
Jika Tiara tak ingin berbicara padanya, oke. Dia tak keberatan. Dia bisa mencari tahu sendiri siapa pria itu. Meski Tiara tak suka, masa bodoh. Dia tak suka asistennya di ganggu apalagi disakiti!
Kruuk...
Mendesis tak suka. Sial! Dia melupakan tujuannya pergi keluar tadi. Gio menarik dirinya, dia menutup jendela apartemennya dan menguncinya, tak memberikan kesempatan untuk lalat atau nyamuk sekalipun masuk ke dalam istananya dan mengganggu dirinya atau Tiara.
Gio melangkah ke arah pantry, tak ada apapun makanan disana. Dia sama sekali belum mengajak Tiara berbelanja bulanan. Gio baru dua hari kembali menempati apartemennya.
Tak ada apapun, bahkan semua roti sudah ia buang karena berjamur, susu sudah kadaluarsa meski ada di dalam kulkas. Dia tinggalkan selama hampir tiga bulan lamanya. Keadaan apartemen juga buruk debu dimana-mana, dia sampai meminta beberapa orang maid dari rumah mama untuk membersihkan tempat ini. Meminta Tiara, dia takut. Gejala tipus yang dia derita tempo hari juga karena dia terlalu kelelahan.
Gio menggaruk bekakang kepalanya yang tak gatal. Hanya minum air putih dia tak akan keyang yang ada dia akan kembung. Gio kembali menyambar hpnya, dia kembali menghubungi Heru.
...***...
Tiara terbangun di tengah malam. Dia merasa tubuhnya hangat dan nyaman sekali. Kasur empuk dan juga selimut hangat yang lembut mendekap dirinya.
Menoleh ke kanan dan ke kiri, dia kenal betul dengan ruangan ini. Cat abu terang dan juga tirai berwarna abu gelap, serta tak banyak barang di ruangan ini, hanya ada satu lemari besar, rak buku dengan banyak buku yang membuat kepala Tiara pusing bahkan hanya dengan membaca judulnya saja. Entah buku apa tapi tulisan asing, dia pernah melihat salah satunya seperti gaya tulisan di sebuah film animasi seorang gadis cilik berkerudung yang berkawan baik dengan seekor beruang.
Tiara menyibak selimut dan menurunkan kedua kakinya ke lantai. Dia pakai sandal bulu yang ada disana, tertegun sedikit lalu tersenyum saat melihat sepatunya ada di sudut ruangan bersanding dengan sebuah sepatu mahal yang dia kenal. Dia juga membayangkan bagaimana caranya pria itu membawanya kemari. Akh...padahal dia kan bisa membangunkannya!
Tiara menjadi malu sendiri.
Tiara berjalan ke arah luar, terlihat disana Gio sedang tidur terlentang di atas sofa. Kakinya yang panjang tentu tak muat di sofa itu hingga mencuat keluar dari sana. Kepalanya beralaskan bantal sofa yang ia tumpuk dua. Kedua tangannya terlipat di depan dada.
Tiara memperhatikan wajah Gio yang tenang. Dia sungguh suka melihat ketenangan ini, berbeda jika saat bosnya itu membuka mata, maka hanya akan ada hawa panas dan ingin membantah di setiap perkatannya.
Wajahnya begitu tampan, ia akui itu. mata lebar, hidung mancung dan bibir kecil tapi berisi itu sungguh terlihat indah, apalagi rahangnya yang tegas, bulu-bulu halus yang mulai tumbuh itu membuatnya terlihat menawan.
Tiara menggelengkan kepalanya. apa yang di lakukan. Dia sudah gila mengagumi bosnya sendiri. tapi memang makhluk ini pantas untuk di gilai bukan? Katakan lah dia beruntung bisa setiap hari bertemu dengan dia, bahkan para gadis... ah tidak, bukan hanya para gadis, nyatanya para wanita yang belum atau sudah bersuami pun rela menjadi tukang pengantar kopi atau tukang tekan tombol lift jika pria ini ada di dekat mereka!
Tiara kembali masuk ke dalam kamar, beberapa detik kemudian kembali keluar dengan membawa selimut yang tadi ia pakai.
Dengan perlahan Tiara menyelimuti tubuh Gio hingga ke dada, tak ingin sampai pria itu terbangun karena peruatannya. Sudah terlalu banyak dirinya merepotkan pria ini. Sampai pembangunan rumahnya pun Gio yang mengurus, dari mulai nol hingga kini hampir selesai pembangunannya, di tambahkan dengan beberapa bagian tambahan yang membuat rumah terlihat sangat cantik. Minimalis namun terlihat sangat cantik. Melebihi ekspektasinya.
"Trimakasih. Kamu sudah baik sama aku selama ini. Kalau tidak ada kamu, entah aku akan seperti apa." Tiara tanpa sadar mengusap pipi Gio, lalu dia menariknya kembali. Ingat jika dia tak boleh terlena dengan apapun yang ada pada pria ini.
Tiara tersenyum kecut. "Haruskah aku bilang kamu ini penjahat yang berhati baik? Kamu sudah menguasai tujuh tahun hidupku!" gumam Tiara dengan kesal, tapi tak ayal juga dia mengulas senyum di bibirnya.
Tiara meninggalkan Gio untuk mengambil minum, dia sangat haus.
Gio menarik sudut bibirnya, masih dengan mata yang tertutup. Dia tak berencana untuk membuka matanya. Apa tadi? Dia ber-aku kamu? Gio menarik senyumnya lebar.
Gio semakin mengulum seyumnya, dia mengubah arah tidurnya memunggungi sandaran kursi. Menarik selimutnya dengan erat hingga ke leher.
Biarlah... Biarlah gadis itu anggap dirinya penjahat. Nyatanya dia lebih suka di sebut seperti itu dari pada pria baik hati. Penjahat berhati baik. Dia suka julukan itu!
Melihat sebuah boks dengan gambar makanan di atas mej pantry Tiara jadi lapar juga, ingat jika dirinya memang pamit pada ibu untuk mencari makanan dan berujung pada kejadian tadi. Beruntung Gio datang di saat yang tepat, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada dirinya.
Tiara membuka boks makanan itu, berisi ayam K*C beberapa potong yang besar. Ada piring kotor yang ada di dekat sana dengan bekas saos berwarna merah. Pasti bekas makan pria itu.
Kalau aku makan satu tidak apa-apa, kan? Aku lapar. batin Tiara. Hampir saja air liurnya menetes melihat ayam yang terlihat lezat itu. Oh dan jangan lupakan dengan aromanya
"Pak Gio, aku minta ayamnya satu ya?! Aku sangat lapar!" Tiara berkata sedikit kencang seraya melirik ke arah sofa.
"Iya makan saja. Aku memang membelikannya untuk kita berdua. Kau tidur lelap sekali, susah untuk di bangunkan, seperti orang mati saja. Aku heran dengan mu, bahkan ayam saja lebih mudah untuk di bangunkan daripada kamu!"
"Makan saja, terserah kau mau makan sebanyak apa, tapi kau harus ingat kapasitas perutmu. Jangan sampai sakit perut seperti waktu itu dan membuatku kesusahan. Ingat untuk mencuci wadah bekas mu makan, aku tidak mau di tempatku ada hewan kecil atau hewan pengerat!" Tiara meniru suara berat Gio saat pria itu berkata, tak lupa dengan gerakan tangan yang menunjuk tepat ke arah hidungnya, seakan ada seseorang didepaan telunjuknya kini. Dan juga ekspresi garang pria itu. Satu tangan yang lain ia labuhkan di pinggang.
Tiara beralih dari tempatnya. Berbalik dari arah tadi dia berdiri.
"Memangnya siapa yang membuat Bapak susah. Aku kan tidak meminta Bapak untuk mengurusku. Bapak sendiri yang tiba-tiba saja memberi perhatian padaku."
Kembali berbalik dengan satu tangan di pinggang dan tetpa menunjuk udara kosong di depannya. "Siapa yang perhatian padamu, aku hanya tak ingin asistenku sakit dan tak bisa mengerjakan tugasnya. Aku akan repot jika kau sakit!" Berkhayal jika pria itu kini sedang menekan dahinya dengan ujung telunjuknya.
"Sudah jangan banyak bicara, kalau banyak bicara aku akan habiskan mkanan ini untukku sendiri!"
"Baiklah, aku akan diam dan aku akan makan makanan ini. Trimaksih atas perhatian Bapak!" taersenyum dengan sangat lebar.
"Sekali lagi aku katakan, aku tidak perhatian padamu. Aku hanya tidak ingin kau masuk rumah sakit dan menghabiskan uangku lagi. Cepat makan atau kau mau kelaparan?"
"Iya-iya, aku akan makan."
Tiara terdiam, lalu...
"Haha..." Tiara tertawa. Dia sudah gila. Dia memerankan dua peran sekaligus, dan dia rasa dia cukup keren menjalankan peran sebagai pria beku nan datar itu.
Tiara duduk di atas kursi tinggi. Tanpa mengambil piring dia mulai menikmati ayam goreng berbalut tepung itu dengan nikmatnya. Mencubit dagingnya yang lembut atau menikmati tepungnya yang kriuk. Hemm...Nyam... lezat sekali.
Gio menggelengkan kepalanya lalu kembali membaringkan diri dengan nyaman di sofa. Dia mengulum senyum, tak habis pikir dengan gadis itu. Dia membuka mata saat mendengar Tiara berucap meminta sepotong ayam padanya tadi, dan dia menjawab sendiri? Apa dia gila? Apa pukulan tas dari pria itu membuat otak asistennya bergeser?
"Ya ampun, dia sudah tidak beres!" gumam Gio pelan, lalu kembali menarik selimutnya dan menutup matanya.