DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
250



Tiara berangkat ke Kalimantan dengan Gio yang menjemputnya. Sesibuk apapun Gio, tapi dia tidak tega juga jika membiarkan Tiara ketakutan di atas pesawat. Beberapa kali dicakar dan ditancapkan kuku oleh istrinya itu, Gio tidak peduli.


Tak lama melewati perjalanan udara. Mereka berdua sudah sampai di tempat yang dituju, mereka kembali melakukan perjalanan dengan menaiki helikopter karena jarak dari bandara menuju rumah Gio lumayan jauh. Tiara sampai berdecak kagum dengan semua yang terjadi pada dirinya kini. Dia tidak menyangka, hidupnya akan berubah drastis seperti sekarang ini.


Dari kehidupan dirinya yang tidak teratur kini hidupnya menjadi sangat teratur, hingga Gio membebaskan dirinya untuk memakai uang sepuas hati, tapi itu tidak menjadikan Tiara sebagai aji mumpung untuk memanjakan dirinya dengan kemewahan.


Mereka baru saja turun di helipad. Tiara terkagum dengan tekstur bangunan yang ada di sini. Rumah ini sangat megah dan juga indah.


"Ini rumah yang Mama Anye berikan untuk hadiah pernikahan kita." ucap Gio menerangkan pada sang istri. Tiara tidak menyangka jika Mama Anye sangat baik hati dengan menghadiahkan itu semua untuk mereka.


"Indah sekali." Tiara tak henti mengagumi rumah itu. Gio tersenyum dan lalu mengajak Tiara masuk ke dalam rumah.


Setelah berkeliling sebagian dari rumah keduanya kini beristirahat di dalam kamar. Gio dan Tiara tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk saling melepaskan rindu.


****


Sudah lebih dari seminggu Cantik tidak pergi kemana-mana. Dia bingung dengan KTP nya yang tidak ada di tangan. Ingin pergi pun rasanya sangat risau jika tidak membawa benda penting itu.


Cantik terbingung di tempatnya berdiri, dia hanya menatap ke arah mobilnya yang kni hanya diam di rumah semenjak kepergian Tiara untuk ikut dengan Gio ke Kalimantan. Berjalan bolak-balik di depan teras rumah sambil mengigit kukunya tanda dia sedang resah. Ternyata membuat KTP lagi dari awal tidak semudah yang dia kira. Dia harus menguruskan surat kehilangan pada polisi dan juga meminta laporan pada RT/RW dan juga segala macamnya. Cantik sangat malas mengurus itu, apalagi kalau harus keluar dan menunggu antran seharian di kantor.


Cantik menatap layar hpnya. Di mencari sebuah nama yang ia simpan disana. Nomor yang pria itu tuliskan di atas permukaan kulitnya beberapa hari yang lalu.


"Apa aku harus minta sama dia?" gumam Cantik pada dirinya sendiri. Dia menekan tanda panggilan pada pria itu, tapi sedetik kemudian dia matikan lagi panggilannya itu.


"Ah dia menyebalkan sekali!" Kenapa juga dia tidak sebutkan saja berapa yang dia butuhkan? Aku kan jadi sulit untuk pergi kemana-mana!" seru Cantik sambil mengacak rambutnya dengan frustrasi.


Cantik kembali berjalan mondar-mandir di teras rumah hingga ibu keluar karena gadis itu tidak kunjung masuk ke dalam.


"Ibu ada apa?" tanya cantik yang mendengar panggilan ibu.


"Sedari tadi ibu lihat kau hanya bolak balik di sini. Apa ada masalah?" tanya ibu. Cantik tidak tahu apakah ibu bisa memberiinya solusi atau tidak.


"Sini deh Bu," Cantik membawa ibu untuk duduk di kursi yang ada disana.


"Aku ada sedikit masalah sih." Lalu Cantik pun menceritakan apa yang terjadi pada dirinya wakktu itu.


"Hanya itu?" tanya ibu yang kini manggut-manggut kepalanya.


"Aku malas Bu mengurus pembuatan KTP lagi, mana antrian panjang sekali kemarin aku lihat di kantornya." keluh Cantik.


"Ya kalau begitu ambil dong. Lagipula tidak baik lari dari tanggung jawab. Yang salah kan kau juga." Cantik mendessah, Ibu tidak memberi solusi yang lain selain itu.


"Mau ibu temani?" tanya ibu lagi. Cantik menatap ibu dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah, aku akan ambil sendiri saja nanti."


"Jangan selalu menunda pekerjaan, tidak baik!" Ibu memperigatkan. Cantik hanya mengangguk dan kemudian berdiri dengan lunglai berjalan ke dalam rumah.


"Mau kemana kau?" tanya ibu.


Mau ambil KTP dan ATM ku." jawab Cantik dengan lesu, yang ibu katakan memang benar, selain hars medapatkan KTP dan juga ATM dia juga harus mengganti kerugian pria itu atas motornya, entah berapa banyak dia harus mengeluarkan uang untuk itu


Pasrah deh, batin Cantik dengan tak bersemangat.


Cantik masuk ke dalam kamarnya, sementara ibu kini ke arah dapur. Semenjak Tiara menikah dengan Gio ibu memang tidak lagi berjualan keliling. Anyelir mengusulkan untuk ibu membuka katering saja, nanti jika ada pesanan, beberaa orang dari rumah kediaman Aditama akan datang membantu.


Hah, ya ampun. Kenapa ini terjadi sih sama aku?


Akhirnya dengan segala pertimbangan yang ada Cantik segera menghubungi nomor yang sedari tadi ia hanya lihat.


Nada suara tunggu terdengar beberapa kali, sebelum diangkat Cantik mematikan panggilannya pada nomor itu.


"Ah, rasanya malas sekali berhubungan dengan dia!" keluh Cantik seraya menjatuhkan dirinya di atas kasur dengan kasar.


"Aku malas berteu dengan dia, tapi KTP ku ... Dan ATM ku... cantik terbangun seketika saat dia mengingat ATMnya. Cantik bangkit duduk.


Bodohnya dia kenapa selama ini tidak kepikiran sampai kesana. Pria itu ... Bagaimana kalau dia adalah penipu yang kini marak menipu orang lain? Ada kan, berita yang menjadi korban kecelakaan lalu dia mengambil barang korbannya? Dia menggambil ATM bisa saja kalau ATM nya dibobol oleh pria itu. Meskipun isinya tdak banyak hanya di bawah sepuluh juta, tapi itu kan uang yang lumayan.


Cantik segera mencari nama pria yang ia beri nama MR. Expreeet itu, dengan huruf 'e' yang banyak. Dia hendak menekan ikon hijau di layar tapi sebuah panggilan tiba-tiba saja masuk, membuat dia terkejut dan hampir saja menjatuhkan hpnya. Mr. Ekspreeet tengah memanggil


"Halo ... Halo?" Cantik menyapa dengan canggung.


"Sudah siap untuk bertemu dengan ku? KTP dan ATM mu masih ada padaku." Suara bariton itu terdengar tegas di telinga Cantik.


Cantik bingung, dia belum pernah memperkenalkan dirinya sebegai orang yang menabrak pria itu, tapi kenapa pria itu tahu jika ini dalah nomornya.


"Kau tahu ini aku?" tanya Cantik dengan hati-hati.


"Tentu saja. Nomor jelek acak-acakan seperti ini bukan level dari kenalanku."


Cantik mendecih sebal hingga dia menghembuskan napas nya ke atas, rambut poninya terangkat karena angin yang keluar dari mulutnya. Pria itu jelas sedang mengejek dirinya.


"Kau sedang mengejekku, Pak? Ya suda, tadinya aku mau berbaik hati untuk menggantikan uang perbaikan motormu, tapi gak jadi! Silahkan saja klau kau mau menahan KTP ku siapa tahu kau butuh fotoku untuk kau pandangi setiap malam. Bye!" Catik terlanjur kesal, dia mematikan panggilannya sepihak dan melemparkan hpnya ke atas kasur. Kesal dengan ucapan pria itu yang menyebut dirinya tidak selevel dengan dia.


Siapa dia? Apa-apaan dia ini? Enak saja bilang gak selevel denganku! Dasar Mr. Ekspreeet. batin Cantik dengan marah.


Dada Cantik naik turun, dia tidak mengerti dengan pikiran pria itu.


Apa sih yang dia pikirkan dengan ku. Mau berbuat baik malah mengejek dan menginaku seprti itu.


Tring.


Satu notif terdengar di hp Cantik, gadis itu segera mengambilnya dan melihat siapa pengirim pesan di hpnya. Pria itu lagi. Mr. Ekspreeet. Entah kenapa Catik memberikan julukan itu untuk pria asing itu.


[Kalau kau tidak mau KTP mu, aku akan bakar saja, dan ATM mu juga], satu pesan yang membuat Cantik semakin kesal. Perjuangan untuk memiliki KTP itu sangat sulit, dan dia benci mengantri seharian.


Cantik malas untuk mengunakan jempolnya untuk mengetik, dia melakukan panggilan kepada pria itu.


"Kita ketemu hari ini, di kafe Twelve, kalau kau mau aku mengganti biaya perbaikan motormu!" ucap Cantik dengan kesal. Tanpa menungu jawaban dari pria itu, Cantik segera mematikan telponya dan pergi ke luar. Tidak lupa dia pamit kepada ibu untuk pergi sebentar.


Cantik sudah samai di kafe yang dia sebutan tadi demi KTP dan ATm nya dia rela menekan rasa kesal dan juga amarahnya.


Satu jam, Cantik sudah menunggu, yang ditunggu tidak kunjung juga datang. Cantik sudah banyak menghabiskan camilan hingga rasanya dia kenyang karena makanan ringan itu.


Cantik melihat ke arah jam di tagannya, sudah maju menuju ke angka selanjutnya, tapi pria itu belum juga sampai ke kafe ini. Pelayan sudah bolak-balik unuk mengantarkan pesanan pada waita ini. Menunggu lama bukanlah gayanya. Dia mendadak ingat dengan penantiannya dua jam menunggu Romi tempo hari.


"Dasar laki-laki sama saja!" teriak Cantik membuat beberapa orang menatap heran kepadanya