DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. Part 46



"Iya, Pak. Saya mengerti!" lirih Tiara, masih sambil menunduk meremas ujung kemejanya. Suaranya tercekat di tenggorokan.


Mendengar suara Tiara yang seperti itu, Gio jadi ksihan juga, apalagi melihat wajah Tiara yang memerah dan matanya yang berkaca-kaca.


Ah, rupanya dia tipe wanita yang cengeng! batin Gio.


"Sudahlah. Hari ini kamu saya maafkan. Tapi kamu tetap harus kena hukuman!" Tiara mendongakan kepalanya.


"Loh katanya dimaafkan, kok masih di kasih hukuman?" protesnya.


Gio mengambil buku tulis yang lumayan tebal. Dia mengambil tangan Tiara dan menyimpan buku itu di telapak tangan Tiara, tak lupa pula dengan pulpennya.


"Ini hukuman kamu!" ucap Gio. Tiara menatap Gio tak mengerti. Gio ingin dia menulis?


"Bapak mau saya catatkan apa?" tanya Tiara.


"Tulis saja namaku sampai seribu!"


Tiara melongo.


Bos yang gila!


Tiara masih terdiam. Bingung.


"Kenapa tidak mulai? Tidak mau?!" tanya Gio meradang.


"Bukan tidak mau, tapi ...."


"Kalau begitu bersihkan semua kamar mandi dari lantai dasar sampai lantai sepuluh setelah pulang nanti."


"Eh, eh ... tidak!"


Tuh, kan bener yang aku fikirin!


"Atau, mau bersihkan jendela?" tanya Gio memberikan pilihan.


Apalagi itu!


Tiara menggelengkan kepala dengan cepat.


"Kalau begitu cepat tulis!" titah Gio. Dia memegang kedua bahu Tiara dan memutar tubuh itu, kemudian mendorongnya ke arah meja kerja Tiara.


"Pak!" Tiara menoleh ke belakang.


"Apa lagi? Kamu tetap gak mau nulis?!" Gio mulai kesal masih mendorong Tiara dari belakang hingga akhirnya mereka sampai di depan kursi. Gio mendudukkan Tiara dengan kasar ke kursinya.


"Bukan, Pak. Bagaimana saya mau nulis, kalau saya aja gak tahu nama bapak siapa," Tiara meringis malu. Lebih dari satu jam dirinya bekerja dan dia tak tahu siapa atasannya? Cari perkara!


Gio kembali menyerahkan buku itu pada Tiara. Dia lalu memegang kedua tepian kursi itu dan memutarnya hingga gadis itu berhadapan dengannya.


"Diam dan kerjakan hukumanmu!" tunjuk Gio tepat di depan hidung Tiara, hingga gadis itu tak sadar menatap ujung telunjuk Gio sampai kedua bola mata coklat terangnya saling menempel bersisian.


Tiara mengangguk, menahan nafasnya. Wangi nafas pria itu terasa manis sekali. Sepertinya dia baru saja makan permen K*ss.


"Target waktu gak, Pak?" tanya Tiara, ia menepis tangan Gio karena pria itu tak kunjung juga menarik tangan besarnya. Sesak nafas! OMG!


Ingin sekali Tiara berlari ke dekat jendela dan membukanya lebar-lebar. Menghirup udara segar dari luar. Salah! Ini semakin siang, udara pasti semakin panas! Dia akan berputar haluan saja berlari ke bawah AC. Segar iya, masuk angin nanti malam ya biarkan saja, daripada dia masuk angin karena Gio. Kan gawat! Eh, kok...? 🤔🤔🤔


"Tidak! Gunakan saja waktunya semau kamu. Selesai nanti berikan tugas ini pada saya!" Gio menepuk buku itu tepat di hidung Tiara, lalu kembali ke kursinya.


Tiara memanyunkan bibirnya. Dia mengelus hidungnya yang sakit. Lagi-lagi wajahnya kena timpuk. Kemarin dengan seikat bunga, hari ini dengan buku tebal. Untung saja hidungnya mancung, jadi tidak khawatir kalau akan tenggelam sedikit karena perlakuan pria itu, masih terlihat lah!


"Cepat kerjakan!" teriak Gio dari tempatnya saat melihat Tiara merengut sambil menatap dirinya.


"Iya. Iya!" Jawab Tiara sebal. Dia membuka buku itu dengan kasar dan lalu mulai menulis.


Dia pasti mengutukku di dalam hatinya! batin Gio.


Dia memperhatikan Tiara yang kini menulis dengan senyum seram di wajahnya. Satu sudut bibirnya terangkat dengan lidah menjulur pada tepian bibir itu. Kepalanya mengangguk-angguk. Kalau dilihat seperti senyum Jimmy -asisten Daniel- jika sedang menyayat kulit korbannya.


Tiara menulis dengan cepat, dan terlihat seperti sedang gemas.


"Tulis yang rapi! Kalau tulisannya jelek kamu harus mengulanginya dari awal!" seketika senyuman itu sirna dari wajah cantik Tiara. Gadis itu mendelik ke arah Gio dan mendecih sebal.


"Tulisanku selalu rapi!" ucap Tiara pede.


Gio bangkit dari kursinya dan berjalan menuju meja Tiara. Dia menarik paksa buku itu hingga tercipta lah satu garis panjang dari pulpen yang di pegangnya.


"Eh, Eh!" Tiara mencoba meraih buku itu, tapi Gio mengangkatnya tinggi-tinggi. Dia melihat tulisan Tiara, memang sangat rapi.


"Ulangi!" Gio melemparkan buku itu ke atas meja.


"Kok ..."


"Halaman itu sudah tergores! Lihat! Aku tidak mau namaku jadi berantakan dengan adanya garis panjang ini!" tak mau di bantah, dia segera membalikan dirinya dan kembali ke mejanya.


Tiara mendesis sebal menatap punggung lebar yang kini menjauh darinya. Dia sudah mengangkat pulpen yang ada di tangannya dan bersiap untuk melemparkannya pada Gio.


Belum sempat ia melayangkannya Gio membalikkan badan, ia memiringkan kepalanya saat melihat Tiara yang sedang menggaruk belakang tubuhnya dengan pulpen!


"Gatal, Pak!" Tiara meringis dengan lebar, mata bulatnya menjadi sipit.


Untung gak jadi lempar. Kalau tadi kena sama mukanya, bisa jadi aku yang dilempar dari atas sini! batinnya.