DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 26



Sudah beberapa hari ini badanku terasa lemas. Mungkin efek terlalu lelah berenang tiga hari yang lalu. Salahku karena aku tidak pernah berolahraga dengan benar! Malas!


Seperti biasa hari ini aku berangkat dengan menggunakan bis, terlalu canggung bersama dengan kak Mel dan Devan!


Aku mengeluarkan permen lemon dan memakannya. Akhir-akhir ini aku tidak bisa tidur dengan benar, dan mengakibatkan aku selalu mengantuk dan badanku lemas. Aroma menyengat juga membuat kepalaku pusing.


Sampai di sekolah.


"Anye, kamu sakit?" Nanda baru saja sampai. Aku yang menelungkup di atas meja mengangkat kepalaku.


"Enggak, cuma ngantuk aja."


"Makanya jangan kebanyakan nonton drakor!" ucapnya lalu duduk di kursinya. Tak lama yang lain datang dan setelah itu guru kami juga datang ke kelas. Kami mulai pelajaran.


Siang saat istirahat aku lebih memilih tidur di kelas. Rasanya sangat malas, enggan untuk ke kantin. Beberapa hari ini aku juga kurang sehat, mungkin masuk angin. Perutku mual. Ah Ini pasti efek terlalu lelah berenang! Aku juga tidak melakukan pemanasan sebelumnya.


Aku berlari ke kamar mandi, sama seperti tadi pagi dan beberapa hari ini aku selalu muntah, tapi tidak ada yang aku keluarkan, hanya cairan bening, dan sesekali terasa pahit! Terkadang air mataku menetes akibat rasa linu di perutku. Tentu saja, karena aku tidak makan apa-apa dari kemarin. Rasanya agak gimana gitu lihat nasi. Bulir-bulir nasi yang membuatku merasa geli melihatnya dan saat memakannya tenggorokanku menolak!


Aku mencuci muka sebelum keluar dari kamar mandi.


"Anye, kebetulan kamu disini!" seru Nanda mendekat ke arahku yang masih di wastafel.


"Ada apa?" tanyaku.


"Pinjem pembalut dong! Minta ding bukan pinjem. hehe." Nanda memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Aku gak bawa. Belum da-pat." seketika aku menjadi takut.


"Tumben biasanya kamu duluan." Nanda memberengut, sesekali dia bergerak tidak nyaman.


"Hehe, gak tau juga. Akhir-akhir ini mungkin karena stress jadi siklusnya gak bener!" ucapku.


"Maklum lah, sebentar lagi kan ujian akhir. Stress karena kebanyakan belajar." Nanda mengangguk membenarkan.


"Ya udah aku ke kelas deh, mungkin si Nay punya." ucap Nanda.


"Oke, aku sakit perut masih mules." dustaku yang benar adalah aku merasa mual kembali. Nanda keluar menuju kelas dan aku kembali masuk ke toilet. Mencoba menahan suara ku agar tidak terdengar keluar dan membuat heboh.


Aku mengelap bibirku dengan tisu. Bersandar di dinding. Badanku lemas. Kepalaku juga terasa pusing, pandanganku berputar.


Jangan sampai aku pingsan! batin ku.


Aku menguatkan diriku, dan berjalan keluar. Membasuh wajahku lagi.


Kembali aku mengeluarkan permen lemon dan memakannya. Lumayan, lebih baik!


"Apa mungkin aku..." gumamku pelan sambil memegangi perutku.


"Ah tidak, aku hanya masuk angin!" aku mensugesti diriku sendiri.


Kami hanya melakukannya satu malam itu, tidak mungkin segampang itu kan? batinku.


Aku bersandar pada dinding. Menyalakan hpku dan menyambangi mbah google. Meluncur dengan pencarian kata HAMIL. Um...gejala maksudku! Tapi tidak, ini bisa saja karena lambungku sedang kumat kan? Aku tidak makan nasi sejak tiga hari ini, dan hanya makan bakso, atau batagor dengan banyak sambal. Bisa jadi aku mual, muntah dan pusing karena asam lambungku kumat!


Tapi telat mens?


Lagi aku berfikir.


Tidak ada salahnya juga aku melihatnya kan? Mbah google tidak akan cerewet seperti mulut mama atau tetangga, yang akan membuatku malu.


Beberapa artikel aku baca. Gejalanya hampir mirip dengan penyakit lambung dan....hamil!


Kali ini aku memilih angkot untuk pulang.


Aku turun di sebuah tempat. Apotek!


Walaupun aku mensugesti diriku hanya asam lambung, tapi aku juga merasa penasaran! Mudah-mudahan saja memang hanya penyakit lambung!


Malu sebenarnya, dan aku sengaja memilih apotek yang sepi. Hanya ada dua orang yang menunggu di kursi.


Dengan ragu aku mendekat ke arah apoteker. Dan bicara sedikit berbisik.


"Mbak, mau cari testpack."


"Mau yang mana mbak? Yang bagus atau yang biasa?" tanyanya ramah


"Emm, yang..." Aku bingung!


"... beli beberapa deh mbak, takut salah. Pesanan kakak soalnya!" dustaku. Ah aku sudah ahli berbohong sekarang!


Wanita berambut pendek itu tersenyum ramah padaku entah apa artinya tapi sorot matanya memindai aku dari atas ke bawah dan sebaliknya, aku jadi malu sendiri!


Entahlah! Apa hanya aku yang membeli barang seperti ini dengan seragam SMA? Apa yang orang lain fikirkan tentangku nanti?


Ah sudahlah!!


Aku mengeluarkan selembar uang kertas merah, dan tak lama menunggu uang kembalian pun aku terima.


"Di pakainya saat pagi ya mbak, biar akurat. Mbak tau caranya kan?"


Tubuhku kaku. Rasanya aku ingin sekali menenggelamkan diriku ke dalam tanah. Apalagi saat orang lain menatapku.


"Ini buat kakak saya, mbak! Trimakasih!" ucapku lalu secepatnya pergi dari sana.


Aku malu. Aku malu!!


Di luar apotek aku memasukkan plastik tersebut ke dalam tas sekolah. Lalu melanjutkan perjalananku dengan menggunakan angkot.


*


Aku termenung melihat benda pipih kecil di tanganku. Dua garis merah. Itu artinya aku... Sialan!


"Pasti ini salah! Aku akan coba lagi besok" ucapku.


Keesokan harinya aku kembali memakai benda pipih itu. Sama!


Aku menghembuskan nafasku. Kesal, bingung, marah, dan entahlah aku merasa lelah!


Ku baringkan tubuhku di atas kasur. Rasanya malas untuk pergi kesekolah padahal aku sudah pakai seragam.


Tok-tok.


"Anye, ini sudah siang!" suara kak Mel.


"Iya, kak. Masih pake baju!" seruku. lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam laci bersama dengan dua buah yang lainnya yang sudah aku pakai kemarin!


Aku duduk di meja makan dan lebih memilih roti dengan selai stroberi. Devan akhir-akhir ini sering sarapan di rumah kami.


"Tumben Anye, biasanya selai coklat!" kak Mel berujar, Mama dan Devan ikut menatapku, sedangkan papa, jangan di tanya!


"Lagi pengen!" ucapku, aku sendiri tidak tahu kenapa ingin selai merah itu. Kami makan dengan diam. Aku memalingkan wajahku ke samping, tapi aku tahu Devan diam-diam menatapku.