DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 81



"Sam kapan kita sampai?" Ini sudah lama banget, gak turun juga! Pusing nih!" aku menyandarkan diriku di dekat jendela. Di luar terlihat jelas awan-awan yang menggantung di bawah pesawat. Bulan terlihat sangat besar bersinar dengan terang.


"Ya elah, setengah jalan juga belum!"


Haaa.... Ini sudah empat jam penerbangan dan belum sampai setengahnya? "Memangnya mau ke mana sih? Papua? Perasaan Papua juga gak jauh-jauh amat!" keluhku, padahal aku tidak pernah kesana, hehe. Aku sudah lelah, punggungku sakit karena terus duduk. Samuel hanya terkekeh.


"Kita mau ke pedalaman hutan Amazon!"


"Mau apa? Pelihara ikan piranha? Anakonda? atau buaya liar?" sindirku. Masa iya dia mau bawa aku ke hutan Amazon, pake pesawat lagi, mau dimana landing-nya?


"Tahu saja kalau kamu kalau tuan besar punya peliharaan ikan piranha!"


Hee..?? Mengerikan! Orang macam apa tuan besar itu? Bos mafia besarkah dia?


"Ya ampun, kenapa aku jadi sering ketemu orang-orang yang aneh akhir-akhir ini?", mendadak aku pusing, memikirkan hidupku, ku pijit pagkal hidungku pelan. Samuel hanya mengangkat bahunya, cuek.


"Kalau kamu cape tidur saja di kamar, sana!" titahnya.


"Ada kamar gitu?" tanyaku, kalau ada kamar kenapa tidak di tawarkan dari tadi? Rasanya aku ingin tonjok muka Samuel. Ughhhh 😠👊!!!


"Ada lah! Namanya juga jet pribadi pasti ada kamarnya, bahkan kalau mau di buat seperti taman bermain anak juga bisa!" Dia tertawa. Dasar pria ini, terdengar sombong!


"Kenapa tidak bilang dari tadi? Tega bikin ibu hamil sakit pinggang!" keluh ku dengan kesal. Kenapa semakin lama dia semakin menyebalkan?


"Ya aku fikir kamu masih mau lihatin bulan, dari tadi melamun terus! Ayo, aku antar ke kamar!" Sam mengulurkan tangannya, aku menyambutnya lalu berdiri, sepanjang jalan dia membawaku ke kamar, dia tidak melepaskan tangan ini. Lagi-lagi aku ingat dengan Devan.


"Ini kamar kamu, kalau ada apa-apa kamu bisa panggil aku di depan." Sam membuka sebuah pintu. Sekilas aku tidak menyangka, serius ini kamar di dalam pesawat?



"Hei, sadar!" Sam mengusap wajahku. Aku memang seperti entah berada dimana tadi. Aku benar-benar udik! Menoleh padanya, dia hanya tertawa meledek sepertinya puas membuatku merasa terkejut beberapa kali di hari ini.


"Tuan besar tidak terlalu suka dengan kemewahan, jadi dia mendesain kamar ini dengan sederhana." terang Sam. Benar kata orang lain, 'Orang kaya mah bebas mau apa juga, termasuk punya kamar di dalam pesawat!'


"Sana tidur di dalam, aku akan bangunkan nanti kalau sudah sampai!" titahnya.


"Sam, kapan kita sampai? Apa masih lama?" tanyaku sebelum masuk ke dalam sana.


"Lumayan, atau kamu mau kita mampir dulu? Main dulu ke pantai begitu? Aku akan bilang pada pilot untuk cari tempat yang pas." Bercandanya... di kira mobil gitu bisa ubah jalur seenaknya?


"Kamu pasti gak tahu kalau bos besar punya pulau pribadi sekitar..." Sam melihat jam di pergelangan tangannya. "... perjalanan satu setengah jam lagi dari sini. Kebetulan lewat, kalau mau mampir untuk lihat matahari terbit aku fikir tidak masalah!" Santai sekali dia bicara seolah ini adalah pesawat miliknya sendiri. Beda dengan aku melongo mendengar hal itu, serius tuan besar punya pulau pribadi?


"Tidak usah!"


"Kenapa?"


"Percuma!"


"Kok percuma?"


"Iya, hari ini aku bisa bersenang-senang. Bersenang-senang sebelum masa sulitku di hari esok." Samuel terdiam.


"Aku gak pa-pa gitu ikut kamu pulang ke rumah kamu Sam?" tanyaku, ada rasa takut, bingung, dan entahlah...aku juga tidak tahu, tapi kenapa aku bisa percaya saja dengan orang ini? Padahal aku dan Samuel hanya kenal beberapa bulan saja, terhitung dari sebelum menikah, kurang dari setahun!


"Jadi, kalau kamu masih disana kemana kamu akan pergi?" tanya Sam. Aku menggelengkan kepala, memang aku tidak tahu kemana aku akan pergi, aku tidak bisa memikirkannya sama sekali. Ke rumah Nanda mungkin, hanya itu tujuanku.


"Jangan di fikirkan, meskipun disana banyak orang asing, tapi aku yakin kamu akan aman. Seperti kataku. Jadilah gadis yang baik!. Oke sana tidur dulu!" titahnya. Sam meraih handle pintu.


"Sam." panggilku sekali lagi.


"Hem?"


"Aku salah gak ya kabur dari suamiku sendiri?" tanyaku lirih. Ada sedikit rasa bersalah juga pergi dari sana. Tapi jawaban dari pertanyaannya ku sendiri adalah salah, tapi entah menurut yang lain. Kenapa aku jadi plin-plan begini?


"Menurutku kamu?" Sam menatapku tajam.


Aku terdiam menunduk, melihat ke bawah, berharap melihat ujung kakiku, tapi tidak bisa karena sudah terhalang dengan perutku yang buncit.


"Sudahlah! Jangan terlalu di fikirkan. Sekarang yang penting kamu istirahat, jangan sampai stress dan kelelahan." Ucapan Sam. "Aku ke depan dulu. Istirahat yang baik" Sam menutup pintu, meninggalkan aku sendiri.


Haahhh... Benarkah ini jalanku? Pergi tanpa pamit pada Devan.


Aku menatap keluar dari jendela pesawat, sambil mengelus pelan perutku, pergerakan halus terasa dari sana. Langit malam terlihat cerah, bahkan tidak perlu lampu untuk meneranginya. Indah. Rasanya aku ingin terbang di sana, di atas awan, di bawah sinar bulan.


Maaf Dev, aku pergi. Tapi tidak ada lagi orang yang mendukungku, tidak ada yang percaya padaku termasuk kamu. Orang yang paling aku sayang, orang yang paling aku cinta, orang yang berharap melindungi aku. Tapi justru kamu sendiri yang membuat aku takut. Maaf. Aku pergi. Aku harap kamu akan baik-baik saja.