
pov Axel.
Aku tak tahan. Tubuhku lemas setelah makan rujak pedas dengan buah mangga muda, sangat masam hingga membuat mulutku menciut dan muntah seketika.
Renata mengusap tengkuk leherku, dia juga mengomel memarahiku. bahkan, di depan Gio dan Tiara.. Ah... semenjak hamil dia memang jadi pemarah sepertinya. Hilang sudah wibawaku di hadapan Tiara. Seorang pemimpin perusahaan dengan ribuan karyawan harus tunduk patuh di hadapan sang istri.
Ah... entah Tiara akan berpikiran apa. Biar saja jika dia menganggapku suami takut istri, aku hanya suami yang takut tidak mendapat jatah dari istri. Ups...ðŸ¤
Dengan kondisi ku yang memalukan akhirnya kami pulang ke rumah. Sisa rujak yang belum habis pun ikut serta di dalam wadah dan kini Renata menikmatinya di sampingku seraya tersenyum senang. Mulutnya tidak berhenti mengunyah sampai kami tiba di rumah. Bau asam dari mangga itu tercium jelas di hidung ini. Berasa trauma saja, ingin muntah lagi dan lagi.
Mama dan Kak Daniel menatapku heran, aku tak hiraukan mereka yang kini duduk berdampingan, berlari dengan cepat ke lantai atas untuk melepaskan rasa mual di dalam diri ini.
Perutku terasa diaduk lagi. Bau asam buah mangga selama dalam perjalanan tadi sungguh membuatku tak tahan.
Puas dengan mencumbu wastafel di kamar, aku keluar dari kamar mandi. Tak aku lihat Renata di dalam kamar. Keterlaluan! Suami sedang kesakitan dia malah enak-enakan bercanda dengan mama di luar. Kak Daniel entah dimana dia.
Ku labuhkan tubuh ini dengan kasar di atas sofa di samping Renata. Istriku itu tidak peduli sepertinya,masih tetap menikmati rujak yang masamnya naudzubillah. Malah Mama ikut-ikutan menikmatinya juga. Wajah-wajah biasa itu seakan sedang menikmati makanan manis saja! Eh apa jangan-jangan mama ketularan hamil?
"Kamu mabuk, Xel?" mama bertanya, wangi aroma mangga muda tercium kembali. Aku menutup hidungku, tak mau jika sampai muntah lagi.
"Mabuk mangga muda , Ma. " Renata menimpali dengan tak peduli semakin asyik dengan apa yang ada di pangkuannya. Ampun... istriku ini awas saja nanti!
"Halaaahhh. Mangga muda kok sampai mabok!" mama terkekeh, dikira lucu apa? Aku kesakitan karena itu!
"Aku tidur saja lah!" ucapku pasrah. Daripada terus disini dan menjadi bahan olokan dua wanita yang kusayangi ini.
Ku rebahkan diri ini di atas ranjang empuk.
Teringat saat itu saat dimana Renata memberikan sebuah benda pipih kecil padaku. Garis merah dua. Aku mana tahu benda apa dan apa artinya.
"Aku belum menstruasi dua minggu ini loh!" tuturnya saat dia memberikan benda itu padaku.
"Terus?" dengan bodohnya aku tidak mengerti. Renata hanya melongo mendengarku.
"Aku bilang aku belum mendapat bulanan dua minggu!" berseru seraya terlihat kesal.
"Ya terus kenapa? Aku minta obat sama dokter untuk mengatasi telat haid mu?" jawabku saat itu.
Renata marah, dia memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangan di depan dada.
"Axel kau menyebalkan!" teriaknya kesal. Aku bangkit dari pembaringanku dan meraih tubuhnya dari belakang. Istriku ini kenapa sih? Gak ada hujan dan angin marah hanya karena belum dapat bulanan.
Renata melepas paksa tanganku di perutnya. "Kamu itu bodoh atau bagaimana sih? masa garis dua saja kamu tidak mengerti? Aku hamil Axel!!" berseru dengan sangat kesal.
Aku terdiam mematung. Garis dua itu tanda hamil?
"Kamu hamil?" Renata masih kesal tapi akhirnya mengangguki pertanyaanku Refleks diri ini bangkit berdiri dan melompat di atas kasur bak anak kecil. Renata sampai tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Sudah nanti kasurnya rusak!" dia memberi peringatan. Aku tidak peduli. Hanya Sebuah kasur biarkan saja kalau rusak. Aku akan punya anak. Aku akan jadi ayah! aku berteriak keras ingin seisi dunia tahu kalau sebentar lagi aku akan punya keturunan.
Aku menghentikan aksi ku. Memeluk istriku tercinta. Ku labuhkan ciuman bertubi-tubi di wajahnya. Sungguh diri ini sangat senang mendengarnya.
"Terimakasih. Terimakasih sayang!" ucapku dengan penuh rasa bahagia. Renata tersenyum. Dia mendorong wajahku dengan satu tangannya.
"Axel. Geli!" serunya saat ku ciumi dia banyak-banyak. Aku memang belum cukuran, eh apa ini keinginan baby? Minggu lalu Renata melarangku untuk bercukur, apa mungkin ini tanda-tanda dari baby kami?
"Sudah periksa ke Dokter?" tanyaku akhirnya. Renata menggelengkan kepala. Rasanya diri ini lesu. Atas dasar apa. Renata menyatakan hamil jika hanya pada acuan garis dua semata.
"Aku yakin kalau aku hamil Xel. Dulu juga begitu, kan." ucapnya lirih menoleh sekilas padaku. Mungkin dia takut aku marah karna dulu dia hamil anak pria bajingan itu.
"Ya sudah, kita ke dokter ya!" ajakku. Renata hanya mengangguk lalu kami bersiap pergi ke rumah sakit.
Disana aku terpana. Menatap layar hitam yanh ditunjuk dokter. Sebuah bulatan kecil sebesar biji kacang terlihat sangat jelas disana. Betapa bahagianya diri ini mebgetahui kalau Renata kembali mengandung. Namun, kali ini yang dikandung Renata adalah anakku.
Bagaimana aku tidak senang? Setelah kejadian penculikan Renata malam itu yang membuat janinnya meninggal dokter memvonis Renata akan sulit punya anak. Tapi dia bilang sulit bukan berarti tidak bisa. Maka dari itu aku tidak banyak mempermasalahkan apakah kami akan punya anak atau tidak. Kalau pun tidak ada anak toh kami bisa mengambil satu dari yayasan panti asuhan yang ada di bawah naungan papa. Renata juga tidak masalah dengan hal itu meski dirinya sangat sedih karna tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kami.
Bukannya kami tidak melakukan segala cara. Beberapa dokter sudah kami temui, dari yang biasa hingga ternama di luar negeri tapi keadaan Renata masih tetap sama. Kami pasrah saja.
Apa yang di gariskan Tuhan itulah hal yang kita manusia dapatkan. Pahit pasti akan berujung manis. Sulit untuk menuju kemudahan dan kebahagiaan. Ini lah jawaban atas semua kesulitan yang kami dapatkan selama ini.
"Melamun!" Aku tersadar saat Renata Tiba-tiba saja duduk disampingku. Ku alihkan tubuhku miring ke arahnya dan memeluk perut nya yang masih rata. Usia kandungan anak kami baru sembilan minggu.
"Tidak melamun hanya sedang berpikir." ku elus perutnya. Rasanya sangat senang sekali. Entah kenapa padahal dulu aku sering mengelus perutnya yang buncit aku senang. Tapi mengelus perut rata ini aku lebih senang lagi.
"Berpikir apa?" tanya Renata dia juga mengelus kepala ini. Rasanya menyenangkan sekali.
"Semua yang kita jalani dulu sangat sulit. Sekarang kita menuai manisnya." tuturku. Renata tersenyum dia mengangguki perkataanku.
"Aku harap tidak ada lagi masalah seperti dulu. Dam kita bisa hidup bahagia selamanya."
"Aamiin," ucapku lalu mendekat dan mencium calon anak kami yang ada di dalam perut Renata.