
Sudah hampir satu minggu ini Axel dan Renata menjalani bulan madunya di Jepang. Mereka terlihat sangat bahagia karena bisa pergi berdua. Apalagi Axel, tak terpikirkan dengan kepenatan urusan pekerjaan. Biarkan saja Gio yang mengerjakannya, toh pria itu juga dengan senang hati menggantikannya karena ada Tiara yang bisa membuatnya semangat.
Ya... Axel hanya berharap Gio bekerja dengan benar. Awas saja kalau mereka hanya berpacaran seperti minggu lalu. Bersiap saja Gio menjadi satpam di kantor cabang!
Setelah puas berkunjung ke beberapa tempat seperti Mother Farm di kota Chiba, memetik stoberi yang sangat segar. Mereka juga berkunjung ke tempat yang lain. Gifu, untuk melihat Kota Tua Takayama, berlanjut ke Hokkaido untuk menikmati mekarnya bunga di Sapporo, dan terakhir mereka mengunjungi Gunung Fuji.
Axel dan Renata baru saja sampai di sebuah ryokan. Penginapan ala Jepang ini membuat Renata terkagum, apalagi dia dan Axel juga memakai pakaian ala Jepang. Kimono dengan corak bunga sakura itu terlihat indah menempel di tubuh Renata. Begitu juga dengan Axel, sekilas Renata membayangkan kalau dirinya adalah orang Jepang untuk saat ini.
Disini juga menyuguhkan tata cara kehidupan orang Jepang, salah satunya dengan upacara minum teh sambil duduk berimpuh di atas tatami, tikar yang terbuat dari jerami, seraya menikmati pemandangan Fuji yang terlihat indah dari kamar mereka. Hanya tinggal menggeserkan dinding lebar-lebar hingga terlihatlah pemandangan Fuji yang indah. Di belakang kamar mereka juga terdapat onsen, Axel ingin menikmati acara berendam hanya dengan istrinya berdua tanpa ada gangguan dari pengunjung lain hingga menyewa satu buah ryokan ini hanya untuk mereka berdua.
Renata terkagum dengan pemandangan indah di hadapannya, senyum di bibirnya tak pernah bisa ia turunkan, merekah sempurna.
Renata juga terkagum dengan keadaan bangunan ini benar-benar tradisional dengan lantai papan kayu, tak ada kesan kemewahan seperti hotel pada umumnya. Ini adalah penginapan tradisional tentunya mengambil tema rumah tradisional ala jepang. Renata juga melihat lemari yang ada di pojok ruangan, terdapat dua kasur lipat untuk para pengunjung tidur menggelar kasur di lantai. Baginya ini mengingatkan dia dengan kehidupannya sebelum pindah ke rumah Axel, kasur tergelar di lantai tanpa dipan atau ranjang.
"Aku mau menikmati onsen, kau mau ikut?" tanya Axel pada sang istri. Tubunya lelah karena perjalanan mereka tadi. Mungkin dengan berendam sebentar bisa membuatnya kembali segar.
Mendengar nama onsen mata Renata membulat, dia cukup tahu dengan istilah itu karena kemarin dia berseluncur di internet saat Axel mengatakan ingin berlibur ke gunung Fuji.
"Ikut!" ucap Renata. Axel berjalan ke dinding yang lain, Ryokan itu memang cukup luas, terdapat beberapa ruangan sebagai ruang tamu, dapur tradisional dan juga kamar mandi. Semua yang ada di ryokan ini tak ada sentuhan modern sama sekali, bahkan penerangan mereka masih memakai lentera dan juga lilin. Benar-benar membuat pengunjung seperti ada di zaman Jepang kuno.
Di sebelah kamar mereka terdapat ruangan dengan meja pendek dan bantal duduk untuk menikmati teh sambil menatap keindahan gunung Fuji.
Srek. Axel menggeser dinding dari triplek yang di lapisi kertas bercorak. Tak hanya kertas dinding seperti zaman dahulu saat kita menonton film lawas Jepang, pengelola menggantinya dengan triplek untuk menjaga kenyamanan pengunjung.
Renata terdiam melihat onsen yang mengepulkan asap tipis di permukaaan airnya. Bebatuan yang di atur di tepi kolam buatan itu berjajar dengan rapi, ada pula satu batu besar yang ada disana, beberapa tanaman khas seperti yang ada di tempat pemandian air panas alami juga di atur sedemikian rupa disana.
"Aku akan ganti dengan handuk, semua sudah di siapkan untuk kita." ucap Axel dengan senyum di bibirnya. Axel pergi ke arah kamar mandi terlebih dahulu, tak lama setelah itu dia kembali keluar menemui Renata dengan handuk kecil melilit di pinggangnya. Tak lupa dengan handuk yang lain yang melingkar di kepala Axel dengan dua bulatan di kedua sisi telinga Axel. Renata tertawa kecil melihat penampilan Axel, baginya seperti melihat domba dengan tanduk besar melingkar disana.
"Kenapa tertawa?" tanya Axel bingung, dimana seharusnya seorang wanuta terkagum dengan tubuh atletisnya tapi wanita ini tertawa geli sambil menutupi mulutnya.
"Kau tahu apa yang aku lihat sekarang? Kau seperti seekor domba!"
"Domba?" Axel bingung hingga keningnya mengernyit. Keterlaluan! Singa lebih baik daripada domba!
"Handuk kamu seperti tanduk! haha..." tertawa lagi sungguh tak tahan apa lagi sekarang Axel melakukan gerakan seperti sedang mengunyah dengan kelopak mata turun sedikit, persis seperti domba pemalas.
"Apa seperti ini sudah cukup mirip" Axel berkata dengan tak mengubah raut wajahnya.
"Axel hentikan itu! Aku geli lihat kau seperti itu!"
Renata sampai memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa.
"Geli apanya?" Axel mendekat. sadar dengan senyum seringai dan juga tangan Axel yang terulur, sepertinya Renata tahu apa yang akan di lakukan pria itu.
Renata mundur satu langkah bersiap mengambil langkah seribu.
Grep.
"Xel hentikan. Ini geli, ahahhha..." Axel membuat Renata tak berdaya dalam pelukannya, gelitikan maut yang dia lakukan pada Renata sukses membuat istrinya mengeluarkan air mata.
"Ini yang di bilang geli!" Axel tertawa, tak menghentikan gerakan jari tangannya pada pinggang Renata.
"Aduh ampun, sudah hentikan." tak tahan hingga tubuhnya lemas, Renata tak bisa menopang tubuhnya lagi hingga mereka berdua terjatuh bersama di atas tatami.
"Axel sudah, ampuni aku. Aku tak akan lagi mengataimu!" Renata tak kuat lagi, serangan Axel tak henti membuat dirinya tertawa sekaligus menangis.
"TIdak. Kau harus mengatakan kau cinta padaku, baru akau akan melepaskanmu!" Axel masih gencar melakukan penyerangan pada sang istri, dia juga menggosokkan dagunya yang belum di cukur di belakang leher istrinya.
"Iya aduh ampun. bagimana... aku akan bilang... kal... kalau kau terus membuat ku geli!" Renata menggerakkan tangan dan kakinya supaya bisa terlepas dari lingkaran tangan sang suami. Dia sungguh tak tahan jika di gelitik seperti ini, apa Axel akan membuat dia mati karena banyak tertawa?
"Kau bisa memohon ampun dan bicara panjang lebar, tapi tak bisa mengatakan cinta padaku?" Axel tak mau menyerah.
"Iya aku menyerah, ampun."
"Katakan kau cita padaku!"
"Iya."
"Iya apa?"
"Aku cinta padamu, sekarang kau puas? Lepaskan aku." jerit Renata.
"Tidak. Kau bilang seperti itu karena kau ingin terlepas dariku, kan?" Axel belum puas.
Dengan segala kekuatannya Renata membalikkan dirinya.
"Aku mohon, ini geli... tapi... ak.. aku memang cintapadamu!"
Axel menatap kesungguhan yang dada di dalam mata Renata. Tak ada kebohongan disana. Tangannya terdiam tak lagi bergerak menggelitik istrinya. Renata sampai kembang kempis dadanya, sesak dan juga lelah, matanya juga basah karena perlakuan pria itu tadi padanya.
"Aku cinta kamu Axel. Sangat.!" lirih Renata lalu mendekatkan dirinya pada Axel. Menempelkan bibirnya dengan penuh perasaan. Axel terbuai dengan perlakuan sang istri, dia menarik dagu Renata hingga terbuka dan memasukkan lidahnya ke dalam sana, mengabsen satu persatu yang ada di dalam mulut Renata dengan lembutnya.
Axel menjauhkan dirinya, sesuatu ada yang tak beres di tubuhnya. Dia merasa ingin bercinta dengan Renata. Renata terdiam menatap Axel yang kini bangun dari lantai.
"Akh..!" Renata berteriak lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Axel menoleh. "Ada apa?" bertanya dengan bingung
"Axel, itu... tutupi!" tunjuk Renata ke arah tubuh Axel bagian bawah. Axel menatap apa yang di tunjuk Renata, dia terkejut karena sekarang dia telanjang bulat. Handuk yang dia pakai ada di bawah tubuh Renata sekarang, pastilahkarena pergulatan mereka tadi itu.
Segera Axel menutupinya dengan menggunakan tangan, handuk yang ada di kepalanya juga sudah terlepas di dekat pintu.
"Handukku ada di bawahmu, tolong berikan!" Axel dengan malu kini berbalik arah memunggungi Renata.
Renata bangkit duduk dan menggapai handuk yang tergeletak di atas tatami, masih dengan menutupi kedua matanya dengan menggunakan tangan ia mengulurkan handuk itu pada Axel.
"Ini!" Axel menoleh, melihat handuk yang di berikan Renata, segera dia menyambarnya dan kembali memakainya.
"Sudah di pakai belum?" tanya Renata tak berani melihat.
"Sudah." Axel menjawab dengan malu.
Renata masih tak berani melihat, dia sangat malu sendiri melihat sesuatu yang besar menggantung di pangkal kaki Axel. Baru pertama kali ini dia melihat benda seperti itu, secara nyata. Renata wanita dewasa, dia pernah melihat benda seperti itu hanya di video. Pernah, tapi tak sering!
"Aku akan berendam duluan, kalau kau mau menyusul." Dengan meredam malu Axel segera berjalan melewati Renata sambil memegangi handuknya.
Renata melirik Axel yang sedang mengambil handuk kepalanya lalu menyampirkannya di bahu. Semua pergerakan Axel membuatnya terdiam. Renata akui memang Axel memiliki tubuh yang perfect meski tak sebesar Gio. Tapi dia suka dengan segala apa yang ada di dalam diri Axel.
Axel berendam di air hangat, dia merasa malu dengan kejadian tadi, tak ingin Renata berpikir jika dirinya menginginkan Renata meski memang iya. Dia harus menjaga hasratnya agar tak melakukan hal yang buruk dan membuat Renata kembali merasakan trauma.
Srek... pintu geser terbuka, Axel menoleh ke arah asal suara. Renata memakai handuk yang melilit di tubuhnya juga dengan handuk kecil yang melingkar di kepala. Dia pikir Renata tak akan ikut berendam.
Axel sampai ternganga melihat Renata yang seperti itu, dia sangat seksi dengan hanya memakai handuk. Pundak putihnya dan kaki jenjangnya terlihat sangat indah. Apalagi aroma air hangat dan juga asap tipis yang mengepul sore ini membuat apa yang di pandang Axel pada istrinya ini menjadi teralu indah dan juga luar biasa.
Sadar Axel. Tahan dirimu!
Perlahan kaki jenjang Renata turun satu persatu ke dalam air. Jarak mereka cukup berjauhan. Renata terus saja menundukkan kepalanya karena malu. Duduk di tepi kolam, berseberangan dengan Axel.
Renata menggerakkan tangannya, mengambil air dengan suhu hangat itu dengan kedua telapak tangan lalu membasuhkannya ke depan tubuhnya. Rasanya nyaman sekali membuat tubuh dan kepala mnjadi rileks.
Axel yang menatap hal itu menjadi tak tahan, jika saja Renata adalah wanita yang normal bisa saja dia menariknya dan menyerangnya disini. Toh tak akan ada yang lihat karena ini ryoku pribadi. Tak ada orang lain disini, pengelola ryoku ada di tempat lain. Tapi itu semua hanya khayalan, Axel sudah berjanji akan menahan diri dan menunggu Renata hingga sembuh.
Axel merebahkan dirinya menenggelamkan diri ke dalam air hangat itu dengan mata tertutup. Mata, hati, dan pikirannya harus segera di refresh. Ini ujian kecil. Dua puluh lima tahunnya juga di jalani dengan tak memikirkan hal yang seperti itu, bukan?
Renata terdiam menatap riak air dimana Axel menghilang. Satu menit. Dua menit. Pria itu tak kunjung juga keluar dari dalam sana. Membuatnya khawatir saja.
Renata menarik punggungnya, dia khawatir Axel pingsan atau apa tapi sebelum dirinya bergerak lagi, pria itu menyembulkan kepalanya keluar dari dalam air dan mengambil nafas banyak-banyak. Handuk putih dengan gelung dua seperti tanduk itu tak ada lagi di kepalanya.
"Apa yang kau laukan, Xel? Jangan menyelam lagi. Mambut ku khawatir saja!" Renata mengatakan rasa kekhawatirannya.
"Maaf, aku hanya ingin mencoba cara seperti orang jepang."
Axel ikut tertawa, sungguh dia suka dengan Renata yang kini sering tertawa seperti itu.
"Ini sangat nyaman, dan rasanya aku tidak ingin beranjak dari sini."
"Hem, benar. Disini sangat indah sekali. Aku suka mandi dengan memandang puncak Fuji itu." Renata memalingkan wajahnya menatap puncak gunung indah itu, pucuknya selalu di selimuti salju.
"Apa kau mau melihat matahari terbit dari atas sana? Kalau kau mau aku akan cari pemandu yang akan menemani kita mendaki besok pagi." Ucap Axel.
Renata mengalihkan pandangannya pada sang suami, terlalu banyak kejutan dan juga perlakuan Axel untuk dirinya, tapi Renata malah tak pernah sekali pun melakukan sesuatu hal untuk pria itu.
"Mau atau tidak?" tanya Axel.
"Terserah kau saja. Aku akan ikut kemanapun kau akan mengajakku!" ucap Renata malu-malu. Dia mengambil air lalu mengusapkannya ke pundak.
Sesuatu bergerak di bawah air, menggesek kaki hingga paha putih mulus renata, terlihat seperti bergerak-gerak menggeliat.
"Akh!!" Renata memekik ketakutan, dia meloncat mendekat ke arah Axel yang hanya berjarak tiga meter darinya, memeluk leher pria itu dengan erat dan ketakutan.
"Axel ada ular!' Tunjuk Renata ke arah dimana atadi dia duduk, dia sangat takut jika ada ular disana. Rasa geli di kakinya membuat dia menggidik ngeri.
"Dimana?' tanya Axel engan sikap bersiap.
"Disana. Tadi di tempatku duduk!" Axel bangkit juga Renata. "Aku takut Xel!" Beralih ke belakang Axel saat pria itu maju untuk melihat apa memang ada ular disana, dia harus menghubungi pengelola ryoku untuk mengusir ular atau hewan apapun yang berbahaya.
Axel terdiam, lalu menahan tawa sedangkan Renata memegang tangannya dengan erat menyembunyikan wajahnya di belakang punggung telanjang sang suami.
"Itu hanya haduk Re, handuk kepalaku yang tadi terlepas sepertinya." Axel berjalan maju dan menagmbil handuk yang mengambang di permukaan air, dia memperlihatkannya pada Renata.
"Lihat, ini hanya handuk. Bukan ular!" Axel tertawa lagi. Dia melihat wajah Renata yang kini berangsur tenang. Menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Maaf, aku kira itu tadi ular. Aku sangat takut tadi. Maaf!" Renata menyesal karena tidak melihatnya terlebih dahulu, dia malah membuat suaminya khawatir.
"Tidak apa-apa, ini wajar. Kita kan sedang berlibur dan berendam di sini, masih banyak pepohonan dan juga tanaman liar. Wajar jika kau berpikiran ada ular disini." Axel memeluk Renata dan mengusap pundaknya beberapa kali, menenangkan istrinya yang masih terpaku ketakutan.
Renata terdiam, bukan lagi karna rasa takut yang tadi dia rasakan, tapi persaan lain yang ada di dalam dirinya. Dia merasa malu dengan keadaan mereka seperti ini, saling berpelukan dengan hanya dirinya memakai handuk sedangkan Axel hanya memakai handuk sebatas pinggang.
Entah itu karena pengaruh air hangat atau mungkin suasana romantis, Renata menjadi tak karuan rasa di hatinya. Dia balas memeluk tubuh Axel.
"Axel.'" Panggil Renata lirih.
"Hem?" Axel menarik tubuhnya ke belakang dan menatap sang istri.
"Ayo kita lakukan!" ucapan Renata membuat Axel diam dalam keterkejutan.
"Aku ... " Renata terdiam, dia memalingkan wajahnya ke samping, merasa malu.
"Aku akan berusaha untuk manjadi istrimu kali ini. Lakukan tugasmu sebagai seorang suami dan aku akan menerima tugas ku sebagai seorang isri!" wajah Renata terlihat memerah.
Mata Axel membulat sempurna, tak menyangka dengan apa yang di katakan Renata. Mulutnya terbuka sedikit tapi tak ada satu suara pun terdengar dari sana.
Renata membuka handuk yang melilit di tubuhnya, tak terlihat apapun yang menempel disana, benar-benar tubuh yang indah untuk di pandang mata tanpa ada yang menghalanginya.
Glek...
Axel menelan ludahnya dengan susah payah, dia masih terdiam kaku di tempatnya berdiri. Renata memberanikan diri menarap mata suaminya. Di ambilnya rahang tegas Axel, dia berjinjit untuk menyetarakan rubuhnya. Mengecup bibir Axel yang selalu terasa manis.
Axel terdiam, dia masih tak menyangka jika Renata ingin melakukan hal ini dengannya.
Melangkah mundur satu langkah membuat Renata kehilangan bibir yang manis itu. Renata sedikit kecewa, hasrat di dalam hatinya sudah muncul namun entah hasrat apa. Dia sangat ingin menyempurnakan hubungan ini.
"Re, kau..."
"Tidak apa-apa. Aku ingin mengakhiri mimpi buruk ini." Renata kembali melangkah mendekat pada Axel hingga mereka berada di tengah onsen.
Renata tersenyum pada Axel dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Axel dan menarik pria itu hingga membungkuk. Axel menerima ciuman dari Renata, pria itu kemudian membalas segala apa yang di berikan Renata. Dengan ragu dia meggerakkan tangannya, mulai menyentuh pinggang polos renata, menariknya ke perut lalu beranjak naik. Dia sudah lupa dengan janjinya untuk menahan diri. Merambah ke segala arah di area atas tubuh Renata. Indahnya mengalahkan gunung Fuji yang ada di sana.
Renata memejamkan matanya, bayangan itu sempat hadir membuatnya berkeringat, tapi kemudian menghilang saat dia membuka mata. Ini suaminya. Axel Felix Aditama.
Renata kembali memejamkan matanya, tak ada lagi bayangan buruk atau apapun itu. Dia tersenyum senang, menangis dalam diam, semakin mmengeratkan peulakannya pada Axel dan memperdalam ciuman mereka. Menikmati segala sentuhan yang di berikan Axel pada tubuh yang sudah menjadi hak milik pria itu.
"Kita ke kamar!" Bisik Axel setelah menarik dirinya. Renata menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin disini. Jangan membuatku mundur, Xel! Dan nanti kau harus membuatku mabuk terlebih dahulu jika ingin melakukannya lagi." jawab Renata malu.
Axel tersenyum mendengar ucapan istrinya ini, tak menyangka jika onsen akan membuat suasana hati Renata membaik. Axel mengangguk dan melanjutkan ciuman mereka lagi, dia menarik Renata untuk bersandar pada batu yang ada di tepian sana tanpa melepas pagutan bibir mereka.
Axel membuka handuknya dan membiarkan handuk itu jatuh dan mengambang di permukaan air.
"Kau yakin kita kan melakukannya disini?" Tanya Axel khawatir. Renata mengangguk, dia kembali menarik Axel lebih dekat ke dalam pelukannya.
"Aku yakin. Lakukan saja!"
"Maaf kalau aku kan membuat kamu kesakitan!" ucap Axel.
"Berhenti bicara, Axel. Lakukan sekarang. Kalau tidak entah kapan lagi akau akan menyerahkan diriku!" Tutur Renata sebal.
Axel mendekatkan dirinya, mencium leher Renata hingga meninggalkan bekas merah disana. Renata sungguh menikmati apa yang dilakukan Axel padanya, apalagi saat Axel menggoda dua gunung kembar miiknya, membuat Renata terbakar sesuatu yang aneh di dalam dirinya.
"Hit me, Xel!"
"Mendengar Renata dengan nada memohon membuat Axel kembali menegakkan dirinya, dia tersenyum melihat wajah Renata yang sudah bersemu merah. Entah menahan malu atau menahan hasrat.
Axel kembali mendekat. Dengan senyum merekah di bibirnya dia segera melakukan tugasnya sebagai seorang suami.
Renata terpekik tertahan saat merasakan sesuatu masuk ke dalam miliknya. Dia sampai memejamkan matanya dan berusaha menghalau bayangan yang kembali hadir mengganggu dirinya.
Axel sadar dengan wajah Renata yang terlihat kesakitan dan mulai ketakutan, sorot matanya terlihat sama seperti malam itu.
"Tatap aku, Re. Jangan takut. Aku ada disini bersama kamu. Ini aku, suamimu. Aku hanya suamimu!" ucapa Axel menyadarkan Renata. Renata mengalihkan pandangannya. Dia menatap Axel, suaminya. Hanya suaminya!
Sorot matnya kembali tenang, sambil merasakan rasa sakit yang ada di pangkal kakinya Renata terus meracaukan nama Axel membuat bayangan itu pergi dari pikirannya. Axel mencium bibir Reneta sekilas tanpa menghentikan pergerkan panggulnya berusaha menjebol gawang lawan, meski Renata sudah tak utuh lagi, tapi nyatanya miliknya masih sangat sempit, sangat nikmat sekaligus menyakitkan saat miliknya memasuki Renata.
"Akh.. Ini sakit, Xel!" Axel merasakan kesakitan Renata hingga gadis itu tak sengaja menancapkan kukunya di punggung.
"Sebut terus namaku sayang, sebut namaku!" bisik Axel mencoba menenangkan istrinya.
"Axel.... Axel... Ahs..." Renata mercaukan nama Axel sambil memelik pria itu dengan erat.
Air mata Renata mengalir, bukan karena ssakit saat Axel berusaha dan berhasil memasukinya, tapi dia bahagia karena sudah bisa memberikan hak pria itu yang sudah seminggu tertunda.
Langit yang kini berpadu padan dengan lembayung, Gunung Fuji yang menjulang tinggi menjadi saksi saat keduanya sempurna menjadi passangan suami istri yang sesungguhnya.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat Axel di tunggu kabar baik lainnya 🤧