DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 82



Pesawat baru saja landing di bandara, aku lega karena akhirnya aku bisa turun dari ketinggian, sepanjang penerbangan aku sempat berfikir bagaimana kalau pesawat ini jatuh, pasti aku akan mati!


"Ayo turun!" Ajak Sam mengambil tangan ku dan memapahku keluar dari dalam pesawat. Perlahan aku menapakkan kakiku satu persatu di tangga. Di luar sudah berjejer delapan orang, empat di kanan dan empat di kiri. Mereka seperti menyambut anggota kerajaan saja. Membungkuk dengan hormat saat kami akan lewat.


Sam membawaku berjalan ke sebuah helikopter, di depan ada dua orang, di samping empat orang dan di belakang juga dua orang mengikuti kami. Ya ampun, terbang lagi?


"Sam. Bisakah kita naik mobil saja? Aku mabuk udara sekarang!" pintaku. Aku bosan terbang sedari kemarin malam! Sedikit pusing juga sebenarnya, telingaku agak sakit seperti ada lebah berdengung disana.


"Kenapa?" Tanya Sam saat melihat aku mengusap telingaku.


"Telingaku agak sakit!" terangku. Sam terdiam, dia menutupi kedua telingaku dengan kedua tangannya lalu dia membawaku ke arah helikopter. Terbang lagi? 😩😩... Ya sudah lah!


Entah beberapa menit kami terbang, kami turun di atas sebuah gedung, entah gedung apa. Tadi Sam sudah berbicara dengan seseorang di telfon, bahasanya tidak aku mengerti sama sekali. Apa kami sedang berada di luar negeri?


Seorang berpakaian putih dengan stelan dokter, dan juga dua orang wanita berpenampilan perawat di belakangnya menyambut kedatangan kami. Mereka bersikap tenang seperti tidak terpengaruh oleh angin dari baling-baling helikopter yang menerpa tubuh mereka. Wajah mereka, wajah-wajah bule. Fix sepertinya memang ini di luar negeri!


Kami turun dari Heli, begitu juga dengan delapan orang tadi, baru aku lihat setiap orangnya memakai suatu alat di telinga mereka, setelan jas hitam membalut tubuh besar mereka, sepatu mengkilat, sama seperti penampilan Sam sebelum ini. Rambut rapi terlalu kaku malah di sisir ke belakang, beberapa berambut cepak.


Dokter wanita itu mendekat dia membawa kursi roda, dia dan Sam berbincang sebentar, Sam dan dokter itu sama-sama tertawa, apa sih yang mereka bicarakan? Curang, aku tidak mengerti!


Lalu dia berbicara pada ku dengan bahasanya. Aku menoleh pada Samuel, meminta di artikan.


"Dia bilang naik ke atas kursi roda." terangnya. Ohhh...


"Tapi buat apa?" tanyaku.


"Hanya memastikan kandungan kamu baik-baik saja."


Aku ragu. Takut. Bagaimana kalau ini saatnya anakku di keluarkan dini?


"Kamu gak akan suntik mati aku kan dan ambil anakku sekarang?" Samuel tiba-tiba tertawa terbahak.


"Kamu itu terlalu dramatis! Cepat cuma periksa saja sebentar. Aku masih ada pekerjaan lain setelah ini!"


Kami ke sebuah lift, perawat mendorong kursi rodaku, sementara Sam dan dokter itu berbicara, sesekali tertawa. Andai aku mengerti bahasa mereka! Tidak menutup kemungkinan kalau mereka sedang membicarakan aku! Ih PDnya aku.... hehe.


Selesai pemeriksaan, Sam bilang semua baik-baik saja. Dokter memberikan resep pada Samuel yang kemudian ia berikan pada seseorang, dia langsung pergi setelah menerima resep itu.


"Kamu baik-baik saja. Hanya kelelahan. Apa semalam tidak cukup tidur?" Tanya Sam. Memang, aku terlalu memikirkan dosaku karena kabur dari suamiku.


"Hanya beberapa jam. Aku gak bisa tidur sementara pemandangan bulan sangat indah!" Aku tidak bohong, memang benar aku memikirkan semuanya sambil memandangi bulan. Sam hanya tertawa.


Selesai dari rumah sakit kami kembali lagi ke heli, terlalu panjang jika aku sebut helikopter! Terbang lagi untuk kesekian kalinya.


"Sam kemana kita kali ini?" tanyaku sambil menyandarkan kepalaku di bahunya. Entah kenapa aku takut, tapi jika bersandar seperti ini rasa takutnya sedikit menghilang.


"Pulang." jawab Sam singkat.


Kemana kami akan pulang? Kenapa aku merasa seperti seorang tahanan di kawal delapan orang sekaligus? Aku bingung, aku pusing, belum ada jawaban pasti dari Sam, dia hanya bilang menginginkan anakku, dan aku wajib mengasuhnya dan mendidiknya. Kenapa mereka inginkan anakku? Padahal mereka kan belum tahu kami, aku juga tidak tahu sama sekali dengan mereka.


"Bangun, kita sudah sampai!" titahnya. Aku mengusap kedua mataku, rasanya lumayan segar sekarang, tidak terlalu pegal di mata seperti tadi.


Aku ikut turun. Sam memegangiku supaya aku tidak jatuh. Mengedarkan pandangan ku ke sekeliling. Helipad di atas atap sebuah bangunan.


"Ayo!" belum aku melihat ke semua arah, Sam sudah menarik tanganku ke sebuah pintu. Lagi-lagi delapan orang itu mengikuti. Ya sudah lah. Abaikan. Aku memang tahanan sepertinya!


Ada sebuah lift di sana, Sam membawaku turun. Pintu lift terbuka. Aku melongo, ini hotel kah? Terlihat mewah, berkelas, dengan banyaknya barang-barang indah disana. Lukisan, guci, lampu gantung besar.


Sam membawaku berjalan melewati beberapa pintu, tak hentinya aku mengagumi semua yang aku lihat.


"Sam ini dimana? Hotel atau istana?" bibirku bersuara begitu saja.


"Ini di rumah. Tuan besar mau bertemu dengan kamu sekarang. Beliau ada di ruang kerjanya. Ingat untuk bersikap baik di depannya."


Deg.


Aku takut!


"Jangan takut, selama kamu bersikap baik. Tuan besar tidak akan sakiti kamu." Aku berhenti, menarik tanganku darinya.


"Sam, sebenarnya tuan besar itu siapa? Kenapa dia inginkan anakku?" aku tidak rela kalau dia mengambil anakku. Aku harus fikirkan cara untuk pergi dari sini!


"Kamu akan tahu kalau bertemu dengannya." ucap Samuel lalu kembali membawaku ke sebuah tempat, pintu kayu besar berukiran indah.


Dadaku berdetak cepat, Siapa tuan besar ini? kalau memang dia punya niatan tidak baik aku akan fikirkan cara untuk kabur. Biar pun jadi gelandangan tidak masalah!


Pintu terbuka, ruangan ini cukup luas, hanya saja seperti perpustakaan, banyak buku-buku di setiap rak yang ada. Di dekat jendela ada sebuah meja, dan kursi yang menghadap ke arah jendela, membelakangi kami. Kursi itu bergoyang ke kanan dan ke kiri, sepertinya ada orang disana.


Sam berbicara dengan sopan pada seseorang di kursi itu. Yang di sebut tuan besar hanya mengangkat tangannya dan menggerakkan satu jarinya.


Sam kembali berbicara. Lalu selanjutnya bicara padaku.


"Aku tinggal dulu. Tuan besar ingin berbicara sama kamu berdua." Ucap Sam.


Aku panik, tidak mengerti bahasanya dan juga aku takut.


"Sam, aku takut, jangan pergi!" aku menahan tangan Samuel. Bisa-bisanya dia tinggalkan aku.


"Tenang saja, Tuan besar tidak menggigit!" bisik Sam. Lalu dia melepaskan tanganku dan mundur dari sana.


Pintu tertutup, hanya aku dan tuan besar di ruangan luas itu. Aku berdiri mematung, bulu tanganku meremang.


Kursi bergerak, tuan besar bangkit dari duduknya. Bisa aku lihat dari postur tubuhnya dia pria yang gagah juga tinggi. Dia membalikan badannya. Aku terkejut melihat wajahnya, dia tampan. Tapi bukan terkejut karena ketampanannya, melainkan aku mengingat sesuatu tentang dia.


Dia tersenyum melihatku. Senyum yang sama dengan beberapa tahun yang lalu. Kenapa aku bilang seperti itu? Karena kami pernah bertemu sebelumnya.


"Selamat datang di rumah Anyelir!" ucapnya menyambutku!