
Satu minggu kami disini, sepertinya ayah benar-benar belum puas mengerjai Devan. Duduk berjam-jam bermain catur, memandikan Xander dan Cleo sampai Devan berwajah pucat pasi, mengurus tanaman langka, membersihkan kandang-kandang hewan peliharaan, joging mengelilingi setengah mansion, dan hari ini aku lihat Devan sedang menguras kolam piranha. Sadis!
Aku baru tahu karena aku baru saja pulang dari perusahaan bersama Samuel. Kalau saja aku tahu ayah akan berbuat seperti ini aku pasti akan membawa Devan pergi ke perusahaan tadi!
Samuel tertawa terkikik melihat Devan yang sudah bercucuran keringat. Baju Devan basah hingga sampai di pinggangnya.
"Ayahh!!" aku berseru, berlari ke tempat dimana ayah duduk. Ayah hanya menoleh sekilas lalu kembali pada buku bacaannya.
"Ayah. Kenapa ayah menyuruh Devan menguras kolam?!" aku marah!
"Masih lebih baik tidak ayah suruh dia mengecat seluruh dinding mansion." kata ayah tenang. Huhh... mana ayah ku yang penyayang, yang memiliki citra baik di mataku?
Beberapa asisten yang bertugas mengurus hewan peliharaan berdiri berjejer, menunduk siap menerima perintah lanjutan dari ayah. Tapi ayah sedari tadi hanya diam, terus membaca buku hingga Devan hampir selesai dengan kegiatannya.
"Ayah. Devan itu suamiku. Menantu ayah! Ayah tega perlakukan itu sama dia!" aku sangat marah dengan perlakuan ayah. Ini sudah menyentuh batas akhir kesabaranku. Ku rebut buku yang sedang ayah baca dan ku simpan di samping ayah setengah ku banting.
"Eh, ayah belum menandainya!" protes ayah.
"Masa bodoh!" ucapku lalu membuka heels ku dan turun ke tengah kolam menyeret Devan dari sana.
"Kalian bereskan sisanya!" Titahku. "Dan lagi. Kalau besok-besok aku lihat ayah keterlaluan seperti ini lagi. Aku marah!" ucapku tertuju pada ayah. Ayah melongo. Baru kali ini aku bersikap tidak sopan padanya. Ah biarkan saja kalau ayah marah! Pokoknya aku lebih marah darinya!
Aku melangkah pergi dari sana dengan langkah kasar! Masuk ke dalam mansion dan menuju kamarku. Duduk di tepi ranjang, melipat kedua tanganku di depan dada, kesal melihat Devan yang hanya diam saja di perintah ini itu oleh ayah.
"Kamu pasrah ayah suruh ini dan itu?!" tanyaku jengkel.
"Aku hanya ingin ayah memaafkan aku, honey." Devan berusaha menenangkanku.
"Tapi bukan begini caranya! Bagaimanapun juga kamu itu laki-laki. Bagaimana kalau Daniel lihat ayahnya hanya diam saja di tindas oleh kakeknya?!"
"Jika ini supaya aku mendapat pengakuan ayah, aku gak masalah!"
"Dan bagaimana kamu di mata anak kamu?" tanyaku. Aku benar-benar tidak mau Devan di anggap rendah oleh putraku karena perlakuan ayah.
Devan terdiam. "Aku cuma ingin pengakuan ayah. Dan selanjutnya aku akan berusaha di akui oleh putraku!" ucapnya sendu.
Sadar dengan aku yang berkata sedikit kasar tadi, aku mengelus tangan Devan. "Maaf." lirihku. Devan tersenyum seraya mengatakan tidak apa-apa.
Pintu di ketuk dari luar. Suaranya terdengar keras tidak seperti biasanya, dan juga memanggil namaku berulang kali, terdengar panik!
Pintu ku buka. Maid bernama Rumi terlihat panik. Meremas baju seragamnya.
"Apa yang terjadi?"
"Tuan Muda Daniel... Menghilang dari sekolah!" ucapnya terbata.
Aku terdiam. Fikiranku kosong seketika. Mendadak tidak bisa berfikir. Bagaimana bisa Daniel menghilang, penjagaan Daniel bahkan lebih di perketat sekarang!
"Nona! Sadarlah, Nona!" Rumi menggoyangkan tanganku setengah berteriak.
"Sayang? Ada apa?" suara Devan terdengar dari belakang, aku tidak bisa berkata apa-apa, suara ini mendadak menghilang.
"Tuan Muda menghilang!"
Lututku lemas. Dadaku sesak, sakit.
Aku berlari meninggalkan Devan. Mencari ayah atau Samuel meminta penjelasan. Beberapa penjaga berlarian ke arah luar. Pastilah mereka akan pergi untuk menemui ayah. Aku mengikuti mereka sampai lupa tidak mengenakan sandal rumah. Bertelanjang kaki menyentuh lantai yang dingin.
Aula Besar. Ayah berada di depan para pengawal yang berdiri berbaris rapi. Baju mereka sama semua, memakai setelan jas hitam lengkap dengan dasi di lehernya. Aku menerobos tubuh besar nan tinggi itu, berlari ke arah dimana ayah berada.
"Ayah!" panggilku. Ayah terdiam menatapku.
"Apa yang terjadi? Bagaimana Daniel bisa hilang? Bukannya ayah menambahkan orang untuk menjaga Daniel?" tanyaku dengan bahasaku. Aku terlalu panik sekarang!
Devan baru saja sampai, dia berdiri di sampingku. Samuel sedang pergi entah kemana mungkin dia sedang mencari jejak Daniel.
Ayah menggerakkan tangannya, pak Didi maju menggantikan ayah memimpin para penjaga, sedangkan kami bertiga pergi ke ruangan lain.
"Maafkan ayah, sayang. Ayah lalai. Seorang pengawal yang ayah tempatkan bersama Daniel ternyata adalah anggota Black Shadow!"
Black Shadow? Aku tidak mengerti!
"Black Shadow apa? Bukannya ayah selalu menyeleksi orang yang bekerja pada ayah?" tanyaku.
"Tidak ada catatan apapun yang cacat pada dia. Semuanya normal, Bahkan ayah dapatkan dia dari lembaga yang bisa di percaya seperti biasanya." ucap ayah menatap jauh ke arah depan.
"Lalu bagaimana sekarang? Dimana Daniel?" tanyaku, mataku panas, perasaanku tidak karuan, takut jika terjadi apa-apa pada Daniel.
"Samuel sedang melacak keberadaan Daniel. Daniel bisa ada dimana saja! Ayah juga belum tahu." ucap ayah.
"Ayah, tolong selamatkan Daniel." pintaku. Air mataku sudah berjatuhan.
"Tentu. Tapi tenanglah. Ayah tahu betul dengan pemimpin mereka. Mereka tidak akan melukai Daniel."
"Bagaimana aku bisa tenang. Daniel bisa saja ketakutan disana!" teriakku. Devan merengkuhku ke dalam pelukannya,mencoba menenangkanku.
"Tinggal lah di rumah. Ayah akan pergi untuk melakukan negosiasi dengan pemimpinnya." Ayah bergegas pergi sebelum aku bisa bicara.
Ku panggil ayah, tapi ayah sama sekali tidak menoleh lagi. Aku takut. Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada ayah dan Daniel.
"Aku akan ikut dengan ayah, tunggulah kami pulang. Aku akan lindungi ayah dan membawa Daniel pulang ke rumah!" ucap Devan lalu pergi menyusul ayah.
Semuanya sudah pergi. Mereka tidak mendengar aku yang berteriak memanggil. Aku sendiri sekarang. Bukan hanya mengkhawatirkan Daniel, tapi ayah dan Devan juga.
Daniel, Ayah, Devan. Pulanglah dengan selamat.
...****************...
Ada yang lupa, hehe 😅😅😅
Author mau minta maaf. Ada part dimana Daniel memanggil Sam dengan sebutan papi, tapi kemudian author lupa dan jadi panggil dia 'uncle'. Karena terlanjur lupa, dan sekarang sudah ada Devan, jadi panggilan Daniel untuk Samuel terus kan saja dengan sebutan 'Uncle' aja ya. Tolong maafkan kelalaian ini. 😅😅😅