
"Kamu tidak apa-apa?" Gio berjongkok menyetarakan tingginya dengan wanita itu. Wanita itu menggeleng hingga rambut yang menutupi wajahnya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Dia menggerakkan tangannya dan menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
"Tiara?!"
Merasa namanya di panggil wanita itu mengangkat pandangannya.
"Pak Gio." lirih Tiara dengan nada suara yang bergetar. Tiara merasa sial kenapa harus bertemu dengan orang ini di keadaannya yang seperti ini.
Gio menatap wajah Tiara yang lebam, membiru di sudut bibirnya dan juga warna merah di pipi yang lain, di tempat yang tadi pria itu memukulnya. Mata dan hidungnya memerah. Tiara sudah menangis!
...*...
"Siapa pria itu?" Tanya Gio. Mereka kini ada di parkiran sebuah apotek. Gio sedang mengoleskan alkohol dengan kapas di sudut bibir Tiara yang lebam.
"Ahs..." Tiara mendesis kesakitan tangannya refleks menahan tangan besar Gio yang membersihkan lukanya. Rasa perih terasa di sana.
Tiara hanya diam, dia tak ngin menjawab pertanyaan Gio. Gio menatap Tiara yang terlihat enggan menjawab.
"Tiara. Siapa dia. Jawab!" Gio dengan nada suara tegasnya membuat Tiara tersentak. Netranya menatap Gio yang juga menatapnya. Dia tahu pasti dan tahu betul nada suara bosnya saat marah betulan atau hanya marah padanya.
"Hanya preman. Dia hanya ingin uang!" Tiara mengalihkan pandangan ke arah lain, tak ingin pandangannya bersibobrok dengan Gio lagi.
Gio harus percaya kah? Terdengar dari nada suaranya Tiara seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Apa yang Tiara lakukan di luar sana pada jam seperti ini? Dia tak mungkin meninggalkan ibu sendirian di rumah kalau tak ada hal yang penting sekali, bukan?
"Kenapa kamu ada di luar?" Gio tak tahan daripada penasaran, dia inginkan jawaban. Tangannya terus bergerak di sudut bibir Tiara.
"Aku sedang mencari makanan."
Haruskah dia percaya? Dekat dari rumahnya ada banyak penjual makanan dan dia untuk apa berjalan jauh kesini yang sepi dari penjual makanan?!
Gio memegang dagu Tiara, mengangkatnya sedikit untuk bisa melihat dengan jelas luka di sudut bibit Tiara. Wajah Tiara menengadah karena perlakuan Gio.
Deg. Deg.
Hangat nafas Gio di dagunya terasa jelas. Pria itu sangat fokus membersihkan lukanya dan juga menempelkan plester di kening Tiara yang luka karena terkena resleting tas yang tadi di lempar dengan keras oleh pria itu.
"Pak Gio. Izinkan aku menginap di tempat bapak!" ucapan Tiara membuat Gio menoleh sebelum menyalakan mobilnya. Bingung. satu alisnya terangkat ke atas.
"Jangan berpikiran lain. Jangan salah paham. Maksudku... Aku akan tidur di sofa. Aku gak mungkin pulang dengan keadaan begini. Ibu pasti akan banyak bertanya dan khawatir." Tiara menambahkan. Dia menatap Gio meminta jawaban persetujuan.
Gio menghela nafasnya berat. Bukankah kalau dia tidak pulang juga sama saja membuat ibu khawatir?
"Oke!"
Gio merasa kesal sendiri, kenapa malah jawaban itu yang dia berikan? Padahal tadi dia ingin bilang untuk menyuruhnya pulang saja. Kenapa malah jadi 'oke'?
Mobil berjalan meninggalkan pelataran parkir apotek. Tiara mengeluarkan beda pipih di dalam hpnya. Ibu jarinya bermain di layar pipih itu dengan lincah, matanya menatap fokus pada benda di tangannya. Lalu menempelkan benda itu di dekat telinganya. Dia seperti sedang melakukan panggilan.
"Ibu. Aku bertemu dengan Alea. Dan dia ingin curhat. Aku boleh kan menginap di rumahnya?" Gio melirik ke arah Tiara, dia sempat tak percaya gadis ini baru saja berbohong pada ibunya?
"Iya. Trimakasih, Bu. Ibu cepatlah tidur. Jangan lupa kunci pintu!" ucap Tiara dengan nada riangnya seakan tak pernah terjadi apa-apa dengan dirinya. Dia tersenyum dengan senangnya.
Tiara menyimpan kembali hp ke dalam tasnya. Menghembuskan nafasnya dengan lega. Menarik nafas lagi dan menghembuskannya lagi. Hawanya berbeda dengan saat dia menelfon ibu tadi. Gio ingin bertanya, tapi wajah Tiara terlihat sendu menatap ke arah luar.
Perjalanan mereka di lakukan dalam keadaan hening. Tiara menyandarkan kepalanya, sedangkan Gio fokus dengan jalanan di depan.
Gio melirik ke arah Tiara, gadis itu sudah tertidur. Pantas saja dia tak berbicara atau bergerak sama sekali.
Dalam keheningan Gio berpikir, apa yang membuat Tiara berada di jalanan sepi tadi. Mencari makanan tak mungkin di tempat yang sepi. dan pria tadi... Siapa dia?
Sampai di apartemen. Gio melirik ke arah Tiara. Gadis itu masih tetap tertidur meski dia sudah menggoyangkan lengannya dan memanggilnya pelan.
Sepertinya anak ini sulit untuk dia bangunkan.
Gio keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah pintu satunya. Dia membuka pintu, mencoba untuk membangunkan Tiara satu kali lagi. Tak ingin dia membuat keputusan salah dan Tiara menyangka dia akan berbuat kurang ajar.
Anak ini benar sulit untuk di bangunkan. Ini sudah malam tak mungkin jika Gio meninggalkan Tiara di dalam mobil sampai pagi.
Gio mengangkat Tiara dengan hati-hati di dalam gendongannya. Gadis ini tak terbangun sama sekali, bahkan dia malah menggerakkan kepalanya dan semakin melesakkannya di ceruk leher Gio. Seperti anak kucing yang mencari kenyamanan dalam dekapan majikannya. Keenakan sepertinya, tentunya dia lakukan itu tanpa sadar.
Gio membaringkan Tiara di atas kasur, meski dia tadi mengatakan akan tidur di sofa tapi tak sopan juga jika ia membiarkan seorang wanita tidur dengan tak nyaman di sofa yang keras. Biar dia akan mengalah saja. Toh tidur di sofa semalaman tak akan membuatnya mati karena tak nyaman.
Gio menarik selimut, menutupi tubuh Tiara hingga ke leher. Dia usap kening Tiara yang terplester, ini pasti sakit. Dia menarik tangannya saat sadar dan bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang sedang dia lakukan?
Bingung dengan keadaan dirinya, dia memilih pergi keluar dari dalam kamar.
"Heru, periksa CCTV di jalan XX. Cari tahu siapa pria yang menyerang Tiara dan bawa dia ke tempat biasa."
Menggerakan jarinya dan menekan ikon berwarna merah. Panggilan di akhiri setelah mendengar jawaban 'oke' dari seberang sana.
Gio menatap ke arah luar jendela. Cahaya lampu berpendar dari kejauhan sana. Berkelap kelip dengan indah untuk menghiasi malam yang dingin ini. Suara ramai kendaraan di luar sana terdengar pelan, tentu saja kota terpadat ini bagaikan tak pernah tidur, saling berganti dengan si empunya aktifitas malam.
Gio menatap kendaraan yang terlihat bergerak pelan di bawah sana, dia berdiri sedikit membungkuk. Kedua tangannya memegang tepian jendela yang sedikit terbuka, angin malam yang dingin berhembus dari luar sana melewati celah jendela yang terbuka. Terasa dingin namun dia tak peduli. Matanya fokus menatap keluar, tapi tidak jelas dengan apa yang dia lihat. Pikirannya terus saja terbayang dengan kejadian tadi.
Jika Tiara tak ingin berbicara padanya, oke. Dia tak keberatan. Dia bisa mencari tahu sendiri siapa pria itu. Meski Tiara tak suka, masa bodoh. Dia tak suka asistennya di ganggu apalagi disakiti!