DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 145



Aku kembali ke ruang makan, hanya ada Devan dan Samuel disana.


"Kemana ayah?" tanyaku kembali duduk di tempatku tadi. Mengambil makanan penutup dan melahapnya.


"Ayah pergi ke luar!" jawab Samuel.


Pak Didi datang mendekat, menunduk hormat pada kami.


"Tuan Besar menunggu Tuan Devan di aula besar." ucap Pak Didi. Aula besar adalah tempat dimana para ajudan ayah berkumpul untuk mengadakan rapat dan juga diskusi bersama ayah, tentang keamanan dan juga strategi untuk mengalahkan lawan, dan entah apa lagi. Terkadang aku juga bingung apa saja yang mereka lakukan disana.


Aku dan Devan saling berpandangan lalu kami berdua sama-sama memandang ke arah Samuel. Sam hanya mengangkat bahunya acuh, tidak mau tahu.


"Ada apa?" tanyaku pada Pak Didi. Pak Didi menggeleng tanda tidak tahu.


Aku dan Devan pergi ke aula besar dengan pak Didi yang berjalan di depan kami. Di belakang dua bodyguard mengikuti. Cukup jauh karena aula besar terletak di samping rumah, melewati paviliun dan juga taman, satu bangunan terpisah dari rumah utama. Mengikuti mereka berdua karena jujur aku khawatir dengan Devan.


Sampai di aula besar. Ayah menunggu sambil memainkan catur seorang diri. Huffttt... Apakah ayah akan mengajak Devan main catur lagi? Sejak kapan ayah suka main catur?


"Tuan Devan sudah datang!" pak Didi melapor, setengah membungkukan badannya. Ayah mengibaskan tangannya tanpa menoleh. Tahu dengan isyarat itu pak Didi pamit pada kami.


"Ada apa ayah memanggil kami?" tanyaku pada ayah. Kami masih berdiri sebelum ayah memerintahkan kami duduk.


"Ayah hanya memanggil dia." ucap ayah menatapku lalu kembali pada permainan catur solo-nya. "Temani saya main catur!" tanpa menoleh pada si yang di ajak bicara.


"Ayah...!" ucapanku terpotong karena Ayah mengibaskan tangannya, aku di usir!


"Tidak apa-apa." ucap Devan. Aku meninggalkan mereka. Keluar dari ruangan itu, Samuel berdiri di luar.


"Ayah mengusirku! Dia pasti juga tidak mau ketemu sama kamu!" ucapku sebal.


"Sudah tahu. Kita bicara di taman!" Sam menangkap tanganku dan menyeretku ke taman.


Selesai dengan pembicaraan kami, Sam mengantarku ke kamar.


"Sam. Tolong bujuk Daniel supaya dia bisa terima Devan!" pintaku, sebelum aku membuka pintu kamarku.


"Aku bisa apa kalau anak itu tidak mau?" balik bertanya. Setidaknya jangan kalimat itu yang dia katakan!


"Aku mohon Sam. Please." pintaku lagi.


"Membujuk Daniel tidak mudah! Tapi akan aku usahakan, hanya saja kalau dia tidak mau, lebih baik jangan paksa dia! Aku akan bujuk dia pelan-pelan!" Ucap Sam.


"Trimakasih!" ucapku.


Aku masuk ke dalam kamar meninggalkan Samuel di depan pintu. Merebahkan diri yang tidak lelah sama sekali. Tidak bekerja membuat aku bosan, apalagi tidak ada teman mengobrol. Biasanya Devan dan aku akan melakukan pillow talk hingga jam sepuluh malam, atau hingga saatnya kami mengantuk.


Berguling ke kanan dan ke kiri mencari posisi ternyaman, tetap tidak bisa mengalihkan fikiranku dari Devan. Apa mereka belum selesai bermain catur?


Aku duduk di tepi tempat tidur. Menatap jam di atas nakas, sudah hampir tengah malam. Devan belum juga kembali. Kembali merebahkan diriku, menenangkan diri. Mungkin sebentar lagi Devan akan kembali.


Menunggu dan menunggu hingga aku akhirnya menyerah pada rasa kantuk.


Kasur serasa bergoyang, seseorang masuk ke dalam selimut dan memelukku dari belakang. Tangannya menelusup ke dalam piyamaku, dingin menyentuh buah dadaku. Aku terbangun dan menoleh. Devan sudah kembali. Matanya merah, berkali-kali dia menguap. Melihat ke arah jam di atas nakas. Jam dua malam.


"Kalian main catur sampai hampir pagi?" tanyaku tidak percaya dengan suara serak, Devan hanya mengangguk. Ayah benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa mengajak Devan bermain catur sampai larut malam begini!


"Sudahlah. Jangan marah pada ayah. Ini sebagai bentuk perjuanganku untuk mendapatkan maaf darinya!" ucap Devan. "Maaf sayang, malam ini aku tidak bisa melayanimu. Meskipun hanya main catur tapi aku sangat mengantuk!"


"Iya, aku akan tidur!" ucapnya dengan tawa kecil lalu menarik tangannya ke bawah, melingkarkannya di pinggangku. Tak berapa lama kami tertidur lelap.


Tok. Tok. Tok.


Suara ketukan di pintu membuatku terbangun. Rasanya malas sekali untuk membuka pintu. Ini masih jam enam pagi, bahkan matahari juga belum muncul! Siapa sih, tidak biasanya ada yang menganggu jam tidurku!


Pintu di ketuk lagi. Aku menghempaskan selimut dengan kasar dan bangun dari tidurku. Devan terbangun, dia menahan tanganku dan mengatakan kalau dia saja yang membuka pintu. Aku kembali merebahkan diriku di kasur yang nyaman dan kembali menutup mataku tanpa peduli dengan orang di luar sana.


"Sayang, aku harus pergi!" ucapan Devan terdengar di telingaku. Refleks aku bangkit dan membuka mata. Pergi? Kemana?


"Ayah menunggu ku di bawah. Aku harus menemani ayah joging!" Hufftt... aku kira Devan akan pergi kemana... Jantungku hampir saja lepas dari tempatnya.


Devan menguap lebar-lebar, dia membuka koper mencari pakaian olahraga dan membawanya ke kamar mandi. Aku kembali merebahkan diriku. Aku masih mengantuk sekarang. Kenapa jam begitu cepat berlalu! Aku baru tidur mendekati tengah malam dan aku sudah bangun subuh begini? Matahari terbit saja masih satu jam lagi! rutukku dalam hati.


Aku kembali terbangun saat mendapat ciuman bertubi-tubi dari Devan.


"Honey, aku turun dulu! Kalau kamu masih mengantuk tidur saja lagi!" dan terakhir ciuman di bibirku. Aku mengangguk. Hanya olahraga ringan apa yang perlu aku khawatirkan?!


Devan pergi keluar dari kamar dan aku melanjutkan tidurku.


Dua jam kemudian aku terbangun. Menatap ke sekeliling kamar, tidak ada orang lain, bahkan pintu kamar mandi sedikit terbuka.


"Dev? Kamu di dalam?" aku membuka pintu kamar mandi. Tidak ada orang. Berjalan ke arah balkon dan menghirup udara pagi yang sedikit dingin. Musim dingin akan tiba sebentar lagi.


Di bawah sana, terlihat ayah dan Devan sedang joging. Apakah mereka masih belum selesai? Devan terlihat kepayahan, sedangkan ayah masih berlari berada cukup jauh di depannya. Beberapa kali Devan berhenti untuk menarik nafas, lalu kembali berlari.


Rasanya menyenangkan juga melihat ayah dan menantunya berolahraga bersama.


Selesai mandi aku turun ke bawah dengan membawakan minuman air putih dan juga jus jeruk untuk ayah dan Devan. Mereka masih belum terlihat entah masih dimana. Sejauh apa merek berlari?


Menunggu hampir tiga puluh menit. Akhirnya ayah terlihat. Ayah mendekat padaku, mengambil sedelas air putih dan menenggaknya hingga habis.


"Devan mana?" tanyaku pada Ayah, menerima gelas kosong.


"Dia laki-laki yang payah!" tutur ayah. Ayah melakukan peregangan otot. Selang beberapa menit Devan sampai, terlihat wajah lelahnya. Aku menyerahkan jus jeruk padanya. Baru saja Devan ingin menenggaknya ayah sudah mengajaknya berlari lagi.


"Ayo!" ayah sudah mulai berlari meninggalkan Devan, bahkan nafas Devan masih belum bisa di atur. Terengah lelah.


Devan menyerahkan jus yang belum sempat di minumnya. Berlari menyusul ayah. Kasihan sekali suamiku. Ayah benar-benar keterlaluan. Mereka berlari sudah hampir dua jam!


Dua putaran selesai. Ayah masih terlihat biasa saja melakukan pendinginan, sedangkan suamiku terkapar di teras. Nafasnya terengah, matanya tertutup. Dia tidak berdaya.


Ku elap keringat di dahinya.


"Ayah keterlaluan!" ucapku pada ayah.


"Apa yang keterlaluan? Ayah biasa melakukannya dengan Sam. Bahkan Sam mampu joging lima putaran lagi!" tukas ayah selesai dengan pendinginannya.


"Tapi ayah juga harus tahu kondisi lawan. Mansion ini sangat luas. Sam sudah biasa sedari kecil bersama ayah!"


"Kalau mau jadi suami putriku, harusnya dia bisa lebih kuat di banding aku atau Sam!" ucap ayah lalu berjalan ke dalam mansion.


"Aku akan berusaha untuk lebih kuat daripada mereka!" ucap Devan terengah. Aku mengelus pipinya pelan. Merasa terharu dengan ucapannya.


"Kamu cape Dev?" tanyaku, seharusnya tidak di tanyakan lagi bukan? Tidur di jam dua malam dan bangun pada jam enam pagi lalu di lanjut dengan dua jam joging mengelilingi mansion.