DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Go. part 99



"Sepertinya kita harus memebeli wajan baru." ucap Tiara menyimpan dengan kasar wajan diatas wastafel. Tangannya juga sudah pegal. Kesal.


Gio tersentak. Dia tersadar dari lamunannya yang entah sudah darimana.


"Eh, oh. Iya. Mari kita beli wajan baru." Gio bangkit dan menyimpan alat pel bersandar pada dinding, dia lantas menarik Tiara ke arah pintu.


"Eh... Pak.." Tiara terkejut. Dia memang bilang harus membeli wajan baru, tapi gak sekarang juga kali!


Sampai di pusat perbelanjaan. Gio turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Tiara. Tapi gadis itu belum juga mau turun.


"Ayo turun!" titah Gio.


"Tidak mau!" Tiara bertahan di kursinya. "Bapak gak lihat atau pura-pura gak lihat sih? Masa saya keluar pakai baju yang seperti ini?" protes Tiara.


Gio memperhatikan Tiara dari atas sampai ke bawah. Mendapat tatapan seperti itu dari bosnya Tiara risih juga. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Jangan lihat segitunya juga kali!" cerca Tiara dengan mata yang melotot pada Gio.


Gio terdiam. Benar juga. Kenapa aku gak sadar kalau dia palai baju seksi seperti itu?


Gio kembali duduk ke belakang kemudi. Dia mengambil hp dan menghubungi seseorang.


"Antarkan aku gaun dan sebuah sepatu." klik, panggilan di akhiri. Tiara tak mengerti siapa yang Gio hubungi. Orang kaya memang beda. Bisa mendapatkan semua hal hanya dengan menggunakan jarinya.


"Bapak itu keterlaluan! Masa mau bawa aku ke pusat perbelanjaan pakai baju kayak gini? Mau aku jadi tontonan banyak orang?" cerca Tiara kesal.


Gio tak peduli, dia hanya diam, tak mengerti dengan fikirannya. Bagaimana dia bisa menurut begitu saja saat Tiara mengatakan harus membeli alat masak baru? Padahal dia bisa menuruh seseroang untuk mengganti semua peralatan atau apapun itu.


Selang sepuluh menit. Seseorang mengetuk jendela kaca mobil. Gio menurunkannya sedikit, sebuah paper bag di sodorkan dari luar oleh seseorang entah siapa itu. Tiara tidak bisa melhatnya meski dia sangat penasaran.


"Ini. Ganti baju kamu." Gio menyerahkan paper bag ke tangan Tiara. Tiara melihat isinya. Kain dengan warna soft pink? Dia tidak terlalu suka dengan warna ini, tapi sudahlah!


"Kamu usir aku??" tanya Gio tak suka. Berani-beranimya gadis ini mengusirnya.


"Iya, Bapak keluar. Aku akan ganti baju disini."


"Kenapa tidak ke toilet?"


"Bapak gak lihat ini dimana? Kalau ke toilet paling tidak harus kelantai satu. Sana keluar!" Dia menggerakkan dagumya menyuruh Gio keluar dari dalam sana sekali lagi.


"Iyaa..." kesal sebenarnya. Tapi bagaimana lagi.


"Jangan ngintip!" cerca Tiara.


"Memangnya aku ini tukang ngintip?"


"Ya.. siapa tahu saja. Mata laki-laki kan tidak bisa dijaga!" ucap Tiara ketus.


Gio keluar. Dia menunggu Tiara di luar mobil, bersandar pada pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Satu menit.


Dua menit...


Lama...


Gio mengulurkan tangannya meraih spion dan mengubah arah spion ke rah dalam, mencoba untuk mngecek apakah Tiara sudah selesai mengganti bajunya atau belum.


Sial! Tidak terlihat apa-apa di dalam sana. Kaca jendela ini gelap jika dari luar tak isa melhat ke dalam kecuali harus mendekatkan wjah di permukaan jendela. Msa iya dia akan melakukan hal itu? Yang ada Tiara akan marah jka dia terang-terangan mengecek kedadaan di dalam.


(Itu bukan mengecek Bang, tapi MENGINTIP!)