
Aku duduk di kursi sofa tanganku terlipat di depan dada. Nafasku memburu. Aku sangat emosi sekarang!
Devan duduk di sebelahku. Dia terus membujukku untuk makan. Spageti dengan banyak saus dan ada bakso dan juga udang disana.
"Makan dulu." Aku membuang muka ke samping.
"Haah... Kamu sangat keras kepala!" Ucap Devan membuatku mendelik tidak suka. Tahu aku keras kepala, kenapa dia masih suka?
"Anye, dengar! Kita sudah terlanjur melakukannya, aku akan tanggung jawab!" ucap Devan mantap.
"Tapi kamu tunangan kak Mel!"
"Tapi yang aku suka kamu! Kamu tau selama ini aku selalu mengawasi kamu? Aku kirim satu orang untuk selalu ikutin kamu. Dan kejadian semalam itu aku minta maaf, karena penjagaku lalai. Dia kehilangan jejak kamu sampai akhirnya kami menemukan kamu di dalam mobil bersama dia." Devan menyimpan piring di atas meja.
Aku tidak tahu itu!
"Dan aku yakin dia bukan pacar kamu, kamu bohong sama aku waktu itu. Ya kan?"
Hahh, ketahuan!
Aku hanya diam.
"Maaf, soal pertunangan itu aku akan bilang sama mama dan papa, sebelum aku bertemu dengan kedua orangtua kamu."
Aku hanya menggelengkan kepala. Bingung. Itu berarti Devan harus membatalkan pertunangan itu. Sedangkan kak Mel sangat mencintai Devan. Kak Mel bilang kalau dia sampai putus dari Devan dia ingin mati saja.
"Gak bisa Dev. Kak Mel sangat cinta sama kamu. Bagaimana kalau dia coba bunuh diri lagi seperti dulu, waktu dia batal menikah dengan tunangannya dulu?"
"Terus kamu? Bagaimana kalau kamu hamil?"
"Gak mungkin kalau kita hanya melakukannya dalam semalam saja kan?" aku meyakinkan.
"Please kalau kamu buat kak Mel sakit hati dan bunuh diri, aku juga akan melakukan hal yang sama. Biar aku datangi Noval. Dia yang harus tanggung jawab karena udah kasih aku minuman itu. Ini bukan kesalahan kamu Dev, kamu hanya berusaha menolong ku."
Devan menghela nafas kasar dan mengacak rambutnya, dia frustasi dengan sifat keras kepalaku.
Devan berdiri dan berteriak.
"AAAAKKHHH!!!"
"ANYE, AKU GAK TAHU LAGI HARUS BAGAIMANA SAMA KAMU. KENAPA KAMU SANGAT KERAS KEPALA HUHH??!! AKU SANGAT CINTA SAMA KAMU NYE! AKU AKAN TANGGUNG JAWAB DENGAN YANG UDAH KITA LAKUIN SEMALAM. KENAPA JUGA KAMU HARUS SELALU MIKIRIN ORANG LAIN? APA DENGAN CARA SEPERTI ITU KAMU BAHAGIA HUHH?!" Devan membungkuk berteriak tepat di depan wajahku, kedua tangannya mencengkeram sofa. Aku hanya menutup mata tidak ingin melihat kilat matanya saat dia marah. Sangat menakutkan!
"Aku sayang kak Mel!"
Devan menjatuhkan dirinya, berlutut di depanku, lalu memelukku erat. Dia menangis.
"Aku tahu. Tapi please kamu juga harus fikirkan diri kamu sendiri." ucapnya di telingaku.
"Kamu tahu kan, pertunangan ini bukan keinginan aku Nye. Ini keinginan orangtua ku dan papa kamu. Ini semua berawal dari salah faham!"
"Maksud kamu?" aku tidak mengerti.
"Kamu selalu menghindar saat aku ingin menjelaskan." Devan menarik dirinya, mata kami saling bersinggungan.
"Maaf." cicitku.
"Pertama kalinya aku bertemu Melati saat aku menolongnya menangkap penjambret. Waktu itu..."
"Aku sudah dengar cerita yang itu!" ucapku.
"Sampai mana kamu dengar dari Melati?" tanya Devan matanya tidak beralih dariku.
"Sampai kak Mel di terima kerja dan kamu sering antar dia pulang."
"Haahh. Hanya itu?" aku mengangguk.
"Yang benar adalah karena aku melihat kamu di rumah itu."
"Pertama kali aku antar Melati pulang, jalan yang sama seperti aku menurunkan kamu di depan sana. Aku jadi ingat dulu. Bodohnya aku selama kita berpacaran hampir dua tahun aku tidak pernah antar kamu sampai ke rumah. Dan itu karena kamu yang melarang!" Devan memukul keningku pelan dengan telapak tangannya.
"Aku udah cerita tentang papa kan? Dan aku kira kamu tahu bagaimana papa sekarang! Cerita saja tentang kalian, jangan banyak membahas tentang kita dulu!" titahku mulai kesal.
"Boleh aku duduk? Lututku sakit!" mohon Devan. Aku memutar bola mata malas.
"Terserah. Ini rumahmu." ucapku Devan tersenyum lalu dia beringsut dan duduk di sebelah ku. Tapi tidak ku sangka dengan apa yang dia lakukan setelahnya. Dia mengangkat ku dan mendudukan aku di atas pangkuannya.
"Jangan kurang ajar!" ucapku, dia hanya memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Sampai mana tadi." tanya nya. Dia melabuhkan dagunya di atas bahu kiriku.
"Ah ya, sampai jalan depan rumah kan?"
"Kali itu aku masih ingat dengan sangat jalan itu. Sampai Melati menunjuk ke sebuah rumah bercat putih. Dan kamu tahu? Aku lihat kamu disana. Sedang memainkan hp di atas bangku di teras samping. Aku terkejut karena kemudian aku tahu kamu adalah adik Melati."
"Karena alasan itulah aku menerima dia bekerja dan sering mengantar dia pulang. Hanya untuk melihat kamu duduk disana. Tapi Melati kemudian salah faham dia kira aku suka sama dia. Padahal aku juga tidak pernah menyatakan apa-apa padanya." Devan menghela nafas berat, tangannya meremas tanganku lembut, memainkan jari-jari tanganku.
"Sampai suatu ketika saat aku dan Melati tidak sengaja bertemu saat jam makan siang di kafe, kami makan bersama. Hanya berdua. Dan saat itulah papaku dan papa kamu, juga sedang ada disana. Mereka ternyata sudah bersahabat sejak lama. Dan mereka lalu sepakat untuk menjodohkan kami. Mereka kira kami punya hubungan spesial." Devan memelukku dari samping dengan erat.
"Tapi aku gak pernah cinta sama Melati. Tidak bisa Anyelir! Cuma kamu! Kamu cinta yang sesungguhnya buat aku walaupun kamu bukan yang pertama, tapi kamu yang sudah buat aku berubah banyak. I swear! Walaupun Kamu selalu berteriak dan jutek, dingin dan tidak berperasaan, tapi kamu segalanya, sayang." ucapnya. Aku sedikit kesal dengan ucapan Devan yang terakhir, tapi jujur perkataannya membuat aku melambung. Tapi lalu, aku kembali teringat Kak Melati.
"Aku harus pulang Dev, aku juga lupa gak kasih kabar sama mama. Pasti mama khawatir karena aku gak pulang semalam." Aku mencoba melepaskan tangan Devan yang masih melingkar.
"Aku udah chat mama, aku bilang kamu menginap di rumah Nanda."
Aku menoleh menatap Devan.
"Kamu tahu Nanda?"
"Aku tahu segalanya tentang kamu! Bahkan dengan para cecunguk yang mendekati kamu aku juga tahu!"
"Dasar penguntit!" Devan terkekeh.
"Kalau begitu awas, aku mau ketemu Noval!"
"Mau apa lagi?"
"Kamu beneran pikun? Ya aku minta tanggung jawab dia lah!" ucapku dengan nada tinggi.
"Kamu gak akan bisa ketemu dia di rumahnya. Aku sudah kirim dia ke rumah sakit semalam!"
"Hah?" Devan menampilkan senyum devil nya. "Maksud kamu..."
"Dia babak belur di pukul bawahan aku. Beruntung nyawanya masih selamat!"
Dasar Devan gila!
"Aku masih waras sayang. Sangat waras!" ucapnya sambil mencium pipiku.
Ish. Dasar mesum!
"Cuma sama kamu! Aku gak pernah mesum sama orang lain! Setidaknya terakhir kalinya aku cuma mesum sama kamu. Dan jangan ungkit kemesuman aku sebelum ketemu sama kamu. Aku pria yang bobrok dulu!"
"Kamu bisa baca fikiran aku?" tanyaku sedikit takut.
"Enggak! Tapi karena kita sehati jadi aku bisa tahu apa yang kamu fikirkan!" Lagi dia menciumku pipiku beberapa kali.
"Dasar gombal! Awas!!" Aku hendak bangkit, dia tetap menahanku.
"Udah aku bilang kan, aku udah chat mama, dan aku juga udah kirim dia ke rumah sakit. Mau kemana lagi?"
"Mau menghindar dari singa jantan!" Devan menjauhkan wajahnya, keningnya mengkerut, bingung.
Aku memutar bola mata malas. Ternyata selain bucin akut dia juga bodoh!
"Lepaskan aku Dev. Kamu gak ngerasa apa belut kamu berontak di bawah bokongku?"
Devan hanya membentuk bibirnya bulat.
"Lagi?"
"Apa?"
"Seperti yang semalam!"
"Dalam mimpi!" Devan memberengut. Aku segera beranjak dari atas pangkuannya. Lagi-lagi Devan menahanku dan memeluk aku erat.
Kalian fikir kami melakukannya lagi?
Tidak!
Tapi Devan menyuapiku. Selalu seperti itu. Dia selalu memanjakan aku.
***
Jangan lupa dukungannya ya...