
Pintu di tutup dengan keras. Tiara membantingkan tubuhnya di atas kasur.
"Dasar Gio keterlaluan! Bos kompleks! Seenaknya sendiri. Kampretttt!!!" Pekik Tiara, selalu itu kata-kata yang ia keluarkan untuk merutuki bosnya.
"Punya hak apa dia marahin gue?! Gue siapanya dia? Kenapa dia selalu ikut campur masalah gue!" teriak Tiara tak tahan.
"Bantuin enggak, peduli enggak. Terus kenapa dia marahin gue sama orang lain?" Tiara kesal dia meninju bantal guling yang ada di sampingnya.
Sepertinya dia tidak tahan lagi dengan sikap bosnya. Dia hanya asisten, dan asisten juga butuh privasi. Tidak semua harus dia urus dan bos bisa ikut campur seenaknya dengan urusannya. Urusan denda dua milyar, dia akan fikirkan cara lain.
Sampai malam hari Tiara tidak keluar dari kamarnya. Rencana tadi siang dia ingin kembali sana untuk menikmati sore di pantai ia batalkan. Dia malas jika keluar dari kamar dan bertemu dengan bosnya.
Tiara melirik ke jam yang tertempel di dinding. Sudah waktunya makan malam.
Biarkan saja... Biarkan saja dia cari makan sendiri. Masa bodoh. Aku gak peduli!!! jerit batin Tiara.
Beberapa panggilan di hp dan juga suara ketukan di pintu tidak ia hiraukan.
"Mau apa dia, kalau cuma mau marah lagi aku tdak mau!" Tiara menggulingkan dirinya membelakangi pintu.
...*...
Gio menatap pintu yang masih tertutup. Sudah hampir empat puluh menit dia menungu di depan sini, tapi tak ada tanda-tanda Tiara akan membuka pintunya.
"Apa anak itu tidak lapar?" gumam Gio.
Dia sudah mencoba menghubungi Tiara, tapi tak dia angkat panggilannya. Gio juga sudah mengetuk pintu, tapi juga tidak dia buka.
"Haah ya sudahlah! Yang lapar juga siapa!" Kesal dengan asistennya yang merajuk akhirnya Gio pergi ke restoran hotel yang ada di lantai bawah.
...*...
Tiara mengangkat kepalanya. Suara ketukan di pintu tidak terdengar lagi, begitu juga dengan suara dering hpnya yang tak menyala.
Dia mengelus perutnya yang sedikit perih. Haruskah dia keluar?
Aaaaakhh....
Aku lapar!!!
Berguling ke kanan dan kiri. Dia memang keras kepala. Rasa marah membuat Tiara enggan untuk keluar.
Tidur saja!
Akhirnya Tiara mencoba untuk mengalahkan rasa laparnya. Dia mencoba untuk menutup mata. Toh hanya berpuasa semalaman tidak akan membuatnya mati.
Tok. Tok. Tok.
Suara pintu kembali terdengar. Tiara tak peduli, ini pasti si muka datar menyebalkan itu!
Tok. Tok. Tok.
Dia bangkit, dan berjalan menuju ke arah pintu. Seoarng perempuan dengan seragam pelayan sedang berdiri di depannya sambil membawakan nampan.
"Ada apa ya?" tanya Tiara.
"Layanan kamar, Bu. Kami membawakan pesanan."
"Tapi saya tidak memesan." Tiara bingung dia merasa tidak meminta layanan kamar atau apapun.
"Ini pesanan makan malam dari Pak Gio untuk Ibu Tiara." Dia menyerahkan makanan itu pada Tiara. Tiara hanya diam tak lantas menerima nampan yang di sodorkan.
"Maaf. Bawa saja kembali makanan itu pada Pak Gio saya belum lapar!" ucapTiara ketus.
"Tapi Pak Gio juga menitipkan pesan."
"Pesan apa?"
"Pesannya ada di dalam tudung saji ini Bu. Silahkan di buka." pinta pelayan itu. Mau tidak mau Tiara membuka tudung saji tersebut. Aroma wangi steik yang masih mengepulkan asapnya seketika langsung tercium di hidungnya. Perutnya berbunyi nyaring bahkan pelayan itu bisa mendengarnya juga.
Dengan perasaan malu Tiara mengambil pesan dari Gio, tulisannya sangat rapi. Dia membaca pesan yang Gio tuliskan di secarik kertas.
"Apa-apaan dia?" Tiara geram, dia meremas kertas tersebut dan merebut nampan makanan dari pelayan tersebut.
"Trimakasih. Tolong sampaikan pada Pak Gio kalau saya sudah menerimanya." ucap Tiara lalu menutup pintu.
Tiara membawa nampan makanan itu ke arah sofa yang berada disana. Dia menyimpan nampan di atas meja kecil.
"Apa-apan dia? Tidak akan membayarkan tiket pulang ku besok, dan juga tidak akan membayar biaya hotel kalau aku tidak mau terima makanan ini? Aku mana bawa uang sebanyak itu!" Tiara mendengus kesal. Dia mengabaikan makanan yang ada di depannya, tapi sial... Aromanya... Wangii...
Kruuukk...
Suara perutnya terdengar lagi, sepertinya ada lubang yang menganga disana sekarang. Egonya tidak mau, tapi otaknya berkhianat. Tangannya sudah meraih garpu dan pisau steak, lalu memotongnya kecil-kecil.
Hap.
Enaaakkkk..!!
AAhhh... Makanan mahal memang rasa tak bisa bohong..!
...*...
Gio tersenyum saat dia mendapatkan laporan dari pelaya kalau Tiara sudah meneria makanan tersebut.
"Dasar keras kepala!"