
Risa datang ke kantor seperti hari-hari sebelumnya. Dia abaikan peringatan dari Heru yang menyuruhnya untuk mengundurkan diri pagi ini.
Dengan langkah teratur Risa berjalan dengan dagu terangkat. Langkah kakinya bak model yang sedang berjalan di atas catwalk, begitu menawan dan juga elegan. Beberapa karyawan pria melihat Risa dengan tatapan suka dan penuh minat. Tersenyum, berharap wanita itu membalas senyumannya. Akan tetapi, Risa tak pernah peduli dengan mereka. Bahkan melirik saja pun tidak.
Berani mereka melirikku! Risa terus berjalan ke depan, tak mempedulikan keberadaan orang lain yang berharap senyumannya.
Risa masuk ke falam lift bersama dengan beberapa orang lainnya. Pintu masih terbuka, beberapa yang lain ikut masuk lift untuk mengantarkan mereka ke lantai yang mereka tuju.
Terakhir, seorang pria masuk ke dalam sana. Risa langsung mengalihkan pandangan dengan malas ke dinding lift. Satu ruangan dengan orang ini membuatnya gerah.
Heru berdiri dengan tegak. Sendiri. Para karyawan lain berdiri saling berdempet memberikan ruang yang lebih pada pria dengan status babu tapi juga orang yang di percaya oleh bos mereka. Tangan kanan Gio.
Semua orang seakan menahan nafas saat berada satu ruangan dengan Heru, apalagi ini adalah ruangan sempit. Rasanya menyesal satu lift dengan orang ini, tapi mau bagaimana lagi? Tak bisa menghentikan lift sekarang.
Satu persatu karyawan keluar dari lift di lantai yang mereka tuju. Rasanya lega sekali, bisa menghirup udara bebas setelah sekian detik mereka berada di dalam sana. Entah kenapa aura yang dimiliki Heru hampir sebanding dengan bos dingin mereka.
Kini tinggalah Heru berdua dengan Risa. Tak ada ketakutan sama sekali di dalam diri Risa. Pria ini hanyalah babu. Tak lebih penting dari dirinya yang berstatus sekretaris bos di perusahaan ini. Statusnya lebih tinggi dari pria ini, bukan?
Tak ada yang berbicara sama sekali hingga hanya hening yang membersamai mereka berdua.
Ting...
Lift terbuka di lantai yang mereka tuju. Heru melangkah keluar terlebih dahulu, lalu di susul Risa yang keluar di belakangnya.
Baru tiga langkah, Heru berhenti, menoleh sedikit, lalu dengan gerakan tangannya menarik jasnya ke bawah, merapikan dasinya.
"Surat pengunduran diri. Aku tunggu di ruanganku!" sesingkat itu, lalu Heru pergi meninggalkan Risa.
Risa mencebik kesal, dia menghentakkan kakinya ke lantai. Kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Berdecak dengan kesal.
Siapa pria ini sampai dia berlaku seperti bos besar?!
Tak ingin menjadi kesal. Risa segera pergi ke mejanya, dia melempar tas dengan kasar ke atas kursi. Kedua tangannya berkacak pinggang, menahan amarah di dalam dada. Masih teringat dengan jelas dengan perlakuan pria itu kemarin. Sengaja menurunkan dia jauh dari tempat tinggalnya hingga harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar ongkos taksi.
Risa menatap jam dinding. Lalu menatap pintu ruangan bosnya. Bertemu dengan Gio mungkin akan menjadikannya semangat.
Risa mengetuk pintu, lalu mendorongnya perlahan. Gio tengah berdiri di depan jendela, sedikit terbuka. Seperti sedang merasakan udara pagi hari yang sejuk. Risa selalu terpana melihat Gio yang seperti itu, hanya menggunakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga setengah siku, rambut yang belum tersisir rapi membuat pria ini terlihat cool. Jas tersampir di sandaran kursi.
"Selamat pagi, Pak!" Gio menoleh. Seorang wanita muda dengan senyum mengembang sempurna di bibirnya. Sedikit membungkuk hingga buah dad*nya hampir menyembul keluar, tatapan matanya tertuju lurus pada dirinya.
"Hemmm..." hanya itu jawaban Gio. Seperti biasa membuat Risa kesal. Sepertinya pria ini harus di ajari kosa kata selain 'hemm' atau 'iya'.
"Mau saya buatkan teh seperti biasa?"
Gio membalikkan tubuhnya, bersandar pada jendela. Kedua tangannya ia lipat di depan perutnya. Menatap Risa yang kini telah berdiri dengan tegak. Dari atas hingga ke bawah, dia lihat dengan seksama lalu pandangannya terhenti
"Bagaimana luka kamu? Apa sudah baikan?" tanya Gio.
"Ah ini... sudah agak baikan. Trimakasih, Bapak sudah perhatian dengan saya."
Gio berjalan dengan pelan, menurunkan kedua tangannya dari depan perutnya. Berhenti tepat dua langkah tepat di depan Risa. Menundukkan tubuhnya sedikit, mengecek luka yang ada di lutut Risa. Menyentuhnya dengan pelan. Membuat Risa senang bukan kepalang. Seorang bos seperti Gio merendahkan dirinya untuk melihat luka sekretarisnya. Woww....
"Lalu luka di tangan kamu?" tanya Gio setelah kembali menegakkan dirinya.
Risa mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan bawah sikunya yang sedikit lecet. Kulit putih itu ada luka gerat yang masih berwarna merah.
"Apa ini masih sakit?" tanya Gio seraya mengelus lengan Risa di bagian yang luka, mendekatkan diri dan meniupinya dengan lembut, membuat Risa terdiam membeku. Sungguh tak menyangka jika bos dingin ini ternyata sungguh hangat dan juga perhatian.
Beberapa kali mulut Gio menghembuskan tiupan kecil pada kulit lengan Risa, membuat degup di dada Risa berdegup dengan kencang.
Gio mengangkat pandangannya lalu terseyum kecil menatap mata bulat milik Risa. Risa terpaku, tatapan dan senyuman milik Gio sungguh membuat seakan bumi kehilangan daya grafitasi, membuat atmosfer lenyap sehingga kehilangan oksigen. Dadanya sesak. Senyum Gio sungguh membuatnya sesak nafas.
"Kenapa?" tanya Gio yang tak melihat Risa mengedipkan mata.
"Eh, iya?" Risa balik bertanya.
"Kamu diam saja. Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Gio dengan nada yang lembut, membuat Risa terhanyut. Sungguh bosnya ini tak pernah bersuara selembut ini, bak sutra yang lembut saat menyapu kulit.
Risa masih terdiam. Dia sungguh tak bisa bicara saking senangnya. Dadanya berdegup dengan kencang.
"Hei, are you okay?" tanya Gio. Risa hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan lemah. Banyak pria yang telah jatuh ke dalam pesonanya dan dia permainkan dengan sesuka hati, tapi kali ini justru dia terjatuh dalam pesona pria ini.
"Aku baik!" ucap Risa tak mengalihkan pandangannya dari Gio. Gio tersenyum dengan lebar. Risa sangat bahagia sekali melihat senyuman lebar nan indah mengalahkan sinar mentari pagi.
"Kau sangat cantik sekali pagi ini. Apa yang kau pakai? Wangi!" Gio mengendus rambut panjang Risa yang dia gulung di jarinya. Merasakan aroma yang menguar dari sana, wangi yang lembut, namun sungguh membuat nyaman.
"Eh... Ini. Hanya sampo dari salon. Khusus aku membelinya." jawab Risa. Dia tak bisa mengatur degup jantungnya saat Gio kembali mendekat dan membaui aroma rambutnya. Bahkan kali ini lebih dekat dan lebih lama.
"Aku suka. Dan..." Gio menjauhkan dirinya menatap wajah Risa dengan lamat. "Aku suka rona di wajahmu!" mengusap pipi Risa dengan lembut, membuat Risa semakin menarik senyum di bibirnya.
Risa tersenyum senang, Gio suka dengan dirinya?
"Apa Bapak suka denganku?" tanya Risa memberanikan dirinya.
"Tentu saja. Siapa yang tak suka dengan gadis sepertimu? Cantik. Seksi. Kau menjadi primadona banyak lelaki di perusahaan ini! Dan aku salah sati yang mengagumi mu!" ucap Gio.
"Benarkah?" Gio mengangguk. Gio mengambil pinggang ramping Risa dan menariknya hingga tubuh mereka saling menempel. Risa senang dengan ucapan dan perlakuan Gio. Tak dia sangka jika ternyata bosnya ini suka dengannya. Dasar b*bu menyebalkan! Lihat, Gio saja suka dengan dirinya, kenapa babu itu melarang dia dekat dengan Gio?
Risa mengangkat kedua tangannya, mengalungkannya pada leher Gio.
"Aku juga suka dengan Bapak, sedari pertama kali berjumpa."
Gio tersenyum menatap Risa dengan tatapan penuh kelembutan. Risa mendekatkan dirinya berjinjit untuk lebih tinggi, dia menekan tengkuk Gio untuk lebih rendah. Harusnya dia mengambil gambar untuk bukti di perlihatkan pada Ghea. Tapi masa bodoh. Lebih baik kehilangan jam tangan mahal untuk mendapatkan ikan besar seperti Gio dan lebih dari segalanya, bukan? Dia akan mendapatkan berkali lipat dari itu!