
Selesai dengan ujian. Aku berkumpul dengan teman-temanku sambil menunggu Devan menjemput. Kami duduk di kantin memesan makanan. Aku seperti biasa bakso jumbo! Umm...Yummy.
"Gimana tadi malam, Nye? Pasti seru!" pertanyaan Nayara membuat aku tersedak. Sakit. Aku melotot menatap Nayara sambil minum air mineral yang tadi ku beli. Meskipun cuma kalimat singkat tapi aku tahu apa yang ia maksud.
"Ih elo nanya kayak gituan lagi." Sofia menyikut lengan Nayara. "Berapa kali?" beralih padaku, mata Sofia dengan sorot ke-kepo-an luar biasa.
"Ish kalian ini sama aja!" Nanda menatap Sofia dan Nayara bergantian, "Tentu lebih dari sekali lah!"
"Hahaha." ketiganya tertawa terbahak. Dasar somplak!
"Ih kalian ini!!!" aku menggeram dengan gigi yang tertutup rapat. Malu dan marah, karena telah membuatku tersedak. Lalu ketiganya terdiam dan menatapku tajam.
"Apa?!" tanyaku. Lalu menyeruput kuah bakso.
"Cerita dong!" jiwa kepo Nayara bangkit, begitu juga dengan yang lainnya.
"Kalian belum cukup umur! Jadi gak usah tanya-tanya kayak gituan, nanti pengen lagi!" ucapku tanpa mempedulikan ketiganya.
"Ish kan cuma nanya, Nye!" Nayara bersungut kesal. "Lagian disini yang belum pegang KTP kan elu doang! Sok bijak, lu!" memukul lenganku. Lagi, aku di tertawakan oleh mereka. Ya sudahlah, terserah mereka.
"Anyelir!!!" teriak Nayara dengan kencang hingga membuat telingaku berdengung.
"Apa sih?" tanyaku sambil menggosok telingaku yang pengang.
"Ih gak di jawab juga!"
"Apa?"
"Itu yang tadi!"
"Yang mana?" masih dalam mode pura-pura.
"Masa gue harus nanya yang jelas soal semalam?!" Nayara menggeram kesal.
"Kalau gue bilang gak ngapa-ngapain kalian percaya gak?" tanyaku balik lalu memasukkan lembaran mie ke dalam mulutku.
"Haha, elo gak ngapa-ngapain, tapi di apa-apain!" Bisik Nayara sambil menutup mulutnya dengan satu tangan, tapi masih bisa jelas kami dengar. Wajahnya memerah saat mengucapkan kalimat itu. Mereka tergelak. Ya ampun, ternyata selain kepo dan terkadang sedikit lemot, tapi otak mesumnya juga aktif di saat seperti ini! Lagi-lagi menertawakan. Dasar!
"Tuh kan kalian gak percaya, jadi gue rasa percuma juga kasih tahu kalian!" lagi memasukkan bulir bakso kecil ke dalam mulutku.
Mereka berhenti tertawa, melirikku bersamaan.
"Serius?!" tanya ketiganya serempak. Aku mengangguk, masih sibuk mengunyah hingga tidak bisa bicara.
"Masa sih elo di anggurin? Kan biasanya kalau malam pertama itu langsung..."
"Devan gak mau aku capek, apalagi masih ujian. Takut aku gak bisa konsentrasi!" ucapku memutus ucapan Nanda.
"Uhh... so sweet!!" Nayara dan Sofia bersamaan, dengan kedua tangan terkepal di bawah dagunya. Wajah mereka terlihat menggelikan. Sedangkan Nanda sudah tahu sedikitnya sifat Devan dariku.
Suara riuh terdengar dari luar, di susul dengan para siswa yang berlarian keluar dari area kantin, seketika kantin yang tadinya hampir penuh kini hanya beberapa orang saja termasuk kami.
"Ada apa sih?" tanyaku heran, masih sibuk mengunyah makanan.
"Telen dulu, baru nanya!" peringat Nanda.
"Hehe, sory. Habisnya mereka pada lari gitu. Kayak lihat artis aja!" cibirku lalu menelan makanan yang masih bulat.
"Gak tahu."
"Ada artis kali!" Sofia kembali duduk. Todak dengan Nayara yang masih penasaran. Aku melanjutkan acara makanku masih banyak tersisa beberapa butir bakso kecil, dan bakso jumbo dengan isian cabe dan sambal di dalamnya yang tinggal setengah lagi.
Telfonku berdering. Devan.
"Iya?" Masih mengunyah makanan.
'Kamu dimana?"
"Di kantin."
'Aku ada di depan sekolah kamu.'
"Hah, di depan sekolah?" untung saja tidak tersedak lagi. Apa mungkin tadi mereka berlari karena...
'Cepatlah Anye, keluar. Disini sudah mulai ramai!'
"Hah?? Iya aku keluar sekarang!"
Aku bangkit meninggalkan makananku yang tinggal separuh, sayang sebenarnya karena masih ingin makan, tapi Devan terdengar dengan nada tidak suka.
"Kemana Nye?" tanya Nanda. Sofia dan Nayara menatapku heran.
"Devan di depan."
"Oh pantas saja. Mereka heboh, ada artis dadakan!" Sofia tergelak. "Ya sudah sana. Pulang." usirnya.
Aku melotot. "Mumpung masih siang, sana pulang. Jangan sampai gagal siang ini. Biar nanti malam bisa fokus belajar. Hahaha..!"
"Somplak lo!" menoyor kepala Sofia. Bukannya marah Sofia malah meledek.
"Ciee, cieee. Yang mau... ehemm ehemmm... aduh suara gue ilang. Ehemmm..Ehmmm..." Dasar Sofia!!! Membuat yang lainnya juga tersipu merah di pipinya.
"Gue pulang duluan ya. Ini titip." pamitku sambil mengeluarkan uang untuk baso dan minuman yang ku pesan tadi, lalu tanpa menunggu lagi setengah berlari ke luar gerbang sekolah.
Devan sedang berdiri di depan mobilnya dengan bersandar di kap mobil sportnya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku. Dia memakai celana jeans, kaos putih pas badan hingga memperlihatkan otot tubuhnya, dan tak lupa kacamata hitam. Kenapa dia semakin tampan? Apa dia sengaja dengan rambut berantakan seperti itu.
Para siswi berdiri berkerumun tak jauh dari Devan. Mereka saling berbisik, memuji dan mengagumi pria itu. Tatapan mereka enggan lepas dari sosok yang kemarin malam menjadi suamiku. Apa dia sengaja tebar pesona?!
Seketika suara-suara yang bergaung itu semakin hening saat aku mendekat ke arah Devan. Diiringi tatapan heran dari yang lainnya, apalagi teman sekelasku.
Devan tersenyum, lalu mengacak rambutku setelah aku tepat berada di depannya.
"Kamu ngapain sih kesini? Bikin heboh aja! Tuh lihat, jadi perhatian semua murid kan?" tanyaku kesal sambil merapikan rambutku."
"Memangnya kenapa? Aku cuma mau jemput istriku!" membelai wajahku dengan punggung tangannya.
"Stop Dev. Jangan berlaku seperti ini, ini masih area sekolah!" aku menepis tangan Devan, bisa-bisanya dia seperti ini dan kembali membuat heboh satu sekolah. Devan terkekeh. "Lagian kamunya gak kerja gitu jam segini jemput aku?"
Devan membuka pintu mobil segera aku masuk ke dalamnya. Di luar masih ramai oleh para siswi yang mengikuti Devan dengan pandangannya sebelum masuk ke dalam mobil. Tatapan penuh minat.
"Kamu sengaja mau tebar pesona?" tanyaku kesal saat Devan baru saja mendudukan dirinya di belakang kursi pengemudi.
"Kamu cemburu?" Mulai menyalakan mobil.
"Siapa yang cemburu? cuma gak suka aja kamu bikin heboh disini."
"Sama saja. Akui saja kalau kamu cemburu!" ucapnya tersenyum senang. Mobil pun melaju mulai membelah jalanan.