
AlVian sudah masuk ke dalam mobil. Dia menatap Cantik yang kini masih berdiri di tempatnya. Bibirnya mengulas senyum di balik masker yang dia pakai. Tapi pria yang ada di depannya itu sangat tahu dan sangat mengenal Alvian, senyum tipis juga terdapat pada bibirnya. Mobil pun kini melaju meninggalkan rumah itu.
Alvian menyadarkan dirinya pada sandaran kursi. Satu tangannya melepas masker yang ada di wajah.
"Sampai kapan aku harus memakai ini? Ini sangat menyiksa sekali." ujar Alfian pada pria di depannya. Masker yang ada di tangannya kini ia lempar di kursi di sebelahnya.
"Terserah jika kau mau memakainya atau melepas nya, kau sendiri yang merasakannya." pria yang di depannya itu berbicara tapi pandangannya tetap fokus ke depan. Beberapa kendaraan dilewati, sesekali dia menekan klakson untuk memberi peringatan kepada mobil yang ada di depannya.
"Hari ini kau bersikap konyol Pak." Pria itu kepada Alvian.
"Aku tahu, tapi aku tidak peduli." jawabnya dengan nada dingin.
"Sepertinya kau sudah jatuh cinta dengan dia."
Vian menatap asistennya itu dengan bingung, lalu tertawa. "Tidak mungkin. Kau tahu sedari dulu aku seperti apa."
Alvian masih tertawa, dia merasa geli dengan ucapan asistennya ini. Di usapnya wajahnya dengan kasar. Tidak mungkin! Akan tetapi, di dalam hatinya kini terasa ada yang aneh.
"Tidak percaya ya sudah, aku juga tidak akan memaksa." ucap asistennya itu dengan cuek.
AlVian kini hanya terdiam ikut menatap jalanan di depan.
Setelah kepergian Alvian, Cantik masuk ke dalam rumah. Disana ibu sedang menonton televisi sambil berbaring cantik. Di depannya sudah tersedia kue yang tadi pagi ibu buat.
"Aku pulang Bu." Cantik berkata sambil duduk disebelah ibu. Ibu bangkit duduk dan menggeser kan piring ke dekat cantik. Cantik menerimanya dan mengambil satu potong untuk dia makan.
"Enak sekali. Ibu hebat sekali bisa membuat makanan seenak ini." Cantik memuji makanan buatan ibu yang selalu enak memanjakan lidahnya.
Ibu tertawa, "Sedari kecil ibu sangat suka membuat makanan, tapi Ibu heran Tiara tidak seperti Ibu. Dia tidak terlalu suka di dapur, tapi beruntung dia bisa masak." Cantik tidak peduli, dia sibuk memasukkan makanan itu ke mulutnya dan mengunyahnya dengan perlahan. Menikmati makanan enak itu sambil menonton acara tv.
Ibu menyandarkan dirinya pada sandaran kursi dan menghela nafasnya dengan pelan. "Ibu sebenarnya lelah hanya berdiam diri seperti ini. Ibu ingin ada kegiatan lain selain catering, tahu sendiri sekarang bagaimana catering. Kalau tidak ada koneksi sangat sulit untuk bisa memasak setiap hari."
Ibu hanya menggelengkan kepalanya, "Ibu tidak mau menyusahkan mereka. Mereka sudah berbaik hati kepada kami. Ibu juga merasa tidak enak kepada mereka."
"Tidak enak kenapa Bu?" tanya Cantik.
"Kau tahu keadaan kita ini seperti apa, bukan dari kalangan yang sama seperti mereka. Ibu tidak mau membebani mereka dengan kesulitan kita. Dan Ibu juga tidak mau membuat mereka malu karena mempunyai besan yang tidak setara dengan mereka."
Cantik mendekat kepada ibu dan mengusap punggung ibu dengan lembut. " Mama tidak akan memikirkan hal yang seperti itu. Kenapa Ibu memikirkan hal itu. Apa ada seseorang membicarakan nya di belakang kita?" selidik Cantik. Dia menatap ibu tajam. Ibu hanya menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Ini memang hanya pemikiran Ibu. Rasanya beban juga jika memiliki besan yang berbeda kasta dengan kita." Ibu tersenyum dan menatap Cantik.
"Kau masih muda mana tahu dengan pikiran orang tua. Menjadi orang tua itu sulit. Tapi Ibu mencoba untuk menerima apa yang menjadi keputusan Tiara."
"Ibu tahu satu hal, Gio bukan anak kandung Mama Anye dan Papa Devan." Cantik berkata kepada ibu. Ibu mengangguk kan kepalanya.
"Ibu tahu, tiara juga sudah bicara waktu itu, tapi tetap saja Gio adalah anak mereka meski bukan kandung."
Cantik ini hanya diam, dia memang tidak tahu apa-apa tentang pemikiran orang tua, dia menikah saja belum. Jangankan menikah, pacaran pun tidak.
"Sudah makan belum?" tanya ibu pada cantik. Cantik hanya menggangguk kan kepalanya.
"Ya sudah sana, istirahat. Nanti malam bantu Ibu siapkan bahan untuk besok. Ada pesanan membuat kue untuk acara hajatan." ucap ibu.
Cantik membulatkan ibu jari dan telunjuk nya. "Oke." lalu dia berdiri dan masuk ke dalam kamar.
Cantik kini sedang berbaring di atas kasur nya. Dia mengingat apa yang tadinya di bicarakan di rumah sakit. Keinginan nenek untuk melihat Alvian menikah sebelum dia pergi untuk selamanya. Cantik bingung sebenarnya, apa yang harus dilakukan? Nenek terlihat bahagia, tapi cucunya sangat kurang ajar karena telah membohongi nya. Dan sialnya dirinya juga terbawa tidak benar oleh pria itu.
Fuh... Dasar keterlaluan.