
"Aku kangen kamu, Nye! Sangat!"
Aku juga. Tapi semua ini salah!
Seandainya aja dulu kamu gak jalan sama wanita lain, dan kamu gak menghilang tentu kita masih akan bersama. Mungkin!
"Kamu tahu Nye. Malam itu aku ketemu sama teman aku. Yang kamu bilang aku selingkuh itu. Dia baru putus dari pacarnya. Dia pengen curhat sama aku. Dia sangat frustasi sampai dia mabuk. Mungkin yang dia lihat pada waktu itu aku adalah pacarnya, dia nangis dan mukul-mukul aku. Dia teriak dan maki-maki aku. Dada aku sakit Nye karena dia pukul! Tapi aku diem aja karena aku juga kasihan, mungkin setelah dia selesai meluapkan amarahnya dia akan lega dan mau di ajak pulang." Seperti dia tahu apa yang aku fikirkan.
Aku mendengarkan cerita Devan. Sama seperti dulu saat dia akan menjelaskan.
"Please. Kali ini dengerin dulu sampai aku selesai ngomong!"
"Aku tetep diem. Dia mulai tenang, tapi kemudian menangis lagi. Dua jam aku nemenin dia, aku jadi pendengar yang baik. Dia peluk aku, dan dia juga cium pipi aku. Dia kira ak..."
"Kamu diem aja dia peluk dan cium? Seneng kamu?!"
Dasar laki-laki! Ya tentu seneng lah dapet peluk dan cium gratis dari cewek seksi. Mana ada yang gak seneng, ya kan?
"Jangan di potong!"
"Dia kira aku pacarnya. Aku udah nolak dia, tapi namanya orang mabuk kan?"
Ish, dasar! Masih saja mencari alasan!!
"Dia udah mulai tenang, aku mau antar dia pulang. Dan waktu aku bawa dia keluar. Ada kamu disana."
"Ngapain kamu dulu disana, hem?" Devan mengangkat kepalanya dari pundakku. Lalu menatapku dengan tajam, menunggu jawaban.
"Aku ada perlu!" ucapku.
"Perlu apa? Kenapa ada di tempat seperti itu?"
"Kamu janjian sama teman pria kamu?"
"Enggak! aku..."
"Terus ngapain kamu ada di dekat klub huh?? Kamu sendirian waktu itu. Kalau kamu gak janjian lalu...apa kamu ngikutin aku?"
"Jangan kegeeran kamu! Ngapain juga ikutin kamu!" ucapku sambil melepas rengkuhan tangannya. Lalu berdiri, dalam hati aku menjawab 'iya, aku ikutin kamu!' tapi karena belum cukup umur aku hanya bisa menunggu dia di luar!
"Nye!" Devan menarik tanganku dengan keras sampai aku terjatuh, dan dia menangkapku lalu mendudukan aku atas pangkuannya. Dadanya hangat menempel di punggungku. Memeluk ku erat. Kembali melabuhkan kepalanya di bahuku. Tubuh ku menegang karena perlakuannya, dadaku berdebar. Ingin aku berbalik dan memeluknya tapi aku juga harus sadar diri kan?
"Anye please. Tolong sebentar lagi sayang."
"Please, Dev. Lepas. Kita gak bisa kayak gini."
"Maaf, dulu aku bilang gak akan nyerah sebelum dapat maaf dari kamu, tapi aku harus menurut dengan mama dan papa, mereka ingin aku melanjutkan kuliah di luar negeri. Dan kamu sedang ujian saat itu. Aku fikir ucapan kamu saat ngehindar dari aku itu serius karena kamu ingin fokus dengan ujian kamu. Tapi aku salah Nye. Harusnya aku datang, kamu mau atau tidak. Kamu suka atau tidak. Iya kan? Mungkin kita gak akan seperti ini!" nada suaranya terdengar sangat menyesal. Aku menghela nafas kasar.
'Iya memang itu yang aku harapkan dulu, tapi kamu gak ngerti. Dan sekarang terlambat!
"Aku mau pulang." Aku melepaskan diri dari Devan, dia hanya pasrah diam di tempatnya saat aku berdiri dan kemudian masuk ke kamarnya, mengambil tas ku yang ada di atas meja lalu dengan cepat keluar.
"Aku pulang sendiri aja. Makasih udah nampung aku tadi malam."
"Enggak! Aku antar!" Devan sudah berada di dekatku, siap dengan dompet dan kunci mobil di tangannya. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Gak usah, nanti kak Mel curiga kalau kamu anter aku pulang." ucapku sambil memakai flatshoes lalu meninggalkan Devan yang berdiri mematung di tempatnya.
Aku pulang dengan menggunakan taksi, biar boros juga yang penting aku hanya ingin pulang sendiri.
Note: Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Vote, komen, rating, dan likenya.