
Gio mendekati Tiara yang ada di dekat kolam renang bersama dengan Renata. Renata tersenyum tatkala melihat Gio berjalan ke arah mereka berdua. Gio segera memeluk Tiara dengan erat, terisak di belakang telinga Tiara.
Tiara yang bingung dengan perlakuan Gio menoleh menatap Renata. Renata tersenyum kecil lalu pergi dari sana meninggalkan kedua insan itu.
"G, ada apa?" tanya Tiara dengan dada yang berdebar. Ada rasa rakut di dalam sana. Gio masih terisak membuat Tiara bingung. Tiara mengangkat tangannya dan mengusap punggung Gio pelan.
"Hei ada apa? Jangan buat aku takut G!" Tiara bergetar nada suaranya. Gio semakin erat memeluk dirinya. Menangis tersedu membuat Tiara semakin bingung. Apakah Nyonya dan Tuan Aditama tidak merestui hubungan mereka?
Tiara menepuk lengan Gio. Menahan laju air mata yang hampir saja turun dari matanya.
Beberapa saat lamanya Gio memeluk Tiara. Tiara hanya diam. Membiarkan Gio tenang agar bisa berbicara. Tiara siap jika saja restu tidak di dapatkan oleh Gio dan membuat mereka harus kebali berpisah.
Gio menarik dirinya. Menatap Tiara dengan lekat. Kemudian dia merendahkan diri. Berlutut dengan satu kaki. Tiara bingung. Apa yang Gio lakukan? Apa Gio sedang meminta maaf padanya?
Gio menarik kedua tangan Tiara. Menatapnya dari bawah sana. Hampir pecah tangis Tiara saat ini.
"Tiara aku minta maaf yang sebesar-besarnya!"
Deg!
Rasa hatinya tidak karuan saat ini, berdebar dan ada sedikit rasa takut di dalam hati.
"Aku telah salah membuat mu seperti ini. Aku hanya manusia yang hina, yang tidak sempurna. Kau segalanya bagiku. Kau harus tahu Tiara apa pun yang terjadi akau akan selalu mencintaimu!" ucap Gio.
Tangis Tiara pecah saat ini juga. Tidak bisa lagi dia tahan. Ucapan terakhir Gio seperti menyiratkan bahwa mereka... Akh....takdir serasa kejam. Itu terdengar seperti kalimat perpisahan.
"Aku akan mencoba untuk selalu membuatmu bahagia. Maukah kau menikah denganku?" tanya Gio lalu mengeluarkan sesuatu yang ada dari dalam saku bajunya.
Tiara membuka mulutnya tak percaya. Sebuah cincin yang sangat indah dengan satu berlian kecil disana, Gio ulurkan di hadapannya.
Tiara hanya terdiam menatap apa yang Gio pegang itu.
Tahu akan kediaman Tiara. Gio lantas menarik jari Tiara.
"Apa kau mau menikah denganku Tiara? Aku sudah mendapatkan restu dari orangtuaku. Dan sekarang aku menunggu izinmu untuk ku sematkan cincin ini sebagai persetujuan mu menerimaku!" Gio menatap lekat Tiara yang masih hanya terdiam menatapnya.
"Ara. Aku menunggu jawabanmu!" Gio tak sabar. Sepertinya Tiara syok dengan apa yang terjadi barusan hingga hanya menganga tak mampu bicara.
"Tiara! Kalau kau tidak menjawab dalam tiga detik maka Mama akan menjodohkan Gio dengan gadis lain!" suara Anyelir terdengar dari arah pintu, sedikit berteriak. Di sampingnya ada Devan yang berdiri dengan cool sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Renata dan Axel tersenyum dari arah yang lain. Saling merangkul penuh cinta.
"Aku mau!" refleks Tiara berkata. Segera ia menarik tangannya dari Gio dan menutup mulutnya yang baru saja berteriak mengatakan mau.
Aduh... Sungguh malu diri ini! Tiara merutuki kebodohannya. Dia melirik ke arah empat orang yang lain yang terngah tersenyum padanya. Ingin sekali Tiara melompat ke dalam kolam dan bersembunyi di bawah air saja!
"Kalau kau mau kemarikan tanganmu!" pinta Gio. Tiara mengulurkan tangan kirinya. Gio menyematkan cincin berlian itu di jari manis Tiara. Indah dan juga pas berada disana.
Gio tersenyum senang. Lalu bangkit dan memeluk Tiara dengan erat.
"Triamakasih, sayang. Trimakasih sudah menerimaku!" Gio memeluk Tiara erat dan mencium kepala gadis itu beberapa kali.
.
.
.
.
Horeee
ππΊππΊππΊπ
izin sudah di kantongi. Bagaimana selanjutnya?