
Devan sempat marah karena aku menolak keinginannya untuk jujur pada keluarganya dan Kak Mel. Aku memastikan padanya bahwa aku tidak akan hamil, dan dengan sedikit ancaman aku akan melukai diriku, akhirnya dia luluh! Sangat gampang untuk mengendalikan pria itu!
Devan menyerah dengan sikap keras kepalaku, tapi dengan satu syarat, jika aku mengandung aku harus terima dia menjadi suamiku. Dan dia juga memberi aku black card nya. Tanpa batas!
Bolehkah aku memakainya? Seratus juta sehari katanya. Dan jika kami resmi menikah nanti dia akan menaikan jumlah dalam sehari menjadi tiga ratus juta. WOW!!
Dia kira dengan iming-iming ratusan juta aku akan luluh. Tidak! Aku tetap lebih sayang kak Mel. Walaupun aku juga suka dengan uang. Tapi aku lebih sayang dengan kakakku yang penyayang!
Devan tidak bisa berkutik saat aku bilang akan menemui Noval. Ya dia pria pertama yang akan aku minta pertanggung jawaban!
Dua hari Noval tidak bersekolah, berita tentang pengeroyokan Noval tersebar luas di sekolah. Dia bilang di rampok dan kehilangan barang berharganya. Apa maksudnya aku? 'Milikku' yang berharga yang kini sudah menghilang karena ulahnya?
Noval terlihat menghindar saat berpapasan denganku. Kadang dia memasang wajah tak acuhnya.
Sudah tiga hari aku sangat sulit sekali menemui dia hingga pada saat jam istirahat aku langsung berlari ke arah kelasnya.
Gotcha! Dia masih ada di dalam kelas! Beberapa orang menatap aku yang berjalan mendekat ke arah Noval.
"Wuidiiihhh. Neng Anye datang buat aa' ya?" entah siapa dia, mencoba mengangguku saat aku melewatinya.
"Tumben neng gak sama antek-antek yang lain?!" pria di sebelahnya menyeletuk.
Aku semakin kesal dan menatapnya dengan tajam.
"Neng kalau lagi marah gitu tambah cantik, abang suka!"
Aku gak peduli. Yang aku inginkan adalah Noval!
"Anye cantik, kok mas Sandi di lewatin aja!" celetuk yang lain.
"Bisa ikut aku?" Aku berdiri tepat di depannya. Wajah Noval masih terlihat memar di beberapa bagian. Noval berdiri dan mengikutiku.
Aku berjalan ke arah gudang sekolah di lantai tiga. Terhalang beberapa ruangan dari kelas Noval. Tempat itu sepi.
Noval dengan santainya berdiri dan bersandar di dinding. Satu tangannya masuk ke dalam saku celana.
"Kamu masukin obat perangsang ke dalam minuman aku kan?" tanya ku to the point.
Noval tersenyum. "Aku hanya ingin kita senang-senang, Anye!"
"Dasar b*j*ng*n! Kamu..."
"Aku cinta sama kamu, dan salah kamu karena selalu nolak aku!"
"Tapi bukan berarti kamu bisa lakuin itu kan?"
"Memangnya kenapa? Kalau aku akhirnya bisa dapetin kamu dengan cara seperti itu, kenapa tidak?" ucapnya. "Kamu juga menikmati saat aku mencium kamu kan? Dan saat..." dia mencoba menyentuh dadaku.
"Dasar b*j*ng*n kamu!" teriakku menepis tangannya.
"Oh sayang. Aku lebih suka kamu berkata kasar saat kita menikmati malam berdua dengan tubuh tanpa busana. Kamu pasti akan senang seperti yang lainnya." Noval menarik tengkuk leherku dan m*l*m*t bibirku dengan kasar.
Aku yang sama sekali tidak siap dengan perlakuannya hingga kurasakan rasa amis darah dari mulutku.
Aku mencengkeram kepala belakang nya, Noval tersenyum kecil dan semakin beringas menciumku. Apa dia kira aku menikmatinya?
Bugghh!!!
Aku menurunkan kakiku yang telah melukai 'miliknya'. Tepat 'disana'!
"AAAWWWHH!!!" Noval membungkuk memegangi aset berharganya. Dia jatuh berlutut di depanku. Wajahnya terlihat sangat pucat dan kesakitan! Dia membungkuk satu tangannya memukul-mukul lantai. Seperti dalam adegan gulat yang sering aku tonton, menyatakan dia menyerah.
"Anye, sa-kit!" lirihnya menahan sakit.
"Rasakan! Aku kira itu pantas buat kamu! Bahkan kalau bisa aku ingin potong-potong untuk di masak dan di jadikan sosis dan akan aku berikan pada kucing liar!"
"To-long." suaranya terdengar berat, Satu tangannya menyentuh tanganku. Aku menepisnya dan tanpa melihatnya lagi aku meninggalkan dia.
Noval berteriak meminta bantuanku. Masa Bodoh!
Dasar tidak waras! Percuma juga aku bilang yang sejujurnya sama dia. Pria brengsek! Mana bisa aku minta tanggung jawab pada pria seperti itu? Yang ada aku sudah makan hati duluan!
Aku berjalan dengan perasaan kesal.
"Anye, kamu dari mana saja?" Aku tersadar saat melihat Nayara di sampingku. Dia baru keluar dari toilet.
"Ah ada perlu. Mana yang lain?"
"Udah ke kantin duluan, tadi nyari kamu gak ada."
"Ayo deh kita nyusul mereka!"
"Ayuk."
Kami pergi ke kantin dan menemukan grup riweuh disana!
"Makan apa Nye?" tanya Sofia.
"Bakso ranjau jumbo!" jawabku.
Sofia menepuk dahinya.
"Galau lagi dia! Heran gue, dari kemarin galau terooosss. Nih Anye sayang, gue saranin ya elo tuh cari pacar sana biar kagak galau terus-terusan!"
"Hehe." Aku hanya menyengir ria, membuat Sofia kesal dan malas melihatku.
Aku tidak mungkin cerita soal malam setelah pesta itu kan! Memalukan!!! Ah lagipula itu salah ku, kalau saja malam itu aku tidur saja di rumah! Tidak! tetap saja yang salah si cecunguk itu! Dasar sampah!
Bakso milikku datang, di antar oleh Sinta, putri pemilik kantin yang juga bersekolah disini, dia baru kelas sepuluh. Jus alpukat juga dengan hiasan susu coklat bergambar love. Tumben!
"Mbak Anye. Ini traktiran dari yang di ujung sana!" Sinta menunjuk seorang pria yang kemudian melambai padaku. Kemudian Sinta pamit untuk kembali membantu sang ibu yang tengah sibuk melayani yang lain.
"Iya makasih Sin." Aku lihat pemuda itu kemudian mendekat dan menarik kursi dari meja lain.
"Hai. Nan." sapaku membalas dengan malas.
"Makasih traktirannya!" ucapku.
"Sama-sam..."
"Kita gak di traktir nih?" celetuk Sofia memotong perkataan Nando. Ya si empunya acara malam itu.
"Kalian mau juga? Boleh deh. Tinggal kalian jumlah aja berapa nanti aku bilang sama Bu Sumi biar di catat di buku hutang kalian!"
"Somplak lo! Ternyata elo sama aja kayak yang lainnya! Baiknya cuma sama Anye doang!" Sofia kesal.
"Kalau elo mau sama Anye elo juga harus bisa dapetin hati teman-temannya juga dong!" Sofia berujar dengan kesal.
"Emang harus?" tanya Nando.
"Iya! Har..."
"Eh Sof, lebih baik kita cari tempat lain, yuk. Panas disini." ucap Nayara, lalu menarik tangan Sofia dengan satu tangan dan tangan yang lain membawa mangkuk bakso miliknya.
"Kalian mau kemana?" tanyaku panik.
"Cari tempat teduh." Nanda berujar sambil membawa dua mangkok yang lain.
"Kamu disini saja!" ucap Nanda.
"Tap..."
"Udah, biarin aja mereka, kamu terusin makan kamu." ucap Nando memotong ucapanku. Mereka bertiga pergi agak jauh dari tempatku. Apa-apaan sih mereka?
"Kamu apa kabar?" tanya Nando yang sebenarnya tidak perlu di tanyakan lagi bukan?
"Baik." ucapku singkat lalu membubuhkan saus sambal dan kecap serta sedikit cuka. Nando terbelalak melihat sambal di makananku.
"Apa?" tanyaku jutek seperti biasanya. Lalu mulai memasukan makanan ke dalam mulutku.
"Enggak. Aku cuma mau bilang aku suka kamu."
"Uhuukkk."
Aku tersedak hebat, rasa perih seketika menjalar di tenggorokan ku. Nando dengan sigap menyerahkan minumannya. Aku masih parno dengan kejadian yang lalu, takut jika air itu di tambahkan dengan sesuatu. Aku menyambar jus alpukat milikku dan menenggaknya hingga habis setengah.
"Maaf." ucapnya merasa bersalah.
"Nope!" ucapku cuek lalu kembali makan.
"Gimana?" tanyanya.
"Apa?"
"Jawaban kamu?"
"Emang kamu nanya apa?"
Nando tersenyum malu. Wajahnya merah.
"Itu yang tadi."
"Gak ada komentar!"
"Kamu gak suka sama aku?"
"Suka." wajah Nando berbinar. "Tapi sebagai teman!"
Nando terlihat lesu mendengar jawabanku.
"Sorry Nan. Aku cuma mau fokus dengan pelajaran dulu. Gak mau pacaran." ucapku. Lalu menghabiskan makananku dengan cepat.
"Terus kapan kamu boleh pacaran?"
"Sekarang juga boleh, tapi aku nya gak mau." tegasku. Wajah Nando kembali ke semula penuh dengan senyuman. Manis.
"Oke kalau begitu lulus sekolah dan kalau kita kuliah nanti aku akan nyatakan cinta lagi, dan kamu harus terima aku!" ucapnya dengan sangat pede. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.
"Aku ke kelas dulu. Dan jangan lupakan itu, cantik. Aku tunggu kamu di masa depan!" Nando mencolek pipiku, lalu pergi dengan senyuman.
Ish dasar laki-laki. Seprtinya banyak yang posesif disini, dan terobsesi!
Ketiga sahabatku kembali datang mendekat, wajah mereka penuh dengan rasa penasaran.
"Apa yang dia bilang?" Nanda.
"Apa dia nyatakan cinta?" Nayara.
"Halaaah, paling ni si cewek kutub nolak lagi!" Sofia. Aku hanya mengangkat kedua bahuku dan menenggak jus alpukat hingga habis!
Semua menatapku.
"Apa?"
"Jawabannya!"
"Gue masih betah menjomblo!"
"Yaaaahh." Nayara dan Nanda kecewa, sedangkan Sofia berjingkrak senang.
"Elo kok kayak yang seneng sih sohib kita jomblo!" Nayara menoyor kepala Sofia.
"Berarti abang gue masih punya banyak kesempatan buat deket sama Anye!" Dasar Sofia, masih saja merekomendasikan kakaknya.
"Ish apaan sih. Ke kelas yuk ah. Masuk sebentar lagi nih." ucapku sebelum pembicaraan mereka kemana-mana soal lelaki! Dan membuatku muak!