
Aku tak percaya ini! Aku tidak percaya ini!
Aku istri Devan!
Oh, Ayolah!
Aku memang istrinya!
Tapi ini... Meskipun bukan pernikahan impianku, tapi semua ini membuatku terkesan!
"Ada apa sayangku?" Devan memelukku dengan erat dari belakang. Kami berada di hotel. Namun kali ini di ruangan yang berbeda dari sebelumnya, dan suasana yang berbeda.
Kelopak-kelopak mawar merah berhamburan di lantai dan juga berbentuk love di atas kasur.
Aku tidak percaya ini!
Ku tepuk pipiku sedikit keras. Awww... sakit! Aku tidak bermimpi!
Devan tertawa melihat kelakuanku. Dia menyibak rambutku dan menciumi bahuku.
"Kamu fikir ini mimpi?" tanyanya.
"Aku... bangunkan aku, Dev!" Devan kembali tertawa, dia menarikku dan menindihku. Menggigit leher ku sedikit keras.
"Sakit!" rintihku.
"Sudah bangun dari mimpi?"
Aku menatap netranya yang teduh. Senyum tak pudar dari bibirnya.
"Kamu jahat! Sejak kapan kamu rencanakan semua ini?" tanyaku. "Aku hampir kena serang jantung!"
Dia tertawa.
"Jangan tertawa. Jelaskan!" pintaku.
"Maaf! Tapi ini juga bukan hanya rencana aku sendiri! Tapi juga rencana Samuel!"
"Sam?!" dia mengangguk.
"Dia ingin menjahili kamu, dan aku hanya ikut sedikit membantu!" terkekeh pelan.
Membantu, sedikit? Dasar!
"Huhh kalian ini. Keterlaluan! Kamu juga!" cercaku menatapnya dengan tajam. Lagi-lagi dia hanya tertawa.
"Apa tidak cukup selama ini aku sudah berdiri di samping kamu? Umm... ya walaupun aku pernah pergi dari kamu!" ralatku.
Devan terkekeh lagi. Dia mendekat dan mencium kening ku. Rasanya hangat, menyenangkan!
Ku lingkarkan tanganku di lehernya, dan menarik tubuhnya. Memeluknya erat.
"Trimakasih!" ucapku. Dia mengelus kepalaku pelan.
"Tapi aku juga marah sekarang!" ku balikan posisi kami, dia ada di bawahku dan aku duduk di atas perutnya.
"Kamu sudah buat aku nangis! Kamu sudah buat aku takut! Kamu sudah buat aku ingin mati!" cercaku sambil memukulinya dengan kesal. Dia menghalangi wajahnya dengan tangan.
"Maaf-maaf!" seraya menarik tanganku hingga aku terjatuh di atas dadanya.
"Tapi aku senang kamu punya kepedulian yang besar sama aku!" ucapnya memelukku lagi. Dadaku terasa sesak karena bahagia.
"Itu karena kamu ayahnya Daniel dan Axel. Kalau kamu tidak ada, mereka sama siapa?!" mengelak perasaan di hatiku.
"Iya-iya! Memang kenyataannya seperti itu! Kapan kamu akan jujur kalau kamu juga cinta sama aku? Aku gak pernah dengar kamu bilang seperti itu!" ucapnya pasrah.
Ya... begitulah wanita, di hatinya cinta, tapi di mulut berkata lain!
"Tapi aku senang sekarang. Maaf kalau aku baru bisa melakukannya hari ini! Pekerjaan membuat aku sangat sibuk, dan baru bisa membuat acara sederhana itu sekarang setelah sekian lama kita bersama! Maaf!" lirihnya.
"Jangan bilang maaf lagi! Bukan salah kamu juga, tapi memang kita terlalu khawatir, selain perusahaan, kesehatan Axel dan juga Daniel yang menjadi prioritas kita, bukan?!" Devan mengangguki ucapanku.
"Kalau saja dulu aku tidak melakukan kesalahan..."
"Sssttt. Jangan bahas itu lagi!" aku menahan laju bibirnya. Aku tidak suka saat dia masih tenggelam di dalam kenangan masa lalunya.
"Jangan bicara lagi!" ucapku lalu bangkit. Perlahan aku membuka resleting gaunku dan menurunkannya hingga ke perut, memperlihatkan buah dadaku yang selalu menjadi tempat favoritnya. Mata Devan terbelalak.
"Malam pertama setelah kita menikah lagi?" tanyaku. Perlahan sudut bibir Devan tertarik ke samping, dia tersenyum penuh nafsu, bangkit duduk, dan... Ah....
Ah...
Oh...
Author tidak tahan untuk menceritakan kelanjutannya. Hiya... Hiya... Haaaeee... Haaeee... 🙈🙈🙈