia beranjak naik ke atas kasur dan duduk di atas kaki Tiara yag tertutup selimut.
"Eh bapak mau apa?" tanya Tiara terkejut dengan apa yang di lakukan Gio.
"Mau di lepas tidak?"
"Mau. Tanganku sudah pegal ini!"
Gio membalikkan Tiara menjadi tengkurap membuat gadis itu memekik karena terkejut. Entah kenapa kepala sabuk yang semalam ada di depan kin berpindah ke belakang.
"Awww...pelan-pelan, Pak! Sakit!"
"Iya, aku kan perlahan. Jangan teriak, nanti tetangga menyangka kita sedang apa!" ucap Gio.
Tiara hanya diam, menurut saja daripada Gio tidak melepaskan ikatannya.
Tak butuh waktu lama, ikatan itu terbuka. Gio menyimpan sabuk miliknya di samping tempat tidur, dia turun dari atas tubuh Tiara.
Gadis itu berguling ke arah tengah ranjang, merentangkan kedua tangannya ke atas dengan gaya seperti bayi yang baru saja di lepas kain bedongannya.
Gio memalingkan pandangannya ke arah lain, rok Tiara tersibak hingga ke paha, membuat paha mulusnya terlihat dengan jelas.
Ini masih pagi, dan dia sudah disuguhkan pemandangan meresahkan seperti ini.
"Sudah cepat mandi sana!" Gio melemparkan selimut ke arah tubuh Tiara hingga paha mulus itu tertutupi.
"Iya, sebentar. Aku masih melakukan streching! Ughhh..." masih menarik tangannya ke atas.
"Pak." panggil Tiara pada Gio yang hendak berlalu dari sana.
"Hem..." Gio berhenti menunggu Tiara berkata sesuatu.
Tiara menarik selimutnya hingga ke dada.
Akh... Kenapa dia jadi imut seperti itu... Sialll!!! rutuk batin Gio.
"Kamu mabuk."
Tiara mengerutkan keningnya. "Tapi aku tidak minum alkohol!"
"Memang tidak, tapi sepertinya ada orang yang sengaja mencampur minuman kamu dengan obat sampai kamu mabuk dan bergairah."
Bergairah? Tiara berfikir keras.
"Jadi maksudnya... kita...." Tiara tergagap saat menyadari apa yang Gio maksud. Dia menutupi mulutnya dengan menggunakan selimut.
"Kamu fikir kita apa? Melakukan olahraga bersama?" tanya Gio. Tiara semakin menaikkan selimutnya ke atas. Kini menutupi hidungnya.
Jika Gio mengatakan mereka melakukannya maka dia akan melompat saja dari jendela gedung ini, semoga saja dia tidak mati. Amnesia sedikit tak apa-apalah.
Gio membuka kancing bajunya satu persatu, terlihat perut kotaknya dengan bekas luka disana. Ada sesuatu yang lain juga. Merah sedikit keunguan di kulitnya yang putih di dekat lehernya.
"Kita memang tidak melakukannya, tapi kamu!" tunjuk Gio pada bekas di dekat lehernya."
"Tapi maksudnya kita gak...enggak... begituan kan, Pak? tanyanya terbata.
Sepertinya dia harus bersiap untuk mendekat ke arah jendela.
"Tidak, tentu tidak. Aku bukan tipe pria brengsek yang akan mengambil kesempatan bercinta dengan orang yang tak sadar. Kecuali kalau sekarang kamu mau melakukannya, maka aku akan dengan senang hati melakukannya." Gio menaik turunkan kedua alisnya. Genit.
Tiara semakin mencengkeram selimutnya dengan erat.
"Enak saja. Tidak mau. aku hanya akan memberikan ini pada suamiku!" Ucap Tiara dengan cepat.
"Oh ya, Pak. Alea kemana? Apa semalam dia tidak ada sama aku?" tanya Tiara. Gio hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku ingat semalam dia yang kasih aku minum." Tiara terlihat mendung di wajahnya. Dia sangat takut jika Alea yang...
"Bukan dia yang kasih obat di minuman itu, tapi orang lain."
Fiuhh.... Tenang kalau begitu. Dia sempat berfikir yang tidak-tidak dengan sahabatnya itu. Harusnya dia tahu kalau Alea tak mungkin melakukan hal itu pada dirinya.
"Cepat mandi, lalu buatkan aku sarapan. Aku lapar!" ucap Gio sebelum keluar dari kamar.
"Tapi aku gak ada baju, Pak. Baju ku lengket ini. Aku berkeringat!" teriak Tiara.
"Ada baju kamu yang tempo hari basah!" jawab Gio berteriak dari luar.
Tiara tersenyum. Dia lupa itu, saat insiden dapur hampir kebakaran memang dia menjemur bajunya disini dan belum dia ambil.
Tiara segera bergegas untuk mandi, dia juga sangat kelaparan. Ingat semalam dia belum makan sama sekali.
Gio dan Tiara makan bersama, sarapan yang sudah kesiangan di jam sembilan pagi. Beruntung ini adalah hari minggu. Mereka tak perlu datang ke kantor.
"Beruntung aku datang tepat waktu, kalau tidak kamu akan habis di bawah kuasa pria kurus itu!" ucap Gio lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Tiara mencebik kesal. "Siapa juga yang mau seperti itu, Pak! Aku kan gak tahu kalau ada yang menjebakku. Mana aku tahu kalau ada sesuatu di dalam minuman itu!" Tiara juga sama memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Lain kali lebih berhati-hati lah. Meski dengan teman sendiri. Apalagi orang asing seperti pria itu. Jangan sampai kamu menyesal nantinya." ucapan Gio membuat hati Tiara menghangat. Dia seperti sedang perhatian padanya.
Hahh... seandainya...
Tidak. Jangan berharap banyak sebelum ada kata-kata dari dia. tahan hatimu Tiara jangan berikan hatimu pada orang tak jelas seperti dia!