
Gio mencari Tiara di semua tempat, di dalam aula pesta, dan juga di luar, termasuk di taman. Tapi kekasihnya itu tak nampak juga batang hidungnya.
Gio mengeluarkan hpnya, dia menyalakannya dan menggeserkan ibu jarinya disana. Mencari nama Sekretaris Sengklek. Gio tersenyum menatap nama yang ada disana. Mulai sekarang nama itu harus dia ubah kalau tidak mau Tiara mengamuk melihatnya.
Dengan menggerakkan ibu jarinya disana, Gio mengubah nama itu My Lovely Secretary. Untuk sementara dia pakai saja nama itu. Dia akan memikirkan nama lain yang lebih manis untuk Tiara.
Tiara tak terlihat dimanapun, Gio segera menghubunginya via telpon. Satu kali panggilan, tak dia angkat. Dua kali panggian belum di angkat juga. Tiga kali, baru lah terdengar suara di seberang sana.
"Kamu dimana? Kenapa tidak ada di hotel. Aku kan sudah bilang untuk menungguku kalau mau turun!" Tanpa mengucap salam atau apapun itu, Gio berkata dengan kesalnya. Sifat pemarahnya ini ternyata belum hilang sama sekali.
'Aku dalam perjalanan pulang.'
Gio terdiam mendengar Tiara pulang tanpa memberi kabar. Suara gadis itu juga terdengar lain, tak seperti biasanya.
"Kamu... kenapa pulang gak kasih aku kabar? Kamu dimana? Turun. Aku akan jemput!" titah Gio, nada suaranya memerintah tapi tak lagi berteriak seperti tadi.
'Tidak perlu, aku ingin sendiri. Bapak teruskan saja dengan pestanya, jangan sampai Pak Axel mencari bapak.'
"Tiara!"
tut... tut... panggilan di akhiri. Gio menatap layar hpnya yang kini memperlihatkan walpaper poto dirinya.
Ada apa dengan anak ini? Kenapa dia berkata seperti itu? Dan lagi dia menyebutku Pak? Apa yang terjadi?
Gio segera berlari ke arah basement. Ini sepertinya ada yang tak benar! Apa yang terjadi dengan Tiara, kenapa dengan gadis itu?
Dengan kecepatan tinggi Gio melajukan mobilnya bergabung di jalanan ramai. Dia harus menyusul Tiara yang kini entah sudah sampai mana. Gio sangat khawatir, apalagi mendengar nada suara Tiara yang seperti itu. Apa dia sudah menangis?
...*...
Tiara mengusap wajahnya yang masih saja berlinangan air mata. Dia sudah mencoba menghubungi Alea, tapi nomor sahabatnya itu tidak aktif, begitu juga dengan nomor Ken. Pria itu tak pernah mematikan hpnya mengingat dia adalah dokter bedah yang sangat sibuk.
Apa mereka marah? Apa mereka menghindariku? batin Tiara terluka mengingat hal ini. Entah sudah berapa puluh kali dirinya menghubungi mereka berdua, tetap saja nomor mereka tak bisa di hubungi.
Sekali lagi Tiara merasa dirinya ini sahabat yang tak baik dan tak bisa membalas semua kebaikan yang Alea perbuat untuk dirinya.
Tiara menatap hp di tangannya. Bossy Bos Kampret juga tadi menelpon dan memintanya untuk turun, dia akan menjemputnya. Tapi tidak. Tiara akan datang saja ke rumah Alea untuk meminta maaf pada sahabatnya itu dan juga pada Kenzo.
Jika Alea tak memaafkannya dia akan melepas Gio untuk gadis itu. rasanya dia tak tahan jika harus melepas persahabatan yang sudah ia jalin bersama semenjak dulu. Apalah arti Gio. Jika mungkin sekarang berpacaran, belum tentu juga kelak dia akan menjadi suaminya. Jodoh siapa yang tahu, bukan?
Suara hpnya terdengar kembali. Gio. pria itu menelponnya lagi. Tiara mengangkat telpon dari Gio. Dia mendengar jika Gio bertanya dimana dirinya. Dia sudah sampai di rumah dan tak menemukan Tiara di sana.
Tiara memilih diam. Dia menggigit bibir bawahnya untuk meredam rasa panas yang kini bergelung di mata dan juga di hatinya. Merasa tak tahan, Tiara lebih memilih mematikan hpnya dan menyimpannya di dalam tas.
...*...
"Mas Ken dan Mbak Lea belum pulang." ujar seorag asisten yang ada di rumah Ken. Tiara terdiam menatap pintu rumah yang besar nan mewah itu. Dia juga mengedarkan pandangannya ke garasi yang ada di samping rumah, memang tak ada mobil Ken disana.
"Ya sudah. kalau begitu saya permisi dulu. Tolong sampaikan nanti kalau Mas Ken dan Lea pulang, bilang saja saya datang kesini." Asisten itu menganguk saat Tiara berpamitan. Dia cukup kenal dengan Tiara karena Alea sering membawanya kemari sebelum anak majikannya itu bekerja di luar kota.
Tiara kembali ke arah jalanan untuk mencari taksi. Sepanjang perjalanan Tiara hanya diam menatap ke arah luar. Dia bingung. Ini masa terberat yang pernah ia hadapi. Ia harus bagaimana? Semua dia sayang. Berat rasanya untuk memilih.