DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 27



Hari ini terpaksa aku ikut dengan Devan dan kak Mel. Tidak bisa mencari alasan lagi untuk pergi sendiri ke sekolah. Aku memakai masker dan dalam mulutku mengemut permen lemon. Aroma pengharum mobil milik Devan membuatku mual.


"Anye kamu sakit?" tanya Kak Mel dari depan.


"Enggak kak. Cuma mungkin mau flu jadi hidung aku gatel!"


"Kamu sudah minum obat?" Kali ini Devan yang bertanya.


"Sudah." Lalu aku berpura-pura sibuk dengan hpku. Kak Mel dan Devan mengobrol entah tentang apa, aku tidak ingin tahu tepatnya.


Mobil sudah sampai di gerbang sekolah. Sofia dan Edgar juga baru sampai disana.


"Makasih Kak Devan. Kak Mel, Anye masuk dulu ya." pamitku.


"Iya, kalau kamu tidak enak badan nanti minta ijin pulang ya." Kak Mel sangat perhatian padaku, tapi aku...ya ampun! Melihat ayah dari calon anakku duduk di sampingnya...Hahh lucu! ayah dari calon anakku?!


Apa yang harus aku perbuat? Bukankah aku jahat?!


Aku mendekat ke arah Sofia. Edgar tersenyum manis seperti biasanya. Tangannya sudah terjulur pasti akan mengacak rambutku! Benar! Dasar! Tapi ada sesuatu yang aneh, kali ini aku merasa suka dengan sentuhan tangannya di rambut ku.


Aku dan Sofia masuk ke dalam area sekolah, mobil Edgar pergi lalu di susul mobil Devan. Jadi sedari tadi Devan belum pergi? Ah sudahlah. Masa bodoh!


Waktu istirahat tiba. Aku sangat lapar. Kali ini aku ingin makan batagor saja. Makanan dengan bumbu kacang ini dengan mudahnya aku telan, tidak terasa mual saat melewati tenggorokan.


"Tumben Nye batagor!" Nayara menunjuk dengan garpu di tangannya.


"Bosan bakso terus!" Aku makan dengan sangat lahap. Hingga lebih cepat habis daripada ketiga yang lainnya. Melihat ke arah lain, jus stroberi milik Nanda sangat menggoda. Segera aku sambar gelas itu dan meminumnya. Nikmat!


"Ih, Anye punya gue!" Nanda berseru.


"Hehe, nyobain kayaknya enak gitu!" Aku mengembalikan gelas miliknya.


"Ish nyobain tapi dah mau abis!" rutuknya.


"Gue pesenin lagi yang baru deh!" ucapku sambil mengambil lagi gelas yang tadi, dan tanpa dosa dan rasa bersalah menghabiskan sisanya.


"Trus ini?" tunjuk Nanda pada jus alpukat milikku. Aku mengangkat kedua bahuku.


"Ya udah ini buat gue aja. Mubazir kalau gak ada yang minum. Tumben amat lo!" ucap Nanda lagi. Aku hanya menyengir ria.


Ya tumben, apa mungkin ini bawaan bayi? Ish apa sih?!


Aku tersadar saat Nayara melambaikan tangannya di depan wajahku.


"Di ajak ngobrol juga, malah bengong!" semua menatapku.


"Eh ada apa?" tanyaku bingung.


"Minggu depan nginep di rumah gue! Mami sama papi berangkat ke LA. Bang Ed juga mau nginep di rumah temennya. Ya?" ujar Sofia. Setelah menimbang-nimbang sebentar...


"Oke lah. Tapi gue nanya mama dulu!" ucapku.


"Sip!"


Makanan sudah habis kami kembali ke kelas. Selama dalam pelajaran aku memakai masker. Ada beberapa aroma yang membuatku mual. Termasuk parfum Sofia.


Jam pulang sekolah. Seperti biasa yang lain sudah pulang dan aku menunggu di halte. Tak lama bis datang, aku segera naik bersama beberapa orang yang menunggu.


***


Aku duduk di atas kloset yang tertutup. Perut ku sakit, lagi-lagi makanan yang tadi pagi aku makan dengan susah payah dan sedikit baru saja keluar lagi. Benar-benar ini sangat menyiksa. Apa mungkin mama juga merasakannya saat mengandungku dulu? Aku makin sayang mama...


Keluar dari toilet aku memilih untuk duduk di kelas. Yang lainnya sedang ke kantin. Lebih baik aku berbaring saja di kursi. Kepalaku sakit... ya ampun!


Aku memasang headset di kedua telingaku, memutar lagu korea, lalu berbaring di atas tiga kursi yang aku bariskan. Beberapa detik kemudian aku terlelap.


"Anye! Bangun!" suara Nanda terdengar pelan, dia juga menggoyangkan bahuku. Masih mengantuk aku bangun dari pembaringanku.


"Hoaaammm..., Apa sudah masuk?" tanyaku. Melihat sudah banyak murid yang masuk ke kelas.


"Sebentar lagi. Cuci muka sana biar fresh! Lima menit lagi bel masuk. Ini aku bawakan roti."


Ah Nanda memang sahabat terbaik!


"Mana yang lain?"


"Tadi Sofia ketemu dulu sama Ariel, dan si Nay, gak tahu kemana." ucap Nanda sambil mengembalikan satu kursi dari meja sebelah.


Aku membuka bungkusan roti itu. 'Selai strawberi', aku merasa girang melihatnya, segera aku memakannya dengan lahap, Nanda hanya memperhatikan aku makan seperti orang yang kelaparan. Memang aku sedang lapar!


Seseorang melewatiku, seketika perutku serasa di aduk saat mencium wangi parfumnya. Aku menutup mulutku dengan satu tangan, lalu berlari keluar kelas, meninggalkan Nanda dan roti yang tinggal setengah.


"Anye!!" teriak Nanda, tapi tidak aku hiraukan.


Tersiksa. Itu yang aku rasakan sekarang. Perutku sakit, tenggorokanku juga! Air mataku meleleh seketika.


tok. tok.


"Anye!" suara Nanda berseru dari luar sambil mengetuk pintu.


"Kamu kenapa?"


"Aku gak pa-pa Nan. Kamu ke kelas aja dulu!" seruku lalu kembali menunduk mengeluarkan rasa pahit dari mulutku.


"Nye, buka pintunya?" Nanda masih menggedor pintu.


Aku mengambil tisu dari dalam saku bajuku dan mengelap mulutku lalu membuka pintu, ku lihat Nanda dengan wajah khawatir.


"Anye kamu sakit?"


"Gak pa-pa kok." kataku. "Aku cuma lagi gak enak badan kayaknya masuk angin!" ku berikan senyuman pada Nanda.


Kami pun kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran sampai waktunya pulang sekolah.


Sore ini aku berniat untuk ke klinik kandungan, hanya untuk memastikan. Di dalam dompet aku haya punya lima ratus ribu. Aku tidak tahu berapa uang yang akan aku keluarkan nanti, maka untuk berjaga-jaga aku pergi ke atm untuk mengambil uang dari kartu yang di berikan Devan dulu.


Melihat dari banyaknya nominal di layar itu. Ah Devan memang benar-benar kaya! Aku senang dia sukses.


Sampai di klinik, aku ragu dan malu. Sengaja aku memilih klinik yang jauh dari rumah dan sekolah. Beruntung hanya ada satu orang yang menunggu di luar. Segera aku mendaftarkan diriku.


Ya ampun, kenapa mendaftar seperti ini juga banyak pertanyaan sih? Nama suami juga? Kapan terakhir aku mens. Aku benar-benar malu!


Setelah beberapa pertanyaan dan di catat akhirnya aku menerima sebuah kartu kecil dan menunggu sebentar.


Aku duduk di sebuah halte, tertegun melihat hasil USG. Enam minggu, janin yang ada di dalam perutku. Aku tidak menyangka akan hamil dan menjadi ibu di usia yang sangat muda. Ah masa depanku, bagaimana ini? Dan keluargaku?


"Anye!" panggil seseorang.