
Selesai menelfon Daniel, aku kembali pada pekerjaanku. Memeriksa berkas-berkas yang menumpuk sedari pagi. Oh ini mulai membuat aku bosan! Hari-hariku hanya berkutat pada kerja dan tidur! Aku kangen masa-masa dulu. Haruskah aku kembali pada masa sekolah? Aku kangen ketiga sahabatku.
Sesaat setelah aku menutup telfon, benda itu berbunyi lagi. Alex, dia menelfonku. Mau apa dia?
"Iya?"
"Aku cuma mau ingatkan makan malam nanti, kamu pasti lupa!"
Aku tertawa kecil.
"Gak akan lupa kalau sudah diingatkan dengan bunga!" ucapku.
"Oke, kalau begitu, aku akan selesaikan pekerjaanku, supaya kita bisa kencan nanti malam. Bye!" telfon di tutup. Apa-apaan dia? Kencan? Aku belum menyetujuinya!
Jam pulang kantor aku bergegas untuk pulang. Aku harus segera bersiap untuk makan malam dengan Alex. Bukannya aku suka dengan dia, tapi aku berhutang karena dia mengantarku kemarin siang. Dasar pemaksa!
"Anye!" Suara seorang pria membuatku berhenti melangkah beberapa meter dari mobilku. Dua bodyguardku sudah mendekat, Aku menoleh ke belakang. Devan berdiri disana dengan membawa sebuket bunga mawar merah di tangannya. Mimpi apa aku semalam, hari ini ada dua pria yang memberiku bunga!
Devan memberikan bunga itu untukku. "Aku sudah nunggu kamu sedari tadi. Kamu mau pulang? tanya Devan.
"Iya, aku mau pulang." jawabku sambil menerima buket bunga itu.
"Biar aku antar." tawarnya.
"Tidak perlu! Sudah ada mereka." tunjukku pada dua orang yang mendekat ke arah kami.
Devan menghela nafasnya berat.
"Anye, apa kamu gak punya rencana buat maafkan aku?" tanya Devan menatapku dengan tajam. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.
"Gak semudah itu Dev!" ucapku.
"Aku tahu. Kamu pasti masih sakit hati karena perlakuan aku kan?" tanya dia lagi. "Aku gak akan nyerah buat dapatkan maaf dari kamu Nye! Tapi aku juga gak akan paksa kamu. Cuma aku harap kamu fikirkan anak kita. Dia butuh aku." ucapnya.
"Kamu gak perlu fikirkan anakku Dev, fikirkan saja diri kamu sendiri. Oh ya, aku mau bilang sesuatu, mungkin kamu juga tahu soal saham Alex yang sudah pindah tangan sama aku?" tanyaku. Devan mengangguk.
"Kapanpun kamu mau ambil silahkan saja. Bahkan kalau kamu mau ambil sekarang aku akan berikan." ucapnya pasrah.
Ish, kenapa dia jadi seperti ini? Aku kira aku akan senang-senang dengan dia, tapi dia malah bersikap pasrah seprti itu! Tidak seru sama sekali!
"Kamu gila! Itu perusahaan turun temurun dari opa dan kamu gak berusaha buat mempertahankannya?" tanyaku.
"Kalau itu bisa membuat kamu maafkan aku, aku gak masalah! Papa dan Opa juga pasti akan dukung aku!" ucap Devan dengan pedenya. "Bahkan kalau kamu mau aku jadi budak kamu seumur hidupku aku juga rela. Asalkan kamu mau maafin dan kembali lagi sama aku, Nye!" ucapnya, so sweet kan dia.
Suara telfon membuatku tersadar dari rasa baperku. Alex menelfonku. Dia bilang sudah ada di depan kantor untuk menjemput aku pulang ke hotel. Devan hanya diam mendengarkan ku berbicara dengan Alex di telfon.
"Aku masih ada di basemen." jawabku saat Alex bertanya aku ada dimana. Telfon di tutup.
"Siapa?" tanya Devan.
"Orang yang ajak aku kencan!" jawabku jujur. Ku lihat tangan Devan terkepal di kedua sisi tubuhnya.
"Kamu gak bisa lakuin ini, Nye. Aku ini masih suami kamu!" seru Devan dia menarik tanganku, mencengkeramnya agak kuat. Seorang bodyguard maju dan menepis tangan Devan, menahannya dan memutarnya ke belakang tubuhnya. Devan terpekik kesakitan. Dia meminta di lepaskan bersamaan dengan itu sebuah mobil berhenti tepat di samping kami. Alex keluar dari dalam sana. Mendekat ke arah kami. Dia menatap aku dan Devan bergantian.
Dia gila! Saking terkejutnya karena tiba-tiba saja dia seperti itu, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Devan melotot melihat padaku dan Alex bergantian. Dia berteriak tak terima. Alex hanya tersenyum menatap dengan pandangan meremehkan Devan yang tak berdaya di bawah kuasa orang ku.
"Apa kamu masih ada urusan? Apa aku harus batalkan kencan kita?" tanya Alex. Aku menggelengkan kepalaku.
"Gak perlu. Kita berangkat saja." ucapku lalu pergi ke arah mobilnya. Tak lupa buket bunga yang aku pegang tadi aku berikan pada bawahanku yang lainnya tanpa berhenti dan menoleh padanya.
Alex menyusulku yang sudah masuk ke dalam mobil, dia masuk dari pintu yang lain duduk di belakang kemudinya. Orang ku melepaskan Devan. Dia berlari ke arah mobil kami dan memukuli jendela mobil, memintaku untuk membukanya. Dia berteriak dari luar. Samar aku dengar dia memohon. Alex menjalankan mobilnya, Devan mengejar hingga dia tidak bisa lagi menyamakan langkah kakinya dengan laju mobil kami.
Hatiku sakit, menatap Devan dari spion dia terlihat membungkukan tubuhnya dengan tangan bertumpu pada kedua lutunya.
"Kenapa?" tanya Alex tanpa melirik ke arahku.
"Tidak ada. Bisa tidak kalau makan malamnya lain kali saja? Aku capek!" ucapku lirih. Terdengar helaan nafas berat darinya.
"Oke. Lain kali saja kita makan malam kalau mood mu sudah baikan!" ucap Alex dingin.
Kami hanya diam hingga mobil sampai di depan hotel. Aku membuka seat beltku.
"Maaf ya." ucap Alex saat aku akan membuka pintu mobil. Aku menatapnya tidak mengerti.
"Soal yang tadi." ucapnya lagi. "Aku cemburu melihat kamu dapat bunga dari dia." aku tertawa kecut.
"Cemburu? Dia sedang di tahan seperti itu oleh bawahanku kamu bilang cemburu? Bagaimana kalau aku sedang dia peluk?" aku tertawa mengejek dia. "Kamu itu bukan cemburu Lex, tapi kamu kesal kan melihat dia makanya kamu berbuat seperti itu?" tanyaku. Alex terdiam.
Aku bersiap membuka pintu mobil tapi Alex menahan tanganku.
"Aku memang kesal melihat dia sama kamu, tapi aku juga cemburu! Aku serius, Ra!" Rasanya aku tidak melihat kebohongan dari matanya, dia terlihat bersunguh-sungguh, tapi itu membuat aku risih.
"Lain kali jangan seprti itu lagi ya." tuturku. Dia mengangguk sambil meminta maaf.
"Harusnya aku yang minta maaf, karena malam ini tidak jadi makan malam." Alex tersenyum dia terlihat sangat manis, andai saja kami bertemu jauh sebelumnya, bisa saja aku jatuh hati padanya. Setidaknya dulu sebelum aku dan Devan bertemu untuk kedua kalinya, sayang sekali.
"Aku masuk dulu ya." pamitku Alex mengangguk. Aku berdiri di samping mobilnya dan melambaikan tanganku padanya. Kemudian mobilnya pergi dari hadapanku.
Aku menghela nafas lelah. Hari ini selain lelah aku juga merasa pusing karena dua orang itu. Dua-duanya memiliki sifat yang sama, keras kepala!
Beberapa pegawai memberi hormat saat aku berjalan menuju arah lift khusus milikku sendiri. Aku mengecek pesan yang baru saja sampai sambil menunggu pintu lift terbuka.
Kembali melangkah ke dalam lift setelah pintu lift terbuka. Aku masih sibuk membalas pesan chat di hpku, sesekali tertawa mendapat balasan chat tersebut.
Pintu lift tertutup. Benda besi kotak itu bergerak membawaku ke lantai teratas milikku sendiri.
Ting.
Pintu lift terbuka. Aku masih memainkan hpku, dan berjalan keluar sana. Sampai di depan pintu kamarku, aku berhenti memainkan hpku dan mencari keycard di dalam tasku. Huhh lain kali aku akan pasang fingerprint saja biar mudah gak ribet harus pakai keycard segala!
Pintu terbuka, aku terkejut karena seseorang mendorongku dari belakang. Dia kemudian menarikku sebelum aku terjatuh hingga aku berputar dan sedetik kemudian dia mendorongku hingga punggungku menempel di daun pintu. Hp dan tasku terjatuh karena saking terkejutnya. Berteriak pun tidak bisa karena dia membekap mulutku.
"Diam!" ucapnya dengan mata melotot.