
Keesokkan harinya.
Gio benar-benar membawa Tiara ke apartemennya. Tiara dengan terpaksa menjalankan perannya ganda. Asisten di kantor, dan asisten rumah tangga. Menyedihkan!
Gio tersenyum tipis melihat Tiara yang hanya patuh menyapu dan mengepel sedangkan dirinya hanya duduk diam sambil menonton tv.
Lelah sudah pasti. Tapi Tiara harus semangat dalam bekerja. Ingat jika bukan dirinya sendiri siapa lagi yang akan menghidupi dia dan ibunya? Tidak ada orang lain yang bisa di andalkan. Bahkan kakaknya tidak tahu berada dimana. Lepas dari tanggung jawab!
"Tiara, aku lapar. Tolong masak ya!" Gio mengambil hpnya lalu pergi ke dalam ruangan kerjanya.
Tiara mendecih sebal. Tiara tolong ini. Tiara tolong itu. Ini belum bersih. Ini belum rapi.
Dasar! Ingin mengumpat tapi apalah daya. Tak ingin di pecat.
Tiara menuju ke dapur. Ini sudah jam setengah delapan malam. Dia harus bisa menyelesaikan pekerjaannya dan pulang sebelum jam sembilan. Tadi dia telfon pada ibunya akan pulang telat dengan alasan lembur. Ya dia tidak bohong. Memang ini juga lembur, kan?
Gio keluar dari ruangan kerjanya. Wangi masakan menguar saat dia menuju ke arah pantry. Dapur minimalis yang bisa ia lihat dari segala arah itu memperhatikan bagaimana seorang Tiara memasak dengan lincahnya. Gio duduk di kursi tangannya terlipat didepan dada. Kepalanya miring menatap punggung Tiara dengan lekat.
Tiba-tiba saja dia terfikirkan sesuatu tentang hubungan yang lebih dari sekedar asisten dengan Tiara. Hubungan dengan komitmen!
Gila! Kenapa jadi memikirkan itu?! Gio menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Saya cuma masak ini. Gak bisa masak yang istimewa. Kalau bapak suka dengan masakan western lebih baik bapak pesan saja dari restoran!" ucap Tiara memberikan sepiring nasi hangat dan juga beberapa potong ayam dengan bumbu berwarna merah di piring yang lain.
"Saya tidak pernah pilih-pilih makanan." ucap Gio lalu mengambil sendok dan mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Tidak buruk juga, walaupun masih jauh dari rasa masakan koki di rumah Mama Anye. Gio terus makan tanpa bicara. Dia sangat lapar!
"Kamu gak makan?" tanya Gio pada Tiara yang sedang mencuci bekas masaknya.
"Gak ah, nanti saja di rumah sama ibu." Jawab Tiara. Gio tertegun. Dia tidak tahu bagaimana ibunya, bagaimana rupanya, dimana ibunya, mungkin kah wanita itu masih ingat padanya? Anaknya?
"Pak. Kalau makan jangan melamun!" tutur Tiara. Dia sudah selesai dan mengelap tangannya dengan serbet bersih.
"Saya tidak melamun. Hanya sedang berfikir."
"Sama saja! Apa bedanya?!" Tiara duduk di depan Gio dan minum kopi susu yang tadi ia buat. Sudah dingin.
"Jangan terlalu banyak minum kopi. Nanti lambung kamu sakit!" Gio mengingatkan.
"Sudah kebal!"
"Cih sudah kebal. Kemarin buktinya sakit perut!" Wajah Tiara memerah mengingat kejadian kemarin setelah makan malam. Gio tertawa kecil lalu kembali makan.
"Itu kan karena siapa juga, aku jadi kelaparan dan kalap!" Tiara kesal.
Gio tertawa sambil mengunyah makanannya.
"Kamu sih bandel. Sudah di kasih tahu, terus saja makan!"
"Hehe... " Tiara nyengir saja.
"Saya pulang ya, Pak. Pekerjaan sudah selesai semua. Baju tinggal bapak jemur saja besok. Dan ini bisa bapak masukkan ke dalam microwave atau bapak hangatkan di kompor juga bisa." Tiara menjelaskan.
"Temani saya sebentar lagi. Nanti saya antar kamu pulang."
"Sudah saya antar saja. Wanita pulang malam-malam bahaya." ucap Gio. dia meneruskan makannya yang tinggal beberapa suap lagi.
"Kalau begitu ya tidak usah suruh saya kesini buat bersihkan tempat bapak sepulang kerja." lirih Tiara lalu menyesap kopinya dengan santai.
"Hem? Apa?" tanya Gio.
"Hehe... Tidak!" Tiara hanya tersenyum melihat tatapan Gio. Tatapannya mulai menakutkan!
"Oke kalau begitu kamu tidak usah kesini lagi sepulang bekerja." ucap Gio membuat Tiara hampir bersorak. "Tapi kamu harus kesini buat bersih-bersih di akhir minggu."
Tidak jadi bersoraknya! Tiara lesu. Masa hari libur harus tetap kerja juga!
"Tidak jadi. Enak saja. Hari libur kan aku mau rebahan manja, Pak. Masa harus kerja juga." ucapnya tak suka.
"Ya itu terserah kamu. Mau sepulang bekerja dan kamu bisa santai di hari libur, atau pulang tepat waktu, tapi hari libur kamu harus seharian ada disini!" tunjuk Gio tepat di hidung Tiara.
Menyebalkan! Tiara menghabiskan kopinya dan menyimpan gelasnya dengan kasar di atas meja. Gio mengulum senyum kemenangan.
"Maaf, Pak. Tapi kalau saya terlalu sering kesini, tidak baik. Takutnya istri bapak cemburu lagi dan sangka saya pelakor. Tapi ngomong-ngomong kemana istri bapak? Kok gak kelihatan?" tanya Tiara yang membuat Gio tersedak di antara makannya.
Gio segera menyambar minuman yang ada di dekatnya.
"Istri? Istri apa?" tanya Gio bingung.
"Bapak sudah nikah, kan?" tanya Tiara, ikut bingung, dong!
Gio masih terdiam. Masih bingung.
"Tuh, foto bapak yang sama wanita." ucap Tiara.
Gio mencoba mengingat.
Astaga! Apa mungkin foto yang itu!
Dia tidak pernah punya foto dengan wanita lain selain dengan dia!
Gio tiba-tiba berdiri dan pergi begitu saja ke ruang kerjanya. Tak lama dia kembali dengan foto kecil di tangannya.
"Ini?" tanya Gio. Tiara mengangguk. Betapa bagahagianya Gio dengan wanita itu. Senyumnya lebar, tak pernah Tiara melihat senyum selebar itu dengan mata berbinar. Gio pernah sih tersenyum lebar, tapi waktu itu, waktu mereka terciduk oleh Axel. Tapi waktu itu senyumnya terlihat menakutkan!
"Itu cuma mantan. Dia sudah sama orang lain."
Upsss. Jadi selama ini Tiara salah sangka.
"Masih suka, Pak? Masih di simpen aja foto dia. Kalau saya nih, Pak. Di tinggal mantan mah, mau saya bakar saja semua barang yang dia kasih. Saya buang tuh semua yang mengingatkan tentang dia. Apa di simpen-simpan segala. Gak guna! Malah yang ada bikin hati sakit, kan?!" ucap Tiara. Sok tahu. Padahal belum pernah pacaran dia!
"Kamu lakukan itu?" tanya Gio. Tiara menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Saya belum pernah pacaran, Pak. Hehe..." senyum Tiara malu.
Gio melengos kesal. Dia kira Tiara berkata seperti itu karena dia pengalaman. Ternyata .... Anak bawang!