
Sampai di apartemen Devan.
Aku duduk di tepi ranjang mengeluarkan kotak yang mama berikan padaku dari dalam tas sekolah. Sebuah kotak kayu dengan ukiran yang indah. Khas sekali.
Terkejut dengan isi di dalam kotak itu. Sebuah kalung dengan liontin tiga huruf yang terukir indah. ADM, mungkin saja Anyelir Dewi Maharani, namaku?
Ku pandangi foto ibuku. Mirip sekali denganku, dia tersenyum bahagia menggendongku. Tak terasa air mataku meleleh, bibirku tersenyum, hanya saja otakku penuh tanda tanya. Dimana ibuku? Apakah dia masih ada? kenapa aku bisa bersama dengan mama Linda? Lalu kenapa orang lain bilang kalau mama wanita penggoda?
Dan banyak lagi pertanyaan yang lain di dalam otakku hingga aku tidak sadar kalau ada seseorang yang memperhatikan dari arah pintu.
"Sudah pulang?" tanyaku sembari menghapus air mataku. Devan kemudian mendekat, menyimpan jasnya di atas kasur, dan melabuhkan kecupan di keningku.
"Baru saja. Pasti belum makan?" tebak Devan. Aku tersenyum meringis.
"Aku gak sabar pengen ketemu mama, jadi tadi dari sekolah langsung pulang, tapi di kantin aku makan kok." membela diri, tapi kenyataan kalau aku makan bakso tadi.
"Nasi?" aku menggeleng dengan senyuman memperlihatkan deretan gigiku.
"Bakso." terangku. Devan menghela nafas berat.
"Ya sudah, ayo makan. Aku akan masak!" Devan menatap benda yang aku pegang.
"Ini dari ibuku." terangku. Devan mengangguk dan tersenyum lalu mengambil kalung itu dan memakaikannya di leherku.
"Cantik!" pujinya. "Ayo makan, atau mau makan di luar?"
"Masih kenyang, Dev."
"Tapi kamu harus makan." titah Devan sambil menarik tanganku ke pantry.
Devan membuka kulkas, berjongkok dan berfikir sebentar, lalu menoleh ke arahku. "Kamu mau di masakin apa? Ayam, udang, atau kepiting?" tanya Devan. Ya, selama ini Devan lah yang selalu masak untukku. Aku sama sekali tidak di perbolehkan memasak, dan karena aku juga tidak bisa memasak. Memalukan aku kalah dengan pria 🙈🙈🙈.
"Aku mau kue." cicitku.
"Oke! Aku akan minta Seno belikan, mau kue apa?" tanya Devan siap dengan hp di tangannya.
"Kita ke toko kue saja. Aku mau pilih sendiri." ucapku.
"Oke, tapi ganti baju dulu, sana?"
Segera aku mengganti baju dengan cepat dan kembali keluar, tak lupa dengan sedikit make up tipis dan lipstik. Devan menilik penampilanku dari atas sampai ke bawah.
"Honey, aku gak setuju kamu masih pakai jeans. Ganti!" titahnya smbil menunjuk ke arah kamar.
"Kenapa sih?" aku bingung.
"Honey, sayang. Perut kamu tertekan."
"Tapi aku gak pa-pa kok, Dev." protesku.
"Iya kamu gak pa-pa, tapi bagaimana dengan anakku?! Kamu juga harus perhatikan anak kita, Hon. Please." pintanya. Aku sedikit sebal. Devan terlalu banyak mengaturku sekarang, Memangnya kenapa sih? Perutku juga masih terlihat rata kok!
Sambil mengganti celana aku terus menggerutu dengan sikap Devan yang terlalu lebay. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Jangan makan ini, jangan makan itu. Pakai baju ini, jangan pakai itu. Dasar! Aku rindu kehidupan ku yang lama...
Devan tersenyum saat melihatku telah mengganti pakaian. Kaos putih berlengan panjang dengan kerah leher tinggi yang ku masukkan ke dalam rok model maxi berwarna navy. Tas pinggang warna biru muda dan sepatu kets warna putih. Dan satu lagi, kaca mata hitam yang sekarang ada di atas kepalaku.
"Sebenarnya aku benci melihat kamu cantik seperti ini."
"Kok benci?" tanyaku marah. Bisa-bisanya dia membenciku, setelah hidupku seperti ini. Kenapa tidak dari kemarin saja bilang seperti itu?
"Aku benci karena pasti akan ada banyak pria yang melirik kamu!" Aku memutar bola mata malas. Dasar posesif!
Devan merengkuhku dalam pelukannya dan menciumi puncak kepalaku beberapa kali.
"Dev, stop deh, kamu tuh terlalu berlebihan!"
"Karena aku takut kamu hilang dari aku Anye. Aku gak mau pisah lagi sama kamu seperti dulu. Aku gak tahu kalau kamu pergi lagi, aku pasti akan gila!" ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Hei, yang pergi kan kamu bukan aku!" dengusku tidak suka. Benar kan, pada kenyataannya kalau dia yang tidak memperjuangkan aku. Dan dia yang pergi jauh sebelum dapat maaf dariku. Satu kecupan hangat berlabuh di keningku.
Oke aku juga keterlaluan saat itu. Tapi sekarang, taukah kamu Dev, kalau ada yang sedang menanti perpisahan kita, bahkan sebelum kita bersatu. Dan yang menginginkan hal itu adalah kak Mel dan mama. Dan apa masih ada lagi?
"Dev, ayo berangkat!" aku mendorong dada Devan. Devan terkekeh melihat ku cemberut. "Jangan bahas masa lalu, aku gak suka. Yang harus kita bahas adalah masa depan kita. Bagaimana kita akan menghabiskan masa bahagia kita berdua sampai nanti kita berpisah..." upss!!
Kening Devan mengkerut. "Pisah? Memangnya kamu mau kemana? Kamu ada rencana ninggalin aku?" Devan meradang. Memegang kedua bahuku sedikit keras. Wajahnya mengeras.
Gawat! Aku salah bicara!
"Maksudku sampai tua lah! Sampai takdir memisahkan kita."
"Aku harus senang atau tidak kamu bicara seperti itu. Tapi kamu seperti yang akan jauh saja dari aku. Kamu seperti yang mau meninggalkan aku Nye!"
"Hei, marah?"
"Tentu aku marah! Aku gak suka kamu bicara soal perpisahan!"
"Maaf, tapi kan kita gak tahu bagaimana masa depan kita. Aku gak tahu apakah saat melahirkan nanti aku selamat atau tidak."
"Sudah Anye, stop. Jangan bicarakan itu lagi aku gak suka!" Aku terdiam melihat raut wajahnya yang kesal. Devan terdiam dengan nafas memburu.
"Kenapa malah jadi debat? Mau jadi berangkat tidak? Aku lapar!" cicitku dengan raut wajah seimut mungkin, biasanya ini akan berhasil jika Devan sedang kesal. Dan benar saja. Raut wajah Devan kembali seperti semula. Syukurlah!
"Ya sudah ayo!"
Kami langsung menuju toko kue langganan orang tua Devan, sekalian Devan juga ingin berkunjung ke rumah mama dengan bawa kue kesukaan mereka. Itu berarti aku akan bertemu mama lagi. Huft...
Sepanjang perjalanan menuju kediaman calon mertuaku, Devan terus bercerita tentang bagaimana kedua orang tuanya. Meskipun mereka sibuk karena urusan bisnisnya tapi Devan tidak pernah lupa dengan kasih sayang mamanya. Bagaimana kedekatan mereka dulu. Kadang Devan tertawa saat tengingat hal yang lucu yang pernah mereka lakukan di masa lalu. Depan begitu mengagumi sosok mamanya.
Bagaiamana perasaan Devan nanti, kalau dia tahu mamanya ingin aku pergi? Apa Devan akan marah? Apa Devan akan membenci mama? Aku tidak mau membuat Devan durhaka pada kedua orangtuanya. Haruskah aku bilang apa yang mama bicarakan kemarin? Ancaman mama yang akan membuat celaka dan membalikan usaha papa, ah... pilihan sulit!
"Honey, kenapa melamun?" suara Devan membangunkanku dari lamunan.
"Ah tidak apa-apa. Dev, nanti di rumah mama jangan lama-lama ya."
"kenapa?"
"Sebentar lagi aku kan ujian. Aku mau belajar."
"Oke, kita cuma sebentar. Setelah memberi ini pada mama kita langsung pulang."
Fiuhhh... selamat! Aku tidak mau berlama-lama disana. Terbayang sudah aura hitam angker seperti kandang siluman... OMG, aku sudah mengumpati calon mertuaku siluman? Dasar menantu durhaka!
Sampai di rumah mama.
Wajah mama berseri menyambut kedatangan kami. Memeluk Devan.
"Dev, kamu gak telfon mau kesini."
"Iya ma, dadakan. Anye tadi ingin kue, sekalian saja beli kue kesukaan mama." ucap Devan dengan mengangkat bungkusan kue di tangannya.
"Anye, apa kabar calon menantu mama?" beralih memelukku.
"Jangan kamu kira saya akan luluh dengan hal seperti ini!" bisiknya di telinga membuatku merinding. Lalu melepas pelukanku, terlihat senyum indah mama tersungging di bibirnya.
"Anye baik, ma."
Lalu mama membawa kami ke dalam rumah. Mama selalu menempel denganku, membuat aku risih. Memberikan perhatian padaku layaknya pada anak sendiri, bahkan menyuapiku kue.
"Ini sayang, buka mulut kamu. Ini kue yang paling mama suka dari segala kue." ucap mama sambil menyodorkan sepotong kue di tangannya, entah kue apa namanya, tapi memang enak. Aku mengunyah kue itu dengan pelan. Seandainya saja yang mama lakukan ini tulus pasti aku akan bahagia, tapi ini mama lakukan hanya untuk menyiksa perasaanku.
"Bagaimana, Anye. Enak bukan?" tanya mama.
"Iya ma, enak." Devan tersenyum melihat interaksi kami.
Kami hanya tiga puluh menit disini, tapi aku merasa seperti sangat lama. Akhirnya kami pamit, tentu aku yang mengajak Devan karena alasan ku harus belajar.